OkeHukum

Diduga Jual Beras Pasar Murah ke Grosir, Oknum Perangkat Desa Lalang Sunggal Dilaporkan ke Kejati Sumut

Medan | okemedan. Pemerintah Desa Lalang, Kecamatan Sunggal dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) atas dugaan penjualan beras pasar murah ukuran 10 Kg ke toko grosir.

Oknum yang dilaporkan berinisial Irw, oknum Kepala Dusun (Kadus) II, Desa Lalang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang.

Berdasarkan data diperoleh, Rabu (8/7/2020), penjualan Beras pasar murah ukuran 10 kg sebanyak 30 karung tersebut dilaporkan perwakilan masyarakat Desa Lalang, Doli Aulia Harahap secara resmi ke Kejati Sumut pada Selasa 7 Juli 2020.

Tangkapan layar surat pengaduan warga ke Kejatisu.

Laporan pengaduan diterima dan ditandatangani H Rajab Nasution (tim pengaduan Kejati Sumut).

Menurut laporan pengaduan disebutkan, pada 30 April 2020, Kadus II Desa Lalang berinisial Irw dan Kades Lalang diduga menjual beras pasar murah ukuran 10 kg sebanyak 30 karung ke toko grosir, dengan harga Rp 95.000/karung.

Penjualan Beras tersebut tidak sesuai dengan penerapan Disperindag yakni Rp 85.000/karung.

Selain itu  beras tersebut merupakan bantuan kepada masyarakat terdampak Covid-19. Dan beras tersebut harusnya dijual kepada masyarakat terdampak Covid-19. Terkait informasi adanya pasar murah di kantor Desa Lalang, tidak tersebar luas ke masyarakat.

Masyarakat juga melihat langsung Kadus II, Desa Lalang diduga bersama perangkat Desa membawa beras ukuran 10 kg ke Toko Grosir Jalan Sri Mencirim sebanyak 30 karung. Beras itu dibawa dengan menggunakan Beca motor (Betor) milik Desa Lalang.

Curiga dengan situasi pandemi Covid-19, masyarakat langsung mempertanyakan kepada pemilik toko grosir berinisial Sy. Dan pemilik toko grosir mengatakan, beras ukuran 10 kg tersebut ditawarkan kepadanya dengan harga murah dan ia membelinya dengan harga Rp 95.000 /karung.

Pemilik toko grosir mengaku, ia membeli karena yang menjual dan menawarkan adalah Kepala Dusun II.

Selanjutnya masyarakat juga mempertanyakan kepada Kepala Dusun II, Desa Lalang, yang membawa beras tersebut.

Karena persoalan ini sudah viral di media sosial (Medsos), Kadus II, Desa Lalang mendatangi toko grosir tempat mereka jual beras, untuk menandatangani surat pernyataan bahwa beras itu bukan dijual, tetapi dititip. Jika tidak mau tandatangan, maka pemilik grosir bisa kena permasalahan.

Surat pernyataan pemilik grosir yang mengaku dipaksa membuat pernyataan bahwa beras tidak dijual kepadanya melainkan dititip. Ist

Meski awalnya menolak tandatangan, akhirnya pemilik toko grosir bersedia menuruti keinginan karena dipaksa Kadus II dan Kades Lalang.

Mengetahui hal tersebut, masyarakat menanyakan langsung ke toko dan bertanya ke pemiliknya. Ia mengaku dipaksa menandatangani surat pernyataan yang dibuat Kadus II.

OM-Vah

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button