OkeNews

Ketua PW Al-Washilyah Sumut: Gay Rusak Tatanan Sosial dan Mengundang Azab

Medan – Pimpinan Wilayah Al Washliyah Sumut mengapresiasi kinerja Poldasu dan jajarannya berhasil membongkar praktek pijat khusus Gay di Medan. Sebab, pelaku Gay (homo seksual) bukan hanya merusak tatanan sosial tetapi dari persepektif agama dapat mengundang azab.

Hal ditegaskan Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara H Dedi Iskandar Batubara kepada wartawan, Kamis (4/6/2020), menanggapi keberhasilan Polda Sumut melalui Subdit IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) membongkar pijat plus-plus khusus Gay (homo seksual) di Komplek Setia Budi II Jalan Ringroad, Kecamatan Medan Sunggal, Sabtu (31/5/20).

“Kita apresiasi kinerja Polda Sumatera Utara dan tim dalam rangka mencegah pelaku kejahatan sosial. Saya kira bagi pelaku Gay jangan ada ampun, ini bukan merusak tatanan sosial tetapi dari persepektif agama mengundang azab,” tegas Dedi.

Menurut anggota DPD RI asal Sumut ini, jangan sampai tindakan kejahatan yang dilakukan para Gay ini menimbulkan azab dari Tuhan dan  masyarakat khususnya di Kota Medan yang menanggungnya.

Sebab, perbuatan Gay tersebut keji dan menjijikkan. Bahkan lebih sadis dari binatang.

“Binatang saja tidak mau dengan yang sejenis, kok manusia mau dengan yang sejenis,” kecamnya.

Dedi berharap kepolisian bisa mengungkap pelaku-pelaku tindak kejahatan lainnya terutama yang berhubungan dengan kejahatan-kejahatan moral begini.

“Saya kira termasuk juga banci-banci yang masih ada berkeliaran di beberapa titik di Kota Medan, itu transgender harus ditindak dan jangan dibiarkan,” ujarnya.

Disinggung kenapa panti pijat khusus gay tersebut sudah beroperasi selama 2 tahun dan terkesan tidak ada pengawasan serta terselubung, menurut Dedi seharusnya semua pihak untuk proaktif jika
melihat dan mencurigai lokasi dan disinyalir dijadikan lokasi prostitusi untuk segera lapor.

“Kita gak tau dimana putusnya, kenapa sampai dua tahun baru terungkap, mungkin karena di lokasi perumahan sehingga orang mengaksesnya tidak terlalu gampang,” katanya.

“Dan aparat Pemko Medan juga harusnya mengimbau masyarakat di bawah terutama Kepling harus tau siapa-siapa yang berada di lingkungannya, apa aktivitasnya kenapa sampai tidak termonitor sampai dua tahun dan cukup lama mereka melakukan operasinya,” sebut Dedi.

Persoalan seperti itu butuh kerja sama semua apalagi  Medan dan merupakan kota metropolitan yang mempunyai problem sosial cukup banyak.

“Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun dan yang pasti tanggungjawab semua, dan kalau sudah begini kita harus mendukung ramai-ramai menutup kegiatan yang merusak tatanan sosial,” imbaunya.

Dedi juga mengimbau  warga Al Washliyah apabila menemukan kegiatan yang mencurigakan di daerah masing-masing segera laporkan kepada aparat keamanan setempat.

“Kita tidak punya kewenangan. Yang mempunyai kewenangan menggerebek, menangkap, menembak itu aparat kepolisian,” katanya.

Warga dan kader Al Washliyah mempunyai tanggung jawab untuk menjaga lingkungannya masing-masing dari perbuatan dan tindakan kejahatan, karena ini adalah bagian dakwah Al Washliyah serta amar makruf nahi mungkar.

“Kalau mengajak orang kepada kebaikan saja tidak terlalu berat dan yang berat itu nahi mungkar. Kalau kita mampu mencegah dengan tangan kita, lakukan. Kalau tidak mampu, kita menyampaikan secara lisan kepada aparat, Cuma jangan sampai selemah-lemah iman diam-diam saja. Dan kepada kepolisian kita berharap terus mengamankan Kota Medan dari semua tindakan pelaku kejahatan baik kriminal maupun moral seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu Sekretaris PW Al Washliyah Sumatera Utara Alimnur Nasution mengatakan Al Washliyah Sumut mengucapkan terima kasih atas prestasi dan kerja cepat Polda Sumatera Utara dalam membongkar kejahatan prilaku seks menyimpang pijat plus plus khusus Gay, yang dapat mengundang Murka Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa kepada warga Kota Medan.

“Kita mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kinerja Poldasu beserta jajarannya mengungkap sindikat panti pijat gay tersebut. Kita berharap masyarakat khususnya warga Al Washliyah bisa membantu kepolisian untuk memberantas praktik maksiat yang dapat mengundang azab Allah SWT,” serunya.

Alimnur juga mengimbau masyarakat waspadai Komplek Perumahan yang sulit diakses yang akhirnya memberikan kesempatan orang untuk “menghidupkan” kegiatan maksiat.

Alimnur juga mengingatkan pemerintah memberikan izin usaha tidak boleh seperti Rental Lepas Kunci, tanpa monitoring lokasi yang dijadikan tempat usaha.

 Seperti diberitakan sebelumnya Kepolisian Daerah Sumatera Utara melalui Subdit IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) berhasil membongkar pijat plus-plus khusus Gay (homo seksual) Komplek Setia Budi II di Jalan Ringroad, Kecamatan Medan Sunggal, Sabtu (31/5/20).

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumut Kombes Pol Irwan Anwar dalam pemaparannya, Rabu (3/6/2020) menyebutkan, dalam penggerebekan praktik pijat plus khusus Gay, pihaknya mengamankan 11 orang beserta sejumlah barang bukti, antara lain handphone, uang, dan alat kontrasepsi.

“Itu yang kami dalami, ada alat grup yang mereka gunakan. Dari hasil pemeriksaan kepada pelaku, (praktik ini) kurang lebih 2 tahun (sudah berjalan),” terangnya.

(zan) 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button