Musisi Medan Tolak RUU Permusikan, Ini Kata Willy Gitaris Mahameru

oleh

.OkeMedan-Medan

Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan saat ini menimbulkan reaksi dari para pemusik dan pencipta lagu. Akhir Januari lalu, sejumlah musisi seperti Glenn Fredly, Tompi, Andien dan Rian d’Masiv mendatangi Ketua DPR Bambang Soesatyo, anggota Komisi X Maruarar Sirait dan anggota Komisi X Anang Hermansyah. Mereka meminta draf RUU Permusikan diperbaiki.

Di Medan reaksi juga muncul dari kalangan pemusik. Salah satunya adalah dari Willy Erfan yang juga gitaris Band Mahameru, Ia menolak RUU itu disahkan. Pasal yang berisi tujuh ayat itu bicara soal larangan dalam penciptaan musik.

“Intinya saya tidak setuju terhadap RRU Permusikan yang sekarang lagi dibahas di DPR, RUU Permusikan terutama larangan-larangan yang terdapat di dalam pasal 5 sangat merugikan kita sebagai musisi yang berada di jalur indie,” tegasnya di base camp Mahameru Band di Medan, hari ini.

Pasal 5 mengatur larangan bagi para musisi, di antaranya larangan membawa pengaruh budaya barat yang negatif, merendahkan harkat dan martabat, menistakan agama, membuat konten pornografi hingga provokatif.

“Jika pembuat lagu-lagu bernada kritik, yang mungkin berpotensi mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum seperti tercantum dalam Pasal 5, semua dipidanakan,” urainya.

Pasal di RUU Permusikan lain yang juga secara tidak langsung membelenggu musisi adalah Pasal 32 yang menjelaskan tentang uji kompetensi musisi. Ayat (1) pasal tersebut berbunyi, “Untuk diakui sebagai profesi, Pelaku Musik yang berasal dari jalur pendidikan atau autodidak harus mengikuti uji kompetensi.”

“Berarti setiap musisi yang ingin diakui oleh negara dan diakui secara hukum harus mengikuti uji kompetensi. Musisi yang tidak mengikuti uji kompetensi bisa dikatakan melanggar hukum bila RUU Permusikan disahkan. Nah, ketika kita diatur untuk membuat sebuah karya maka hilanglah kreatifitas dari musisi,” nilainya.

Menurut Willy, para seniman selama ini memang melakukan pemberontakan terhadap industri musik yang dikuasia oleh major label yang mana mereka mengatur dan mengarahkan pencipta untuk membuat karya sesuai keinginan mereka, namun itupun mereka masih membuka ruang negosiasi yang luas untuk mencari win-win solusion.

Terkait kewajiban uji kopetensi untuk musisi agar diakui profesinya sebagai musisi, willy mempertanyakan parameter uji kopetensi ini apa dan siapa yang akan mengujinya.

Willy mengharapkan.sebelum RRU ini diundangkan dan menjadi Undang-undang sebaiknya 2 pasal tadi ditinjau ulang dan DPR meminta masukan yang seluas-luasnya kepada musisi di seluruh Nusantara agar terdapat keadilan bagi seluruh musisi di Tanah Air.

OM-PUTRA

Berikan Komentar