KolomOkeBiz

Jiwasraya dan Duit 16 Triliun

“Greed is not a financial issue, it’s a moral issue”

Mega skandal korupsi Jiwasraya mulai disidangkan Rabu kemarin di pengadilan Tipikor. Enam terdakwa, tiga diantaranya bekas pimpinan PT Asuransi Jiwasraya, diduga merugikan keuangan perusahaan Rp 16,807 triliun atas pengelolaan dana investasi saham kurun 2008 – 2018.

Terungkap penggunaan nama samaran  dengan panggilan Chief, Rudy, Panda, Rieke, Mahmud serta Pak Haji dalam komunikasi whatsApp internal mereka. Sekarang kesemua mereka duduk sebagai terdakwa.

Tak tanggung potensi kerugian dari salah pengelolaan dana investasi saham yang diakibatkan oleh orang dalam perusahaan sendiri serta permainan kotor pelaku pasar modal yang memanfaatkan dana nasabah pembayaran premi asuransi. Ini adalah uang pensiun masa tua dari berjuta orang.

Badan Pemeriksa Keuangan berdasar pada hasil investigatifnya menemukan angka senilai Rp 4,65 triliun dalam investasi empat saham yg terdaftar di Bursa Efek dan penempatan Rp 12,157 triliun di 21 reksadana saham bentukan. Saat ini harga saham yang diinvestasi jatuh pada titik rendah bahkan ada yang lagi di suspend atau tidak diperdagangkan.

Perkara korupsi Jiwaserakah mengandung aspek serta berdampak pada ekonomi, industri keuangan dan pasar modal, sosial serta politik. Ini juga salah satu alasan mengapa perkara ini  langsung  diproses di Kejaksaan Agung. Walaupun dalam prosesnya Kejagung memblokir rekening saham milik para investor perorangan yang tidak ada hubungannya dengan perkara ini. Sesuatu yang dapat menimbulkan efek ketidakpastian akan investasi saham yang aman dan terpercaya di BEI. Pasar Modal dibangun atas dasar sistim kepercayaan.

Kasus ini tentu kita harapkan menjadi pembelajaran bagi semua pihak serta membuka tabir praktik tidak sehat di pasar modal dan pengelolaan dana masyarakat banyak. Aktornya juga nyaris sama, pemain lama.

Sungguh miris mengetahui dana – dana milik orang banyak dipakai untuk korupsi dan pesiar liburan di daerah resort world Sentosa sembari bermain kasino serta jalan jalan nonton konser Coldplay di Australia disamping seabreg keuntungan financial lainnya.

Sepatutnya juga pihak berwenang memeriksa lebih dalam internal AJS sendiri mengingat peristiwa salah investasi ini sudah berjalan lama, yakni kurun 2008 – 2018, bagaimana fungsi internal maupun auditor independen dan dewan pengawas bisa luput dari perhatian mengingat bahwa angkanya sangat besar? Apakah pengendalian intern sudah sedemikian lemahnya ?

Lembaga otoritas masih belum optimal dalam pengawasan serta memonitor ditambah enforcement yang lemah. Pembentukan OJK sejatinya untuk meningkatkan pengawasan persoalan keuangan non-bank dan sebagai benteng agar peristiwa krisis ekonomi 1998 tidak terulang kembali. Kita lihat kelanjutan perkara besar ini dan percaya bahwa pengadilan bertindak adil dan benar dalam membersihkan noda di pasar modal. Keadilan harus ditegakan.

Cuma bisa berpesan, “Bumi ini bisa mencukupi tujuh generasi, namun tidak pernah mencukupi tujuh orang yang serakah!”

Kishan Raj, Pemerhati pasar modal.

 

Berikan Komentar

Back to top button