KolomOkeBiz

Momentum Perbaikan Industri Reksadana

Oleh: Kishan Raj – Pemerhati pasar modal

Dalam kelanjutan perkara kasus Jiwasraya,  Kejagung menetapkan tersangka baru yakni 13 tersangka korporasi manajer investasi yang menggelola dana investasi Jiwasraya secara langsung. Kasus mega skandal Jiwasraya menjadi bola salju yang menggelinding menyeret banyak pihak.

Apa itu reksadana dan manajer investasi ?

Secara sederhana pengertian reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio, bisa saham, obligasi, mata uang asing oleh manajer investasi.

Sedang manajer investasi adalah pihak yang mengelola portfolio berdasar kebijakan investasi yang sudah disepakati serta bertanggung jawab atas kinerja reksadana. Misalnya, manajer investasi memutuskan jenis saham yang dibeli, dijual atau dipertahankan.

Reksadana mulai diperkenalkan di pasar kita sejak tahun 1996. Dimaksud untuk memudahkan investasi saham, cukup dengan modal Rp.100,000 kita sudah bisa berinvestasi di reksadana. Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana kelolaan pernah mencapai angka tertinggi pada Oktober 2019 yaitu 553,26 T. Dan pada akhir Mei 2020 menurun menjadi 474,2 T seiring dengan penurunan indeks akibat pandemi C-19.

OJK mencatat saat ini ada 97 MI yang beroperasi di Indonesia. Dari jumlah itu, 10 MI memiliki NAB terbesar menguasai sekitar 56% pangsa pasar industi reksadana.

Bagaimana dengan 87 perusahaan MI lainnya. Mereka harus jeli, pintar dan menarik agar dilirik investor. Dari segi saingan, industri asuransi sekarang tidak lagi hanya menjual proteksi tapi juga menawarkan produk investasi.  Kreditabilitas serta integritas MI sangat berpengaruh dan menentukan rekam jejak.

Kembali pada kisruh kasus Jiwasraya di atas – ketiga belas MI yg disebut memiliki dana kelolaan hampir 50 T, ini sekitar 10% dari total portofolio industri reksadana. Bukan angka kecil dan bisa pengaruhi  pasar modal kita.

Reksadana pada dasarnya dibuat untuk mengoptimalkan kumpulan dana dari orang banyak secara aman untuk memudahkan diversifikasi portofolio.

Pertengahan November 2017.  Ketua Dewan Komisioner OJK menekankan pentingnya menciptakan regulated market. Pekan lalu, OJK kembali menekankan agenda reformasi melalui program penyempurnaan aturan prudensial danperilaku pasar serta pengawasan yang konsisten.

Harapan kita dengan terungkapnya kasus dugaan keterlibatan MI dan oknum pejabat OJK harus disikapi sebagai  momentum untuk memperbaiki industri reksadana secara menyeluruh. Agar reksadana menjadi instrumen investasi yang aman, terpercaya serta amanah. Dan, yang terpenting kasus seperti ini tidak terulang lagi di masa depan. Regulated market bukan hanya pada kecangihan sistem namun juga kredibitas serta ketatnya wibawa pengawasan.*

 

 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button