Generasi Milenial Cenderung Apatis Terhadap Politik

oleh
Komunitas Relawan Milenial Bersatu menggelar Talk Show Milenial Anti Golput di Medan, Sabtu (22/12/2018) malam. OkeMedan/ist

OkeMedan – Medan. Generasi milenial, umumnya tidak menyukai politik dan cenderung apatis dan tak peduli dengan figur yang akan dipilih menjadi pemimpin Indonesia. Ketidakpedulian ini yang dicemaskan banyak kalangan akan berpotensi semakin memperbesar angka golput di Indonesia.

Praktisi politik H Dadang Darmawan Pasaribu S Sos M Si mengungkapkan hal itu pada acara Talk Show Milenial Anti Golput yang digelar oleh Komunitas Relawan Milenial Bersatu, di Keude Kuphi Gaminong jalan Setia Budi Medan, Sabtu (22/12/2018) malam.

Dadang yang pernah menjabat sebagai Ketua Badko HMI Sumut menegaskan, saat ini telah terjadi revolusi pemilih. Orang-orang muda lebih memilih figur pemimpin yang berasal dari orang-orang muda juga, sehingga dianggap lebih mewakili keberadaan mereka.

“Kalangan milenial ini sesungguhnya adalah kelompok yang anti kemapanan, tidak menyukai politik dan sulit ditebak. Mereka juga selektif dan kritis. Tapi justru dengan karakter yang demikian, mereka harus diikutsertakan dalam dinamika politik negeri ini. Kalangan muda harus ikut menentukan arah masa depan bangsa, salah satunya dengan mengikuti proses pemilihan calon pemimpin,” kata Dadang.

Menurut Dadang, kaum muda saat ini tidak boleh lagi apatis dengan politik. Sebab di tangan kaum mudalah, martabat bangsa dipertaruhkan. “Golput tidak menjadi pilihan yang tepat dalam bernegara. Karena pasti tidak akan menghasilkan apapun dalam proses demokrasi dan pembangunan politik,” tandasnya.

Praktisi politik yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU tersebut menambahkan, besarnya angka golput di kalangan anak muda merupakan tantangan besar bagi partai politik, sekaligus juga sebagai pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban segera.

Sementara itu mantan Komisioner KPU Sumut Nazir Salim Manik mengemukakan sudah menjadi tugas semua untuk membuat pemilu sebagai sebuah kebutuhan, sehingga melahirkan kepedulian dari kelompok milenial.

“Daya kritis harus kita tumbuhkan bahwa one man one vote itu sangat penting dan strategis bagi pembangunan bangsa ke depan. Dari awal kita juga sudah harus siap sebagai pemilih. Tidak hanya menjadi pemilih pasif, melainkan juga harus bertindak sebagai pemantau dari keseluruhan proses penyelenggaraan pemilu,” tandasnya.

Ketua Relawan Milenial Bersatu Lowren Efendi Purba dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa gelar diskusi yang diadakan oleh komunitas yang dipimpinnya merupakan salah satu upaya untuk membuka kesadaran kaum muda atau kalangan milenial, terhadap arti penting keterlibatan aktif dalam memilih pemimpin.

Dengan demikian, angka golput yang berkisar antara 35 hingga 40 persen itu dapat menurun secara signifikan. Apatisme yang cukup besar di kalangan milenial salah satu sebabnya adalah kurangnya pemahaman bahwa suara yang dimiliki oleh kalangan muda memiliki arti penting dan strategis untuk membawa bangsa pada kemakmuran dan kejayaan di masa depan.

Sementara Sekretaris Relawan Milenial Bersatu, Siti Soraya Ivan Iskandar menegaskan talkshow yang digelar hanya ingin mengikis apatisme dan mengarahkan kalangan milenial untuk turut serta memberikan hak suara mereka dalam pesta demokrasi yang akan berlangsung ke depan.

Komunitas Relawan Milenial Bersatu dideklarasikan pada tanggal 8 Desember 2018, bertempat di Amaliun Convention Hall Medan. OM ZAN 

Berikan Komentar