OkeTekno

Google Umumkan 219 Lulusan Program Bangkit, Ini Empat Ide Terbaik dari Peserta

JAKARTA | okemedan. Sebanyak 219 lulusan program Bangkit telah diwisuda. Program Bangkit adalah pelatihan digital dari Google untuk anak muda Indonesia dan menjadi salah satu wadah bagi para pesertanya untuk mengembangkan ide dan kreativitas mereka.

Meski sudah sering mengadakan pelatihan developer sebelumnya, program kali ini fokus untuk menghadirkan talenta digital berkualitas untuk diserap oleh perusahaan teknologi.

Program Bangkit ini diikuti 300 peserta dan dimulai enam bulan yang lalu. Setelah mengikuti pelatihan intensif.

“Selama enam bulan, lulusan kami diminta untuk berpartisipasi aktif dalam 160 lokakarya interaktif, menerima masukan mengenai 36 tugas dan bekerja secara kolaboratif dalam proyek akhir,” kata Senior Program Manager Education Google William Florance dalam acara kelulusan program Bangkit, Rabu (9/9/2020).

Tugas akhir berupa proyek pengembangan sebuah aplikasi secara berkelompok. Pada angkatan 2020 ini, terpilih empat kelompok dengan proyek terbaik yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar.

Aplikasi Aksara Jawa

Kelompok asal Jakarta yang terdiri Ray Antonius (22), Laode M. Fauzan (22), dan Fiona Vidra (25) merupakan  proyek terbaik pada program Bangkit melalui aplikasi Aksara Jawa. Aplikasi ini dirancang dengan harapan dapat mengembalikan minat masyarakat Indonesia dalam mengenali beragam bahasa daerah di Indonesia yang perlahan mulai terlupakan.

Aplikasi Pengemudi tetap Fokus

Joko Eliyanto (26), Muhammad Dany Alfikri (23), dan Kadhana Reya Wisinggya (22) ketiganya adalah mahasiswa yang mengikuti program Bangkit cohort Yogyakarta. Mereka menciptakan aplikasi Distracted Driver Detector, sebuah aplikasi yang akan membantu pengemudi tetap fokus saat menyetir kendaraan.

Aplikasi ini dibuat berangkat dari keresahan ketiganya melihat angka kecelakaan di Indonesia yang jumlahnya semakin bertambah, diantaranya adalah kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian pengemudi. Kelalaian tersebut salah satunya disebabkan oleh pengemudi yang tidak fokus ketika berkendara.

Aplikasi Ingredients Classification dari Bandung

Daniel Alexander, Natasha Yulian, Rizvan Dwiki Firdaus, dan Rizal Dwi Prayogo membuat aplikasi Ingredients Classification sebuah aplikasi yang akan membantu penggunanya mendeteksi bahan makanan dan merekomendasikan resep masakan dari bahan makanan yang dimiliki.

Garbage Image Classification dari Bali

Dari Bali, Fatma Janna (28), Putri Cinto Buliah M. Eza (22), Yohanes Perdana Putra (30), dan Julius Sintara (22) memutuskan membuat Garbage Image Classification, sebuah sistem untuk mengelompokkan dan mengolah sampah menggunakan metode machine learning.

Dengan menggunakan Garbage Image Classification, masyarakat cukup membawa sampah ke mesin daur ulang yang berbentuk seperti reverse vending machine atau from trash to cash, nantinya bisa di pasang di pemukiman warga atau tempat umum. Lalu, secara otomatis mesin akan mengklasifikasikan sampah, sehingga ketika sampah dihantarkan ke pusat daur ulang, sampah sudah rapi terpilah dengan baik dan bisa mengurangi biaya pengolahan sampah daur ulang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Nizam menyambut baik hasil program Google ini. Ia mengatakan program ini sangat membantu memenuhi kebutuhan talenta digital Indonesia yang diperkirakan akan tumbuh hingga 250.000 orang dalam lima tahun ke depan.

“Saya sangat berharap program Bangkit ini bisa kita scale up, bisa kit skalakan ke ukuran yang lebih besar sehingga kebutuhan 250.000 hingga 500.000 talenta digital untuk menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital itu bisa kita penuhi, bisa segera kita iosiu,” ujarnya.* OM-nta

 

 

 

 

 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button