OkeNasional

Sampoerna Tutup Pabrik Setelah Dua Karyawannya Positif Corona Meninggal

Jakarta – PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan produksi di pabrik Rungkut 2 sejak 27 April 2020 sampai waktu yang belum ditentukan. Kebijakan ini dilakukan untuk melakukan pembersihan area pabrik setelah ada karyawan di lokasi tersebut yang dinyatakan positif virus Corona (COVID-19) dan meninggal dunia.

“Sesuai arahan dan koordinasi dengan Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami juga telah menerapkan protokol yang dianjurkan antara lain penyemprotan disinfektan di seluruh fasilitas pabrik, melakukan contact tracing, meminta karyawan untuk karantina mandiri, melakukan test COVID-19, dan bekerja sama dengan rumah sakit setempat,” kata Direktur PT HM Sampoerna Tbk, Elvira Lianita dalam keterangan resmi yang dikutip detikcom, Kamis (30/4/2020).

Dilihat dari Kompas, dua pegawai pabrik rokok PT HM Sampoerna di Surabaya meninggal dunia dengan status positif Covid-19 pada 14 April.

Ketua Tim Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur Joni Wahyudi menjelaskan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak manajemen pabrik. Koordinasi dilakukan menyusul adanya dua karyawan positif corona yang meninggal dunia. “Saat ini tracing sedang berjalan. Kira-kira ada 500 orang di pabrik itu (yang berpotensi tertular). Manajemen sudah menutup sementara kompleks (pabrik) itu, karyawannya diliburkan,” kata Joni, saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2020).

Hasil penelusuran sementara yang dilakukan Tim Tracing Gugus Tugas Covid-19 Jatim terhadap karyawan PT HM Sampoerna Tbk, Surabaya: – 2 orang meninggal positif Covid-19 – 9 orang berstatus PDP dan dirawat di rumah sakit – 163 orang sudah menjalani swab tes PCR (menunggu hasil PCR) – 100 orang dari 323 karyawan dinyatakan reaktif Covid-19 setelah menjalani tes cepat Covid-19 atau rapid test

Joni mengatakan, pihaknya kemudian melakukan rapid test dan tes swab kepada ratusan pegawai pabrik lainnya. Hasil rapid test menunjukkan puluhan pegawai reaktif. Sementara hasil tes swab belum keluar.

Terpisah, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, awalnya ada dua orang karyawan berstatus PDP. Karena statusnya, mereka diminta untuk melakukan karantina. Namun, kenyataannya dua pasien tersebut tetap bekerja. “Sebetulnya dia (pasien) saat itu status sudah PDP. Tapi dia kerja, jadinya nulari (menularkan),” kata Risma, Kamis (30/4/2020).

Sumber: detik, kompas

 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button