OkeBiz

Rektor Unimed: Revolusi Industri 4.0 Bukan Tantangan

OkeMedan- Medan. Rektor Unimed Prof Dr Syawal Gultom MPd menegaskan revolusi industri 4.0 jangan dijadikan tantangan, tetapi bagaimana menghimpun peluang untuk membangun bangsa.

“Kita berharap dalam Conference ini bisa merumuskan sehingga kita tidak tertinggal dan menjadi korban dari Revolusi Industri 4.0,” ujar Prof Syawal Gultom saat membuka The 2 nd Uniceb (Unimed Internasional Conference Of Economic and Business) yang diselenggaran Fakultas Ekonomi Unimed di Convention Hall Garuda Plaza Hotel Medan,  Rabu (12/12).

Hadir pada kesempatan itu Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan RI Adrianto PhD,  Dekan Fakultas Ekonomi Unimed Prof Indra Maipita MSi PhD dan para wakil dekan, Ketua Panitia Uniceb 2018 Dr Azizul Kholis SE MSi, plenary speakers Director of Accounting Research Institute Universiti Teknologi Mara Malaysia Prof Normah  Omar PhD,  Prof Dr Hok Ngok Phung (Vietnam)  dan Dean Of Faculty Of Shariah Economic & Finance Islamic Internasional Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam Nasser bin Abdul Rony PhD.

Selanjutnya Wakil Rektor  1 Unimed Prof Dr Abd Hamid K MPd, Kepala Balitbang Pemprovsu Ir HMA Effendy Pohan MSi, Ketua Dewan Riset Daerah Sumatera Utara Prof Dr Harmein Nasution MSIE, Manager CSR PT Inalum (Persero) Ismail SE MM, Pimpinan BNI Wilayah Medan Welly Mahendra,  pimpinan Perguruan tinggi Rektor Universitas Medan Area Prof Dr Dadan Ramdan M Eng MSc, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Karya Tebing Tinggi Dr Mangasi Sinurat SE MSi CMA dan Ketua Yayasan Drs Lukito Cahyadi MM, pimpinan UISU diwakili Dr Syafrida MSi,  Ketua Prodi MM PPs UNPAB Dr Kiky Farida Ferine MM serta Ketua STIE Sultan Agung Dr Darwin Lie MM.

Prof Syawal Gultom menambahkan kata kunci revolusi industri 4.0 adalah etos dan belajar yang memadai.

Era revolusi industri 4.0 banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian.

“Ekonomi Digital merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Kita juga harus dapat memerankan diri kita atau institusional supaya kita tidak tertinggal di era revolusi Industri 4.0, ” ujar Prof Syawal.

Bahkan yang terpenting menghadapi revolusi industri 4.0 adalah leading kapacity dan leading organitation.  “Bukan tidak mungkin setelah ini akan mencul revolusi industri 5.0.  Manfaatkanlah revolusi industri 4.0 dan jadikan sebagai peluang,” katanya.

Selain itu,  tambahnya,  menghadapi revolusi industri 4.0 diperlukan big data.  Sebab,  siapa yang memiliki big data,  maka akan mampu menguasai dunia.

Prof. Syawal berharap dengan diadakan konferensi ini dapat merumuskan strategi apa yang harus dilakukan dalam dunia pereknomian Indonesia untuk menghadapi Rwvolusi Industri 4.0. sehingga dapat memanfaatkan peluangnya.

”Semoga dengan conferensi ini kita dapat melahirkan gagasan dan pemikiran baru untuk mengembangkan perekonomian di era revolusi industri 4.0.” tutup Prof. Syawal Gultom.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan RI Adrianto PhD
Indonesia harus siap menghadapi digital ekonomi di era Revolusi Industri 4.0.

Sementara itu Dekan FE Unimed Prof Dr Indra Maipita MSi PhD menjelaskan saat ini dunia sedang menjalankan “Era Digital”.

Tanpa disadari era ini telah mempengaruhi interaksi masyarakat, sehingga “Soft Skill di Era Digital” begitu urgen. Dunia kerja saat ini telah banyak dimudahkan teknologi. Namun, satu hal yang tidak bisa digantikkan oleh mesin terletak pada kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain, memahami, membangun dan membina hubungan yang disebut sebagai “Soft Skill”. OM ZAN 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button