OkeHukum

Sidang Korupsi Skandal Pembelian MTN Oleh Bank Sumut, PH Terdakwa Keberatan Kerugian Negara Dikutip dari Media Online

MEDAN – okemedan. Protes mewarnai sidang lanjutan kasus skandal pembelian surat berharga atau MTN PT SNP oleh PT Bank Sumut melalui PT MNC Sekuritas senilai Rp202 Milliar. Pasalnya, status keahlian ahli dalam persidangan yang diragukan.

Adalah terdakwa mantan Direktur Kapital Market pada MNC Sekuritas melalui tim penasehat hukumnya, Mathilda, Murba dan Udhin Wibowo menanyakan status Hernold Ferry Makawimbang. Dari hasil konfirmasi secara tertulis bahwa Hernold tidak terdaftar sebagai anggota Institut Akuntan Publik Indonesia.

“Kami protes yang mulia, sekaitan keterangan Ahli karena ia tidak terdaftar dalam IAPI,” ucap Mathilda, dalam sidang yang berlangsung di Cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (12/10/2020) yang berakhir hingga malam.

Protes itu senada halnya dengan terdakwa mantan Pemimpin Treasure PT  Bank Sumut, Maulana Akhyar Lubis.

Selain itu, proses audit yang dilakukan tidak secara Standart Operasional (SOP) yang berlaku. Bahkan salah seorang Anggota Penasehat Hukum terdakwa Andri Irvandi, Udhin Wibowo menyentil Hernold yang mengutip kerugian skandal pembelian MTN ini berasal dari media online .

“Ahli, tadi ahli sampaikan audit dilakukan namun ada pernyataan ahli yang sama persis dikutip salah online yang isi sama?,” tanya Udhin sembari menegaskan kalau dilakukan secara benar dan pasti, kenapa tidak mencantumkan ada penjualan MTN senilai Rp30 Milliar dari total pembelian MTN senilai Rp177 Milliar.

“Kalau auditnya dilakukan dengan benar, seharusnya MTN tersebut tinggal Rp147 Milliar saja. Selain itu dasar penghitungan bunga dari tunggakan yang kemudian dianggap sebagai kerugian negara juga patut dipertanyakan menjadi Rp202 Milliar,” ucap Udhin lagi.

Menjawab itu, Hernold menyatakan pihaknya bekerja di Akuntan Publik Tarmidzi yang telah diakui. “Kan bisa saja dikurangi dari nilai yang telah dijual,” jawabnya soal masalah perhitungan kerugian negara.

Selain itu, Hernold juga memaparkan pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan BAP yang diserahkan jaksa. Di mana saat itu tidak disebutkan telah ada penjualan MTN. Namun Hernold yang dihadirkan secara virtual dalam memberikan keahliannya ini terdiam sekaitan pertanyan penasehat hukum yang menanyakan apakah ia memegang hasil putusan pailit PT SNP.

“Ahli apakah sudah mendapat dan membaca putusan pailit SNP,” tanya Udhin lagi sembari mempertanyakan dasar pandangan ahli yang menyatakan Bank Sumut merugi akibat adanya pembelian MTN tersebut.

Tak hanya Hernold saja yang disangsikan keahliannya akan tetapi kehadiran Muhammad Novian dari Ahli PPATK, juga dipersoalkan soal TPPU. Ia mempersoalkan asal dari pembelian berkaitan dengan sesuatu proyek atau pekerjaan.

Menanggapi hal itu, penasehat hukum kedua terdakwa pun lagi-lagi menyebutkan bahwa adanya sejumlah transaksi jual beli antara Andri dengan Maulana resmi dan bukan sebagai hadiah sebagaimana ahli menyebutkan.

Kedua penasehat hukum terdakwa keberatan kalau ahli dari PPATK ini, menyatakan pembelian ini sebagai pengalihan atau semu transaksinya.

Bahkan terdakwa Maulana Akhyar juga menyikapi perkataan hadiah itu sangat menggelitik sekali karena itu diluar dari pembelian MTN.

Di akhir persidangan terdakwa Andri Irvandi pun menyebutkan agar majelis hakim menghadirkan rekening koran Arief untuk menentukan fee 3-4 persen tersebut.

OM- diaz 

 

 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button