OkeStyle

Ini Kesalahan dalam Menyimpan Uang

Medan | okemedan. Setiap orang pasti ingin melakukan penghematan dengan berbagai cara, baik menabung, mengubah gaya hidup, dan lain sebagainya. Tujuannya tentu untuk menyimpan uang bahkan bisa mencapai kemandirian finansial di masa mendatang. Namun, tanpa disadari banyak yang melakukan kesalahan dalam menyimpan uang. Alih-alih berhemat, tetapi justru harus mengeluarkan uang yang lebih besar.

Menyimpan uang harus cerdas agar tujuan dari penghematan tercapai. Tak harus menyengsarakan diri dengan menahan segala keinginan dan salah dalam memilih segala yang dibutuhkan demi menghemat uang. Anda harus cerdas dan cermat dalam mengatur uang dan menyimpannya. Berikut kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam menyimpan uang seperti dilansir oleh simulasikredit.com.

Menyimpan seluruh uang dalam satu akun tabungan
Menyimpan uang untuk menghemat bukan berarti harus menyimpan seluruh uang Anda dalam akun tabungan yang sama. Sebab, hal ini justru berisiko menimbulkan masalah. Pertama, tanpa disadari Anda akan terdorong untuk menghabiskan uang seharusnya disimpan. Anda merasa memiliki uang dalam tabungan, sehingga Anda akan selalu tergoda untuk membelanjakannya seluruhnya, termasuk bagian yang seharusnya tetap berada di dalam tabungan.

Sementara masalah kedua yang mungkin timbul adalah risiko kerugian semakin tinggi. Hal ini bisa juga berlaku untuk penyimpanan uang dalam bentuk investasi. Sebab, tak menutup kemungkinan Anda akan kehilangan semuanya. Untuk itu, bedakan akun tabungan untuk biaya hidup sehari-hari dengan akun tabungan yang berfungsi sebagai simpanan atau investasi.

Memilih produk investasi yang tidak dipahami
Investasi memang menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyimpan uang baik dalam jangka pendek maupun panjang. Ada banyak jenis investasi, mulai dari reksa dana, obligasi, hingga saham. Berinvestasi memang dianjurkan, namun kebanyakan orang tidak memahami produk investasi yang dipilih. Ini jelas merupakan kesalahan.

Memilih produk investasi tanpa memahaminya, Anda tidak akan tahu cara bermainnya, besar kecil tingkat pengembaliannya, apalagi risiko kerugian yang mungkin ditanggung ke depannya. Sebab itu, pastikan Anda pahami dulu produk investasi yang akan dipilih. Cari informasi sebanyak-banyak, dan jika perlu konsultasikan dengan penasihat keuangan.

Membeli dalam jumlah besar
Banyak orang berpikir bahwa belanja atau membeli barang secara grosir dalam jumlah banyak lebih hemat dan menguntungkan, karena harga per unit barang menjadi lebih murah. Hal tersebut memang benar, tapi tidak selalu tepat. Benar bagi Anda yang mengolah atau mengonsumsi semua barang tersebut. Namun, bagi Anda yang hanya mengolah atau mengonsumsi sebagian kecil saja, maka pembelian dalam jumlah banyak tidaklah tepat, karena justru bisa menghabiskan lebih banyak uang.

Misalnya untuk konsumsi sehari-hari, Anda membeli wortel 5 kg sekaligus untuk mendapatkan total harga yang lebih murah. Jika seluruh wortel tersebut diolah sebagai bahan baku makanan yang akan dijual kemudian, maka Anda bisa benar-benar melakukan penghematan. Namun, apabila Anda hanya menggunakannya maksimal 2 buah saja, maka sisanya akan berpotensi rusak atau buruk sehingga tidak layak konsumsi. Lebih lanjut, sisa wortel tersebut hanya akan berakhir di tempat sampah. Artinya, Anda justru gagal menghemat.

Sering mengonsumsi makanan cepat saji
Makanan cepat saji harganya cenderung lebih murah dibandingkan dengan menu makanan lainnya. Kebanyakan orang memilih menu makanan cepat saji umumnya dengan alasan tersebut. Mereka merasa sayang untuk mengeluarkan banyak uang untuk makanan yang lebih mahal, meskipun lebih sehat karena kandungan nutrisinya lebih lengkap.

Terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji justru berisiko terhadap gangguan kesehatan seperti obesitas dan penyakit lain yang berkaitan dengan diet tinggi lemak. Jika penyakit tersebut menyerang, bukan tidak mungkin Anda justru harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya medis dan pengobatan.

Tergiur program promosi
Promosi dilakukan dengan satu alasan, yakni agar Anda membeli produk tersebut. Banyak yang tidak menyadari akan jebakan promosi ini. Anda akan menjadi lebih konsumtif dan loyal untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Jika Anda tergiur dan membeli produk promo, padahal Anda tidak membutuhkannya, lantas di mana letak hematnya?

Anda harus cermat dalam menyikapi program promosi yang digelar pada momen tertentu. Ada banyak promo yang ditawarkan, mulai dari beli satu gratis satu bahkan diskon hingga 80%. Apalagi jika untuk mendapatkan program promo Anda harus melakukan registrasi sebagai anggota lebih dulu, Anda harus lebih hati-hati. Bahkan jika perlu, Anda menolaknya. Sebab, Anda bisa saja dikenai biaya keanggotaan setelah periode promo berakhir.

Terlalu mengandalkan diri sendiri untuk melakukan segala sesuatu
Hidup tak semulus jalan tol, kadang ada saja hambatan yang harus dihadapi terkait dengan gangguan atau kerusakan seputar rumah. Sebut saja atap rumah bocor, pompa air ngadat, peralatan elektronik rusak, dan lain sebagainya. Jangan berpikir segala sesuatu bisa Anda kerjakan sendiri, terlebih jika Anda tidak memiliki pemahaman tentang hal tersebut. Akan jauh lebih baik dan hemat, apabila Anda menyerahkan kepada ahlinya.

Ketika atap rumah bocor atau mengalami kerusakan lain, sebaiknya Anda panggil tukang untuk memperbaikinya. Demikian pula dengan peralatan elektronik yang rusak, serahkan pada teknisi yang lebih paham. Sebab, jika Anda memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya sendiri demi untuk menghemat, bisa jadi justru pemborosan yang terjadi, karena kerusakan yang ditimbulkan akan semakin parah.

Membeli barang dengan harga yang paling murah
Ada harga, ada kualitas. Agaknya jargon tersebut penting untuk diperhatikan meski Anda dalam rangka penghematan. Membeli barang dengan harga yang paling murah tak selalu membawa kesuksesan dalam berhemat. Alih-alih menyimpan uang lebih banyak, Anda justru bisa menghabiskan uang lebih banyak.

Misalnya saja, dalam hal perawatan mobil, Anda memilih oli yang paling murah harganya. Anda hanya berfokus pada efisiensi pengeluaran, tetapi abai pada kualitas barang. Efisiensi yang salah kaprah justru akan merugikan Anda dalam jangka panjang. Dengan oli harga murah, kemungkinan tidak akan awet untuk mesin mobil Anda, sehingga memaksa Anda untuk mengeluarkan biaya perawatan bahkan perbaikan lebih banyak dari yang dianggarkan. Demikian pula dengan peralatan elektronik. Dengan membeli yang sedikit lebih mahal tetapi berkualitas, justru akan dapat menghemat uang Anda lebih banyak, karena barang awet sehingga Anda tak perlu membeli yang baru dalam waktu singkat.

Sering menyewa mobil
Bagi sebagian orang, menyewa mobil mungkin dinilai lebih hemat dibandingkan dengan membeli mobil, apalagi secara kredit. Mengapa? Dengan menyewa, Anda tidak perlu terbebani dengan biaya perawatan rutin, pajak, biaya bensin, dan lain-lain. Hal tersebut bisa jadi benar, jika intensitas penggunaan mobil tidak terlalu sering alias jarang.

Lain halnya jika intensitas penggunaan mobil yang Anda butuhkan tinggi. Artinya Anda terlalu sering menyewa mobil, tentu bukan pilihan yang bijak terkait dengan upaya penghematan untuk menyimpan lebih banyak uang. Membeli mobil dinilai lebih hemat dibandingkan menyewa.

Dengan menyewa mobil berarti Anda tidak akan pernah memiliki mobil sendiri yang menunjang aktivitas dan mobilitas Anda. Namun, jika Anda membeli mobil, meski secara kredit, maka ketika waktu pelunasan tiba, sesudahnya mobil tersebut akan menjadi milik Anda seutuhnya. Artinya, Anda memiliki hak atas mobil tersebut. Anda bisa menjualnya atau tetap menggunakannya untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Membeli barang bekas
Diakui atau tidak banyak orang yang gemar membeli barang-barang bekas. Alasannya sederhana, yakni harganya lebih murah. Masuk akal, tetapi hal ini bisa menjadi suatu kesalahan dalam upaya menyimpan uang atau melakukan penghematan.

Harga barang yang lebih murah tidak pernah menjadi pilihan terbaik, apabila Anda tidak dapat menilai dengan baik kondisi atau kualitas barang tersebut. Misalnya saja, membeli mobil bekas yang telah melalui pemeriksaan atau pengecekan oleh mekanik profesional tentu saja menjadi ide yang bagus. Namun, membeli barang bekas tanpa kemampuan melakukan verifikasi kualitasnya, tentu saja merupakan sebuah ide buruk.*

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button