OkeNews

Tiga Pelaku GengRAPE di Simalungun Terancam 20 Tahun Penjara dan Kebiri Suntik Kimia

Jakarta– Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait  dan Bupati Simalungun Dr JR  Saragih memberikan atensi terhadap dugaan gengRAPE (perkosaan bersama) yang  diduga dilakukan 3 orang pelaku masing-masing TP (45), KD (46) dan LL (22)  warga desa Sorba Bandar Nagori Bah Tonang, Kabupaten Simalungun terhadap TBD (11) warga Bah Tonang secara berulang di tempat berbeda.

Ironinya, selain dilakukan di tepi Sungai Bahbolon, dan Bahlukang Luan juga dilakukan di hadapan ibu  korban yang mengakibat korban saat ini  menderita trauma berkepanjangan.

Atas peristiwa ini, Komnas Perlindungan Anak memberikan apreasi dan penghargaan setingi-tingginya kepada Kapolres Simalungun dan jajaran Kasatreskrimum atas kerja kerasnya telah  menangkap dan menahan terduga pelaku TP dan kedua rekannya.

Atas perbuatannya itu, TP, KD dan LL terancam pidana pernjara minimal 10 tahun dan dapat pula diancam dengan pidana penjara maksimal 20 tahun bahkan hukuman seumur hidup.

Bersesuaian dengan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No : 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI  Nomor :  23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,  junto UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan mengingat perbuatan pelaku masuk dalam kategori kejahatan luar biasa, maka pelaku dapat juga terancam dengan hukuman seumur hidup.

Disamping itu jika pelaku terbukti melakukan  perbuatannya secara terencana dan berulang-ulang maka ketiga pelaku juga dapat diancam dengan hukuman tambahan berupa KASTRASI yakni kebiri melalui suntik kimia.

Dengan demikian Komnas Perlindungan Anak memastikan Polres Simalungun akan menjerat pelaku dengan menggunakan sangkaannya dan dakwaannya dengan kedua Undang-undang tersebut.

“Saya yakin betul, bagi Kapolres Simalungun yang baru saja mendapat penghargaan dari Komnas Perlindungan Anak yang diserahkan langsung oleh  Kapolda Sumatera Utara. Tidak ada kata damai untuk kasus kejahatan terhadap anak,” tegas Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam siaran persnya yang diterima okemedan, Senin (8/6/2020).

“Di mata beliau anak harus dilindungi karena anak adalah titipan Tuhan dan anak mempunyai hak hidup dan rasa nyaman. Oleh sebab itu bagi beliau tidak ada kata kompromi atas kejahatan terhadap anak jika dua alat bukti yang telah terpenuhi,” kata Arist Merdeka Sirait lagi.

Sementara itu, atas peristiwa yang memalukan itu,  Bupati Simalungun DR JR Saragih meminta dan mengajak Komnas Perlindungan Anak dan lembaga perlindungan anak lainnya untuk bersama-sama melakukan kampanye publik untuk menggerakkan masyarakat Simalungun membangun gerakan Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual terhadap anak berbasis desa dan kampung.

“Sudah saat nya masing-masing desa dan kampung  di Simalungun mempunyai gerakan perlindungan anak terpadu dengan melibatkan peran serta masyarakat, Karang Taruna, Kepala lorong,  Kepala desa, pemimpin umat serta komitmen saling memperhatikan dan saling peduli apa yang terjadi di lingkungan sosialnya,” kata Bupati Simalungun kepada Arist Merdeka Sirait.

Diharapkan dengan  langkah tegas Polres Simalungun atas peristiwa  gengRAPE ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dan  menjadikan efek jera, sehingga peristiwa serupa tidak terjadi.

Untuk memulihkan tingkat trauma korban, Komnas Perlindungan Anak bersama Lembaga Perlindungan Anak (LPA)  Kabupaten Simalungun  dan mengajak Dinas PPPA Simalungun segera membentuk Tim Litigasi dan Pemulihan Korban guna memberikan dampingan psikologis korban dan keluarganya.

Informasi menyebutkan, terbongkarnya perbuatan bejat yang dilakukan ketiga terduga pelaku berawal ketika korban memceritakan kasusnya kepada sahabatnya NS (12) bahwa ia telah menjadi budak seks ketiga pelaku. Bahkan perbuatan pelaku yang menjijikkan itu dilakukan secara berulang di hadapan ibunya.

Mendengar peristiwa itu,  kemudian sahabat korban NS (12) spontan bercampur sedih menceritakan kepada tantenya MS.

Mendengar peristiwa itu,  kemudian MS pada 26 Mei 2020, bersama pegiat media melaporkan kejadian itu kepada Polsek Raya Kahean dan kemudian diteruskan ke Unit PPA Polres Simangun untuk di tindak lanjuti.

Kepada MS, korban menceritakan bahwa kasus kejahatan seksual dalam bentuk GengRAPE dilakukan berulang di tempat dan waktu yang berbeda seperti di pinggir Sungai Bahbolon, Bah Silakuang Luan bahkan di tempat tinggal  dan di hadapan ibu korban yang saat ini menderita kelainan mental.

(red)

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button