Media Cetak Jadi Bisnis Senja Kala

oleh
Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan M Eng MSc memberikan cenderamata kepada Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo. OkeMedan/ZAN

OkeMedan – Medan. Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengatakan kedepan media cetak, radio dan televisi menjadi bisnis senja kala. Banyak orang memilih media konvensional sedang memasuki era sandyakalaning yang bukan tidak mungkin sudah menyongsong kematian.

“Banyak orang ketika bangun tidur tidak mencari media cetak, tapi mencari handphone untuk mencari informasi terkini, ” kata Yosep Adi Prasetyo pada Seminar Jurnalistik dengan tema Jurnalis dan Media menghadapi tantangan gelombang digital dilaksanakan di Convention Hall Universitas Medan Area, Kamis (14/3/2019).

Seminar yang diikuti ratusan mahasiswa dan insan pers ini menghadirkan pembicara Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan M Eng MSc, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, Ketua AJI Medan Liston Damanik, Ketua SPS Sumut Farianda Putra Sinik.

Yosef mengatakan saat ini banyak media konvensional (cetak) di Indonesia tutup dan bermigrasi ke online. Hal itu diikuti dengan perkembangan zaman khususnya era revolusi 4.0 yang berkembang pesat.

“Data kita peroleh dari SPS beberapa tahun lalu jumlah perusahaan media cetak di Indonesia sebanyak 640 perusahaan. Tahun ini menurun tinggal 300 perusahaan. Sebagian besar tutup dan migrasi ke online, terutama di era revolusi 4.0 yang ditandai dengan penggunaan Internet besar-besaran, ” katanya.

Bahkan, sebut Yosep, media cetak ekonomi terbesar di dunia The Financial Times tahun 2014 yang memiliki oplah 1,2 juta perhari tutup setelah oplah menurun menjadi 300 ribu perhari. ” Media ini beralih ke online yang selama ini cetak oplah menjadi subscribe, dan pengunjung naik jadi 700 ribu,” ungkapnya.

Begitu juga dengan radio maupun televisi, menurut Yosep akan terjadi kemajuan perubahan teknologi digital yang akan mengubah wajah pers Indonesia.

Yosep mengungkapkan data digital menyebutkan dari 262 juta penduduk Indonesia, 132 juta pengguna Internet dan 371,4 juta jiwa pengguna handphone. “Satu orang tidak hanya punya handphone satu, tapi ada yang dua atau lebih. Bayangkan jika satu orang punya banyak grup medsos, tentu informasi yang disampaikan cepat,” katanya.

Sementara untuk pengguna internet di Indonesia didominasi generasi milineal yakni mencapai 49 % dengan usia 18-25 tahun dan 85 % mereka memiliki smartphone. “Untuk itu tantangan teknologi itu membuat wartawan kedepannya harus profesional, terlebih saat ini sudah memasuki revolusi 4.0. Saat ini pers masih banyak membuat media abal-abal dan menyedot anggaran APBD untuk keberlangsungannya,” ungkap Yosep.

Sementara Rektor Universitas Medan Area Prof Dr Dadan Ramdan M Eng MSc mengatakan media cetak saat ini tergerus di dengan teknologi digital yang dinilai lebih cepat menyampaikan informasi. “Namun begitu kita harus pandai memilih mana yang baik dan tidak, apalagi banyak berita hoaks,” imbaunya.

Kendati era digital mulai menggerus, Dadan menyakini masa depan media konvensional tetap dibutuhkan. “Memang sekarang ini segala informasi cepat tersaji melalui digital. Tapi saya yakin media konvensional masih dibutuhkan orang,” katanya.

OM-ZAN

Berikan Komentar