OkeNews

OJK Keluarkan Stimulus Kebijakan, Baru 19.017 Orang di Sumut Peroleh Keringanan Kredit

Medan– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumbagut mengungkapkan hingga 16 April 2020, jumlah debitur di Sumatera Utara yang memeroleh keringan kredit baru 19.017 orang dari 205.483 orang yang terdampak akibat Covid-19.

“Angka ini masih berjalan. Ini akan diinveritasasi terus menetus termasuk juga perbankan yang sudah disetujui dalam rangka restrukturisasi. Memang yang mengajukan restrukturisasi prosesnya agak lambat karena besaran jumlahnya cukup banyak, sehingga harus bersabar untuk disetujui oleh OJK,” sebut Kepala OJK Regional 5 Sumbagut Yusuf Ansori sekaligus pemateri Talkshow Daring mengupas Peraturan OJK (POJK) sebagai stimulus perekonomian dari Covid-19 kerjasama Fakultas Ekonomi Unimed dengan STIE Bina Karya Tebingtinggi, Kamis (23/4/2020).

Talkshow dibuka Dekan FE Unimed Prof Indra Maipita MSi Phd, moderator Ketua STIE Bina Karya Tebingtinggi Dr Mangasi Sinurat, host acara Wakil Dekan II FE Unimed Dr Azizul Kholis SE MSi, diikuti Ketua Yayasan STIE Bina Karya Drs Lukito Cahyadi, Wakil Ketua STIE Bina Karya Willy Cahyadi SKom MSi CMA,  Wali Kota Tebinggi, Bupati Sergai, Ketua DPRD Tebingtinggi, Ketua DPRD Sergai, para dosen dan mahasiswa STIE Bina Karya Tebingtinggi.

Yusuf Ansori menambahkan debitur yang mengajukan 36.719 orang dari yang terdampak 205.483 orang dengan total kredit debitur di Sumut bank umum, bank perkreditan atau leasing Rp 21,2 triliun dan yang mengajukan Rp4,7 triliun dan disetujui  Rp1,898 triliun.

“Sementara industri jasa keuangan di Sumut terdiri 18 Bank umum, 38 BPR/BPRS dan 42 leasing,” katanya.

Yusuf Ansori mengatakan keringan pembiayaan diberikan ojek online, UMKM, pedagang kaki dan para pengusaha baik sektor pariwisata, ekspor impor yang terdampak Covid-19.

Dia menyadari covid-19 yang berdampak di Indonesia, apalagi diberlakukannya phisical distancing serta PSBB yang memengaruhi kinerja UMKM yang menjadi debitur serta usaha-usaha individu lainnya seperti ojek online.

 

“Tentunya kita mengantisipasi dengan adanya covid-19 ini mengganggu kinerja dari debitur serta tentunya kinerja perbankan akan terganggu karena penanaman dana masyarakat ditempatkan pada kredit 70-90 %. Jika perbankan atau perusahaan pembiayan terganggu tentu mengganggu stabilitas sistem keuangan. Padahal sebenarnya para debitur itu sebagai pendorong penggerak ekonomi serta pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Dengan adanya dampak tersebut, lanjut Yusuf Ansori, OJK mengeluarkan stimulus kebijakan seperti halnya Depkeu dan BI. Kebijakan stimulus OJK dalam rangka kontrol atau menjaga kualitas kredit/pembiayaan debitur yang terdampak di pandemi Covid-19. Kebijakan stimulus sendiri sudah mengeluarkan POJK No 11/POJK.03/2020 dan sektor IKNB POJK No 14/POJK.05/2020. Cakupan dari stimulus ini, kualitas kredit dan kedua restruktur kredit.

Penilaian kualitas kredit terdiri lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet. Di dalam kebijakan stimulus 3 faktor penilaian, 2 dari 3 faktor diabaikan dan faktor penilaian menjadi prospek usaha kinerja debitur dan kemampuan bayar saja.

“Dalam stimulus sepanjang debitur membayar tanpa memperhitungkan prosfek, kinerja sudah masuk dalam kategori lancar,” katanya.

Restrukturisasi kredit, sebutnya, merupakan upaya perbankan atau jasa pembiayaan yakni perbaikan yang dilakukan dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajiban dengan melakukan penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu kredit, pengurangan tunggakan bunga kredit, pokok kredit, penambahan fasilitas kredit dan konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara.

“Industrinya sudah tidak memungkinan membayar, nanti Perbankan atau perusahaan pembiyaaan bisa melakukan penyertaan tetapi sifatnya sementara sesuai dengan perjanjian dan ini upaya penyelamatan industrinya,” jelasnya.

Dalam mengajukan keringan, debitur tidak perlu datang ke bank atau perusahaan pembiyaan (leasing). Tunggu dan ikuti pengumuman yang akan disampaikan bank/leasing melalui website atau call center resmi.

“Kebijakan stimulus OJK meringankan beban debitur dan industri jasa keuangan (IJK). Bagi debitur diberikan keringanan pembayaran angsuran, bagi IJK diberikan keringanan penilaian kualitas kredit sehingga mengurangi beban pencadangan kerugian sehingga stabilitas keuangan nasional tetap terjaga,” katanya.

Sementara itu Dekan Fakultas Ekonomi Unimed Prof Indra Maipita MSi Phd mengatakan Covid-19 telah memengaruhi seluruh sektor kehidupan bukan hanya di Indonesia tetapi seluruh kawasan di dunia ini.

“Diterapkannya social atau phisical distancing dan PSBB dilakukan untuk memutuskan pandemi Covid-19 terdampak terhadap penurunan aktifitas, produksi dan lapangan kerja, penurunan daya beli  hingga menaikkan angka kemiskinan,” sebutnya.

Hal ini seolah menjadi sebab akibat yang memerlukan intervensi untuk memutuskannya. Prof Indra juga menambahkan keadaaan ini juga berpengaruh pada sektor keuangan, permintaan dan pengucuran kredit bisa melambat, demikian juga pada pembayaran angsuran karena kondisi dan pendapatan berdampak.

“Topik Talkshow ini sangat tepat menyahuti kegaulan masyarakat terhadap situasi yang terjadi, untuk itu kita ucapkan apreasiasi kepada STIE Binakarya dan FE Unimed dan seluruh tim meski dalam kondisi sulit masih bisa berkarya. Minggu lalu juga kita laksanakan kuliah umum dengan nara sumber dari Bank Indonesia,” ujarnya.

(zan)

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button