OkeNasional

Al Washliyah Usulkan Syekh Arsyad Thalib Lubis Pahlawan Nasional

“Peran Syekh Arsyad Thalib Lubis dalam memperjuangkan dunia pendidikan di awal kemerdekaan RI tidak bisa dipandang kecil”.

Medan | okemedan. Al Jam’iyatul Washliyah mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan tokoh pendidikan di awal kemerdekaan Republik Indonesia, Tuan Syekh Arsyad Thalib Lubis, sebagai Pahlawan Nasional.

Syekh Arsyad Thalib Lubis juga merupakan salah seorang pendiri Al Jam’iyatul Washliyah, salah satu organisasi Islam tertua dan terbesar di Indonesia.

Usulan itu secara resmi disampaikan Pimpinan Wilayah (PW) Al Washliyah Sumut kepada Pemprov Sumut melalui Dinas Sosial untuk diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia.

“Hari ini kami datang ke Dinas Sosial Pemprov Sumut, berharap agar usulan kami menjadikan Tuan Syekh Arsyad Thalib Lubis ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dapat diteruskan ke Presiden Republik Indonesia,” Kata Ketua PW Al Washliyah Sumut Dedi Iskandar Batubara, Rabu (19/8/2020).

Kedatangan Dedi yang juga selaku pimpinan rombongan Tim Adhoc Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Syekh Arsyad Thalib Lubis yang berasal dari Al Washliyah dan kalangan akademisi diterima langsung oleh Kepala Dinas Sosial Sumut H Rajali SSos didampingi Sekretaris Dinas, dan beberapa kepala bidang.

Pada kesempatan itu Dedi menyerahkan berkas-berkas terkait kelengkapan syarat pengusulan gelar Pahlawan Nasional Syekh Arsyad Thalib Lubis, kepada Kepala Dinas Sosial Sumut Rajali.

Ketua PW Al Washliyah Sumut Dedi Iskandar Batubara bersama Tim Adhoc saat menyerahkan berkas-berkas terkait pengusulan gelar Pahlawan Nasional Syekh Arsyad Thalib Lubis kepada Kadis Sosial Sumut Rajali, Rabu (19/8/2020).ist

Dalam sambutannya Kadis Sosial Sumut Rajali mendukung penuh pengusulan nama Tuan Syekh Arsyad Thalib Lubis untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Dari berbagai hasil penelitian dan penelusuran sejarah yang telah dihimpun oleh tim ad hoc bentukan Al Washliyah Sumut, peran Syekh Arsyad Thalib Lubis dalam memperjuangkan dunia pendidikan di awal kemerdekaan RI tidak bisa dipandang kecil.

Arsyad Thalib Lubis yang lahir di Langkat pada Oktober 1908 atau bertepatan pada Ramadan 1326 Hijriah dan dibesarkan di Kota Medan, Sumatera Utara, telah menempuh berbagai macam ilmu kepada ulama-ulama besar di zamannya. Salah satu guru beliau dalam memperdalam ilmu tafsir, hadits, usul fiqh, dan fiqh adalah Syekh Hasan Maksum.

Syekh Hasan Maksum adalah seorang ulama besar yang selama hayatnya banyak meninggalkan jasa yang tinggi nilainya di tengah-tengah kaum muslimin khusus di wilayah Sumatera Timur.

Lantaran dianggap sebagai ulama berpengaruh di kalangan umat Islam di masa awal kemerdekaan RI, Syekh Arsyad ditangkap oleh penjajah pada 23 Maret 1949, lalu dipenjarakan sebagai tahanan politik di Penjara Suka Mulia Medan.

Ia merupakan ulama cerdas yang mengawali karyanya pada usia 20 tahun dengan menjadi penulis pada majalah Fajar Islam di Medan.

Buku berjudul Penuntun Perang Sabil (1946), adalah salah satu karya Syekh Arsyad. Beliau juga pernah bergabung dalam perjuangan Hizbullah untuk wilayah Sumatera Timur.

Ia merupakan ulama cerdas yang mengawali karyanya pada usia 20 tahun dengan menjadi penulis pada majalah Fajar Islam di Medan.

Selain berdakwah, ulama dahulu juga berjuang untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hal itu juga dilakukan Syekh Arsyad.

Syekh Arsyad adalah putra kelima dari pasangan Lebai Thalib bin H Ibrahim Lubis dan Markoyom Nasution. Ayahnya berasal dari Kampung Pastap, Kotanopan, Tapanuli Selatan, kemudian menetap di Stabat.

Meski berasal dari keluarga petani yang sederhana tidak membuatnya kendor dalam menuntut ilmu.

Syekh Arsyad aktif mengajar pada beberapa Madrasah Al Washliyah di Aceh maupun di Medan dari tahun 1926-1957. Pernah mengajar di Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam Indonesia di Medan (1953-1954), menjadi Guru Besar Ilmu Fiqh dan Usul Fiqh pada Universitas Islam Sumatera Utara-UISU (1954-1957), dan dosen tetap pada Universitas Al Washliyah (UNIVA) sejak berdirinya universitas itu (1958) hingga akhir hayatnya.

Sejak berdirinya organisasi Al Jam’iyatul Washliyah pada 9 Rajab 1349 H atau 30 November 1930 M, Tuan Arsyad menjadi anggota Pengurus Besar Al Washliyah sampai 1956. Meski tidak berada dalam kepengurusan lagi, Syekh Arsyad tetap aktif memberikan sumbangan pikiran dan tenaga dalam kegiatan yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Puluhan ribu orang dari Tanah Batak dan Karo, Sumut, masuk Islam berkat dakwahnya.

Kini, tercatat sudah ada ribuan sekolah di Indonesia di bawah naungan Al Washliyah mulai dari Aceh hingga Maluku. Perjuangan Tuan Syekh tersebut hanya dapat dilihat melalui buku-bukunya yang fenomenal. Buku pertama beliau “Tuntunan Perang Salib” terbit pada 1934. Buku ini menjadi pegangan umat Islam dalam memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

“Alhamdulillah, saya bersama Tim Adhoc Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Syekh HM Arsyad Thalib Lubis telah menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan sesuai ketentuan perundang-undangan kepada Kadis Sosial Sumut,” kata Dedi Iskandar Batubara kepada wartawan seusai penyerahan berkas.

Untuk selanjutnya, kata dia, Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) akan memberi pertimbangan kepada Gubernur Sumut untuk merekomendasikan gelar Pahlawan Nasional bagi Syekh Arsyad Thalib Lubis.

“Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat, khususnya kepada segenap warga, kader, pengurus dan anggota Al Washliyah di manapun berada, semoga harapan yang diikhtiarkan ini terwujud, Syekh Arsyad Thalib Lubis menjadi Pahlawan Nasional,” ujar senator asal Sumut ini.

OM-zan 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button