Di Kota Phnom Penh Kamboja, Tanda Lampu Merah Juga Dicueki

oleh -127 kali dibaca
Di Phnom penh, ibukota Kamboja, Semua pengendara beradu cepat dan tidak mengindahkan peraturan lalu lintas.

OkeMedan-Phnom Penh. Lalulintas di Kamboja sudah terkenal ekstrim. Semua pengendara seolah berlomba cepat. Walhasil, lampu merah yang seharusnya menjadi tanda berhenti pun dicueki. Mirip di Kota Medan, bukan?

Di ibukota Kamboja, Phnom Penh,  pengendara harus menggunakan jalur di sebelah kanan seperti di kebanyakan kota di negara Eropa. Terbalik dengan di Indonesia dimana kebiasaannya adalah di jalur kiri dan kendaraan dari depan di sebelah kanan. Sama hanya seperti di Ho Chin Minh – ibukota Vietnam juga di sebelah kanan dan kendaraan dari depan di kiri.

Keberadaan lampu pengatur lalu lintas di Phnom Penh seolah tak dianggap. Tak ubahnya bila di Kota Medan saat persimpangan tidak dijaga polisi lalu lintas. Tanda berhenti merah pun diterobos.   Parahnya, dari semua sudut. Yang dari kiri mau ke kanan, yang dari kanan ke kiri, yang depan belok kiri belok kanan, waw…meriah.

Dalam hal mengenakan helm pun pengendara sepeda motor di Kamboja banyak tidak patuh. Banyak yang mengendarai sepeda motor tanpa helm, lebih banyak lagi yang dibonceng tanpa helm. Berkendaraan tartig- alias tarik tiga di atas sepeda motor merupakan pemandangan biasa di ibukota Kamboja. Begitu pula urusan memotong dari sebelah kiri. Tapi Anda boleh percaya boleh tidak, uniknya, walaupun banyak sekali sepeda motor yang saling melintas, memotong di persimpangan  dan bahkan melawan arah alias masuk ke jalur kita, namun jarang sekali terjadi kecelakaan lalu lintas.

Mengapa bisa demikian? Menurut seorang warga Phnom Penh, Sopanha kepada okemedan.com yang bertandang ke sana beberapa waktu lalu, salah satu “kunci sukses”nya adalah suara klakson. Hampir semua pengendara sepeda motor tak ubahnya seperti di Kota Medan, suka sekali membunyikan klakson. Setiap ketemu simpang empat apalagi simpang enam, semua sibuk tet tot tet tot.

Bagaimana halnya kemacetan lalu lintas di Kota Phnom Penh? Wah luar biasa. Selain karena banyak sekali sepeda motor, juga akibat tidak disiplin para pengendara dan pengemudi.  Namun belakangan kemacetan mulai berkurang setelah pemerintah setempat menyediakan angkutan bus kota di tiga jalur yang rawan kemacetan dan kepadatan lalulintas. Bus ini melayani tiga jalur utama yaitu jalur Norodom, Monivong dan  dari Pasar Malam ke kota Takhmao di Kandal; jalur Monivong dari Russey Keo Khan ke National Road 1, dengan berhenti di distrik Meanchey dan pasar Prek Eng; dan jalur ketiga berangkat dari tujuan Pasar Dekat ke komune Chum Chao, distrik Dangkoa. Bus bus ini terus berjalan tanpa menunggu sampai penuh di pemberhentian.

Konon, sejak ada bus kota sekitar lima tahun lalu, kemacetan menurun 30 persen. Tapi perkara disiplin lalu lintas? Ternyata belum bayak berubah. Jadi, jangan kaget ya kalau ke Phnom Penh melihat meriahnya suasana lalu lintas terutama pada jam jam sibuk.

OM-poetra

Berikan Komentar