OkeBiz

UMKM asal Yogya ini Temukan Kesuksesan Baru di Tengah Masa Sulit

MEDAN | okemedan. Tahun ini, para pelaku UMKM merayakan Hari Nasional UMKM 12 Agustus dengan kondisi yang berbeda.  Berbagai macam strategi dilakukan para pelaku UMKM agar tetap bisa bertahan di masa pandemi. Contohnya, produsen apron asal Yogyakarta bernama Risum. Pemiliknya, Alita F. Harsaningtyas, mengatakan ditengah pandemi ini naluri diri dan timnya semakin kuat agar bisa mempertahankan bisnis. Ia berusaha memaksimalkan semua platform untuk menarik sebanyak banyaknya pelanggan.

Sama seperti pemilik bisnis lainnya, di masa pandemi produksi apron Alita mengalami penurunan, utamanya karena target market Risum yang kebanyakan adalah restoran dan coffee shop yang mengalami kesulitan dan tidak bisa menjalankan bisnisnya. Meski produksi menurun, Alita tidak ingin begitu saja merumahkan karyawannya. Ia sadar bahwa kebanyakan karyawannya adalah ibu rumah tangga yang memiliki dapur yang harus tetap mengepul.

“Saat pandemi mulai terjadi di Indonesia, kami melihat ada banyak sekali oknum yang menimbun dan membuat harga masker melambung tinggi. Disisi lain, terjadi penipisan stok masker medis yang sangat dibutuhkan oleh tenaga kesehatan dan orang-orang yang memang sangat memerlukan. Melihat keadaan ini, kami tidak bisa tinggal diam, kami harus melakukan sesuatu,” ungkap Alita.

Berangkat dari keresahannya, Alita mencari tahu bahan alternatif untuk membuat masker. April lalu ia memutuskan untuk membuat masker kain dengan 3 lapisan. Alita tidak hanya menjual masker buatannya, namun ia mengajak Risumate, nama sebutan bagi customer Risum, untuk berdonasi. Setiap masker yang dibeli sama dengan menyumbangkan masker untuk dibagikan secara gratis. Alita menyadari masih banyak masyarakat di sekitar yang kurang mampu untuk membeli masker. Atas usahanya ini, ia bisa turut berperan di situasi pandemi, membantu sesama dan tetap memberdayakan karyawannya. Kegiatan yang ia lakukan selama tiga minggu ini berhasil menyalurkan 1000 buah masker kepada masyarakat yang membutuhkan.

Tak disangka, dari kegiatan donasi ini semakin banyak orang mengetahui Risum. Bisnisnya tetap dapat bertahan dan semakin dikenal. Risum mendapatkan pelanggan baru yang merupakan para ibu yang harus di rumah saja selama pandemi dan menginginkan apron untuk digunakan saat menyajikan masakan bagi keluarga.

Risum telah berdiri sejak tahun 2018. Alita melihat, semakin banyaknya restoran dan coffee shop yang baru dibuka membuat bisnis apron memiliki potensi yang besar sebagai salah satu media untuk branding. Ia pun memilih untuk memulai bisnis ini setelah memutuskan berhenti bekerja karena memiliki balita kala itu.

“Saat itu, saya masih bingung akan membuka bisnis apa dan mencoba menggali potensi diri apa yang bisa dikembangkan. Melihat keluarga besar yang memiliki bisnis di bidang kuliner, saya berpikir untuk memanfaatkan keahlian menjahit untuk memproduksi apron dan menjadikan mereka sebagai konsumen pertama. Dari sanalah awal bisnis apron ini dimulai. Risum sendiri artinya tersenyum dalam bahasa Latin, saya ingin membuat keluarga dan orang yang menggunakan apron saya tersenyum,” ujar Alita.

Alita membangun Risum seorang diri, mulai dari membeli bahan baku, menjahit apron, melayani konsumen, hingga promosi.  Lambat laun ia memutuskan merekrut karyawan dengan memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membantu menjahit apron. Tak berhenti sampai disitu, tekad Alita membesarkan bisnis Risum membuatnya terus belajar. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mengikuti kelas Gapura Digital, program Grow with Google yang mendukung UKM Indonesia untuk memajukan bisnis secara digital melalui pelatihan.

Berbekal ilmu yang didapat, Alita mulai memanfaatkan platform digital untuk mempromosikan apron buatannya. Berbagai alat promosi ia gunakan termasuk Google Bisnisku dan Google Ads. Pelanggan Risum awalnya hanya melihat-lihat produk di business-site yang biasanya digunakan untuk menampilkan produk dan artikel edukasi bagi calon pelanggan. Namun dengan fitur Maps di Google Bisnisku banyak calon pelanggannya yang memutuskan datang langsung ke lokasi workshop. Lambat laun penjualan terus meningkat dan semakin banyak ibu-ibu di sekitar tempat tinggal yang diberdayakan dengan membentuk kelompok-kelompok untuk memenuhi target pesanan dalam jumlah banyak.

OM-utami

 

 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button