Kenangan Ramadhan di Beijing, Berpuasa Lebih Lama Waktunya

oleh -220 kali dibaca
Muslim Market di Niu Jie, Beijing, China. (foto: discover china tour)

Beijing – Berpuasa di negeri minoritas Islam seperti di China merupakan tantangan tersendiri. Selain sepi dari suara sholat tarawih dan tadarus dari menara masjid, juga aktivitas kehidupan tak ubahnya hari hari biasa di Indonesia. Nyaris seperti bukan sedang di bulan Ramadhan.

Namun tak berarti  “roh” berpuasa di bulan Ramadhan hilang begitu saja. “Roh” Ramadhan bisa kita temukan di kawasan Masjid Niujie (artinya Sapi-red) , sebuah masjid tertua di China di Distrik Xuanwu di tengah Kota Beijing.

Untuk diketahui, Masjid Niu Jie dibangun pada 996 dan sampai kini menjadi pusat komunitas umat Islam di Beijing yang jumlahnya sekitar 300 ribu orang. Khusus di Niu Jie ada sekitar 24.000 warga muslim yang tinggal di daerah ini.

Saya mencapai kawasan ini menggunakan bus angkutan umum dari hotel untuk melaksanakan sholat Jumat berjamaah.

Kawasan Masjid Niujie ini mayoritas dihuni oleh warga dan pedagang Muslim China. Disinilah umat Muslim Beijing membeli kebutuhan sehari hari.Karena produk yang dijual adalah produk halal. Di bulan Ramadhan, semakin sore semakin ramai umat Muslim Beijing mencari takjil makanan berbuka.

Tidak sulit sebenarnya menemukan produk halal di Beijing asal kita tahu dimana lokasinya.

Seperti disini, persis seberang masjid terdapat dua pusat perbelanjaan halal, salah satu yang terbesar adalah Muslim Market. Jangan bayangkan seperti pusat perbelanjaan mall. Muslim Market berdiri di sebuah bangunan tua yang bertingkat. Seperti bangunan di kawasan Jalan Kesawan Medan. Rata rata bangunan di sekitar masjid memang bangunan tua.

Di dalam Muslim Market yang berlantai dua, di lantai bawah menjual barang barang kebutuhan dan semuanya halal. Khusus di lantai atasnya food market yang menjual berbagai masakan halal yang bisa disantap di lokasi sebagaimana lazimnya kita pesan makan di food court di Indonesia.

Tidak jauh dari situ terdapat juga sebuah mini market halal tetapi tidak ada food marketnya dan waktu saya datang relatif tak seramai Muslim Market.

Selain supermarket khusus Muslim, di kawasan ini juga kita temukan penjual daging baik sapi maupun domba. Setidaknya ada sekitar lima rumah toko yang menjual daging mentah sapi dan domba.

Ada yang unik, tempat menjual daging ini bukan di tepi pasar,atau di kaki lima melainkan di dalam toko. Para penjualnya mengenakan kopiah lobe putih. Di samping penjual daging, di sini juga ada toko penjual kue kue, kacang kacang dan roti untuk berbuka puasa.  Selepas sholat Jumat, pembeli  tampak antri di depan toko kecil tersebut.

Saya yang menginap di Zhaolong Hotel, hotel di kawasan yang jauh dari sini ( 1 jam perjalanan bus) merasa beruntung sekali akhirnya bisa sampai kemari setelah tiga hari di Beijing dan stok makanan dari Medan sudah hampir habis. Padahal masih tiga hari lagi saya di ibukota China ini dalam rangka traveling.

Jangan heran jika sayapun kalap belanja untuk stok selama di Beijing. Mulai memborong mie instant halal produk China yang berlabel halal dari lembaga halal Islam China, juga membeli telur rebus, kue-kue dan roti, kebab di food marketnya, dan tak ketinggalan juga membeli kopiah lobe khas Muslim China. Ada yang berwarna hitam seperti kopiah di Indonesia tetapi bentuknya oval mirip dengan buatan Turki. Ada juga yang lobe putih dengan tulisan Arab di sisi kiri dan kanan yang saya jadikan oleh oleh setelah kembali ke Medan.

Adanya food market Muslim dan toko-toko makanan halal di Beijing ini sangat membantu kita yang Muslim dan sedang berpuasa. Tadinya saya hampir hopeless karena tidak menemukannya.

Oya, masa berpuasa di Beijing lebih lama sekitar tiga jam dari di Indonesia, khususnya di Medan. Kebetulan saya ke Beijing saat musim panas baru mulai waktu itu, pada bulan Mei, ternyata lebih cepat siangnya dan lebih lama malamnya. Untuk sahur sekitar pukul 2 an dinihari karena waktu sholat Subuh di Beijing pukul 03 an pagi waktu lokal. Adapun waktu berbuka atau Magrib jam 19.00 lewat hampir jam 19.30.

Sebenarnya Niu Jie bukanlah kawasan Muslim satu-satunya di Beijing. Ada lagi kawasan Changying District yang disebut sebut lebih besar jumlah penduduk Muslimnya dibanding Niu Jie. Namun saya belum sempat kesana. Bagaimanapun, menemukan Niu Jie saja sudah sangat disyukuri dan merupakan anugrah Allah SWT yang tak terhingga. Insya Allah, suatu waktu nanti saya berharap bisa kembali lagi ke Beijing dan mampir ke Changying.

okemedan/Putra

 

 

 

 

 

Berikan Komentar