Keluarga Terdakwa Mengaku Diperas Rp10 Juta, Oknum Jaksa Kejari Belawan  Kabur

oleh

OkeMedan-Medan

Suasana persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, mendadak ricuh, Rabu (8/5/2019) sore. Pasalnya, keluarga dari terdakwa kasus penganiayaan menjerit histeris memaki-maki oknum Jaksa Kejari Belawan berinisial JN.

Melihat situasi tidak nyaman dan akan menjadi bulan-bulanan keluarga terdakwa, oknum jaksa tersebut bergegas meninggalkan sel tahanan PN Medan dan menghilang.

Meski sudah kabur, keluarga terdakwa terus berteriak menyebutkan telah diperas oleh jaksa JN.

M Yakubsah, ayah dari terdakwa Mahatir Muhammad ketika diwawancarai wartawan mengatakan, awalnya, sidang yang berlangsung di ruang Cakra 7 diketuai Majelis hakim Morgan Simanjuntak, berlangsung aman dan terkendali. Namun majelis menunda sidang, lantaran ketiadaan saksi, seketika itu suasana berubah menjadi ricuh.

“Ini cuma kasus taik burungnya. Hanya kasus perkelahiannya, Jaksa Johannes Naibaho minta uang Rp10 juta sama kami. Uang kami hanya ada Rp2 juta, tapi jaksa itu tetap minta Rp10 juta. Karena uang kami tidak ada, sidang ditunda-tunda terus,” teriak M Yakubsah.

Usai mengantarkan ke sel tahanan sementara, Endang kakak salahsatu terdakwa yang mendampingi adiknya bersidang, sampai menyembah kaki jaksa Johannes Naibaho, agar sidang adiknya segera berjalan. Namun saat keluar dari sel, Endang menjerit dan menangis sejadi-jadinya, hingga menjadi tontonan pengunjung sidang.

“Ya Allah tolonglah adik hamba. Kami nggak tau lagi harus bagaimana menjalani sidang ini,” ucap Endang terisak-isak.

Endang membeberkan, sidang adiknya telah lima kali mengalami penundaan. Empat kali di PN Belawan dan sekali di PN Medan.

“Ini sudah yang kelima kalinya ditunda. Tadi malam (Selasa) si Naibaho sempat nelpon, katanya jangan ribut-ribut nanti di sidang.
Kami diminta Rp10 juta, itu pas dipertengahan sidang,” tandasnya.

Diketahui, kasus ini bermula dari tiga terdakwa, masing-masing Mahattir Muhammad (22), Muhammad Hanafi alias Napi (28) dan Rudi Wira Ganda alias Idon (26), ketiganya warga Jalan Cimanuk Baru Gang 14 Lk XXIII Kelurahan Belawan II.

Tindak pidana penganiayaan dilakukan para terdakwa bermula, pada Kamis tanggal 6 Desember 2018 pukul 19.30 WIB, saksi korban, Abdul Mahmud sedang berjalan di depan rumah ketiga terdakwa, Jalan Cimanuk Baru Kelurahan Belawan II Kecamatan Medan Belawan.

Kemudian, Napi mendekati Abdul dan tanpa alasan yang jelas, terdakwa langsung meninju korban dengan tangannya ke arah wajah. Namun, korban mengelak. Tak lama kemudian, Mahattir menghampiri dan menendang perut korban sehingga membuat Abdul terjatuh ke dalam parit.

Bahkan, Idon ikut serta menendang korban yang sedang terjatuh di dalam parit. Abdul berusaha menahan pukulan dan tendangan dari para terdakwa sehingga akhirnya dapat melarikan diri.

Saksi Rizal dan Hadi Ismanto alias Gondrong yang melihat kejadian itu dari jarak 20 meter berusaha melerai pemukulan yang dilakukan para terdakwa. Tapi, korban terlebih dahulu dapat membebaskan diri.

Berdasarkan visum et repertum Nomor 64/ VER /RSKOMANG MAKES/2018 RUMAH SAKIT yang ditanda tangani oleh Dr Hilyati Harahap tanggal 10 Desember 2018 terhadap Abdul Mahmud ditemukan luka memar pada bagian kepala belakang dan luka memar di pinggang akibat trauma benda tumpul.

Perbuatan para terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) jo Pasal 55 KUHPidana.

OM VH

Berikan Komentar