OkeBudaya

Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia Hadir Melahirkan Insan yang Berkualitas

Medan | okemedan. Sepatutnya generasi Melayu tidak perlu malu untuk menjadi orang yang terkemuka. Sejatinya, melayu merupakan penentu kejayaan bangsa bangsa Indonesia.

“Sumbangan yang tidak akan pernah hilang sampai saat ini adalah bahasa persatuan Indonesia yang berakar-rumput dari bahasa Melayu. Hadirnya peci nasional yang menjadi penutup khas kepala para petinggi di negara ini juga berdasarkan keinginan Ir Soekarno yang justru terinspirasi dari songkok melayu,” ujar Ketua Majelis Pembina Rumah Cendekiawan Melayu Khairuddinsyah kepada wartawan, di Anjungan Melayu Jalan Setia Budi Medan, Kamis (17/9/2020).

Bahkan, katanya, peran para pedagang Melayu menghidupkan kondisi perekonomian masyarakat menjadi catatan historis bahwa orang melayu adalah orang yang sangat cerdas.

Belum lagi cendekiawan-cendekiawan melayu yang justru memiliki peran besar di negara ini.

Pertemuan dengan dewan pakar dan Pembina Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia.

“Justru sekarang ini, keunggulan-kunggulan tersebut mulai hampir tidak dapat dirasakan. Turunnya semangat untuk menempuh pendidikan, bahkan putusnya pendidikan yang kemudian berakar rumput menjadi penyebab mundurnya moral-moral generasi muda Melayu,” katanya.

Namun demikian, lanjut Khairuddinsyah, saat ini hadir di tengah Kota Medan Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia yang siap melahirkan dan mengembalikan kejayaan generasi-generasi Melayu dalam membangun kehidupan berbangsa.

Program ini, lanjut Khairuddinsyah, sangat didukung oleh tokoh-tokoh Melayu yang ada di Kota Medan yang rindu lahirnya orang-orang melayu yang dapat bersaing hingga ke kancah Internasional.

Ist

Ini dibuktikan kehadiran Rumah Cendekiawan Melayu yang merupakan ide cemerlang dari Bachtiar Djafar.

Bachtiar Djafar menilai Rumah Cendekiawan Melayu sebagai sumber inspirasi dan tempat pengkaderan generasi-generasi Muda Melayu yang nantinya lahir sebagai cendekiawan Melayu.

“Makanya, Anjungan Melayu ini adalah hasil sebuah prakarsa beliau untuk pembinaan SDM generasi Melayu yang berkualitas. Kita akan persiapkan generasi-generasi muda melayu menjadi SDM yang memiliki moral yang baik, kualitas intelektual yang baik serta unggul profesional serta dapat bersaing dikancah nasional maupun internasional,” tutur Khairuddinsyah.

Selain itu Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia ini, jelas Khairuddinsyah, akan melahirkan cendekiawan-cendekiawan melayu sebagai insan madani yang memiliki jiwa kepemimpinan, unggul dalam prestasi, profesional dalam berkontribusi mewujudkan peradaban Indonesia yang lebih baik.

Saat ini sudah ada 20 orang mahasiswa-mahasiswi yang mengikuti program ini yakni selama setahun di Asrama pembinaan, pendampingan Softskill selama dua tahun dan program magang pasca kampus.

“Persentase program pembinaan tahunan yakni 40% Mentoring, 30% Training dan 30% Choaching, dengan rincian Youth Leadership Training, pengabdian masyarakat, research Project, pentas Budaya. Sedangkan program bulanan Madrasah Tamaddun (Islam Kontemporer/ Ke-Melayu-an/ Wawasan Indonesia), Tahsin Al-Qur’an, Inspiring Millenial Talks “Satu Jam Lebih Dekat dengan Tokoh”, Sekolah Intelektual Muda dan program sepekan monitoring dan Evaluasi, silat, Be Amazing Muslimah (Khusus Perempuan), public Speaking, desain Grafis, writer, speaking English serta program harian yakni tahfidz Qur’an, mutaba’ah Yaumiah,” jelas Khairuddinsyah.

Sementara pada kesempatan itu, 20 mahasiswa-mahasiswi yang telah mengikuti program Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia memeroleh motivasi dari tokoh-tokoh Melayu seperti Drs Ansari Yamamah MA, Drs Milhan Yusuf MA, Drs Hasbullah Jafar MA dan Lukmanul Hakim SH.

Ansari Yamamah yang juga Dewan Pakar Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia menyampaikan motivasinya kepada mahasiswa-mahasiswi melayu mengharapkan generasi Melayu mampu menunjukkan kepada dunia bahwa orang-orang Melayu hebat.

“Kita berharap kader-kader Melayu ini kuliah di berbagai universitas luar negeri seperti di London, Kanada, Belanda bahkan Amerika akan bersekolah berkuliah di London Eropa,” sebutnya.

Maka itu dia berharap Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia ini tempat penggemblengan kader-kader Melayu agar ke depannya menjadi tokoh-tokoh Melayu yang hebat.

“Siapkan kemampuan akademik sesuai dengan keahlian masing-masing. Tanamkan diri kita menjadi orang besar, paling tidak di keluarga kita. Kuasai bahasa dan wajib berbahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab serta tanamkan nilai persaudaraan, agama dan tetap pada nilai kebangsaan, menghargai pluraritas, pemimpin, tokoh, ulama, jangan melihat sana sini berbagai persoalan yang berkembang, harus disaring informasi dalam rangka menjaga keutuhan negara, karena melayu komit terhadap perjuangan dan berkorban bangsa ini,” harapnya.

Anggota Dewan Pakar Drs Milhan Yusuf MA menyebutkan era globalisasi menujukkan perkembangan dunia yang tak bisa dihindari terutama dalam menguasai teknologi.

“Kita hanya menguasai 15 persen perekonomian, sisanya 85 persen orang asing. Maka itu teruslah belajar dan berdiskusi agar kita bisa maju,” ujarnya.

Sementara Direktur Eksekutif Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia Muhammad Wahyu Hidayat mengatakan program asrama selama setahun berfokus bagaimana lahir sebagai insan insan yang berkarakter madani, unggul, professional dan berkualitas.

20 mahasiswa-mahasiswi Melayu yang lulus dalam seleksi untuk mengikuti program ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Sumut antara lain USU, UMSU, UINSU, Pancabudi dan Polmed.

Menurutnya Rumah Cendekiawan Melayu Indonesia ini penting guna mempersiapkan genarasi-generasi muda melayu menjadi SDM yang memiliki moral yang baik, kualitas intelektual yang baik serta unggul profesional serta senantiasa menjaga warisan kebudayaan bangsa Melayu.

OM-zan 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button