OkeBiz

Google for Media Sesi Kedua Bahas Optimalisasi Berita di YouTube

JAKARTA | okemedan.  Google for Media, sebuah rangkaian enam sesi webinar membahas apa saja program dan kemitraan yang telah Google lakukan dengan perusahaan media di Indonesia menyelenggarakan sesi kedua, Rabu (26/08) . Sesi kedua Google for Media ini mengangkat tema “News on YouTube” berupa diskusi tentang bagaimana media berinovasi dengan YouTube. Pada webinar ini  dijelaskan bagaimana Google bekerja sama dengan lembaga-lembaga berita di Indonesia melalui berbagai produk, kemitraan, dan program yang ada di Google.

Google News Initiative sudah dua kali mengadakan APAC Innovation Challenge, pada tahun  2018 dan 2019, sebagai bagian dari komitmen Google sebesar 300 juta dolar untuk membantu perkembangan jurnalisme di zaman digital ini. Di tahun 2018, Google juga mengadakan program YouTube Innovation Funding yang difokuskan bagi partner-partner berita di YouTube.

Saat ini YouTube adalah salah satu platform berita yang sangat berpengaruh di dunia. Di negara mobile-first seperti Indonesia, video adalah salah satu cara utama untuk mendapatkan berita. Harus bisa menemukan cara-cara inovatif untuk memproduksi, mencari, dan menyampaikan berita untuk mengedukasi publik tentang isu-isu yang bisa berdampak pada kondisi kesehatan, keluarga, dan komunitas mereka. Dengan 170 juta pengguna internet di Indonesia, video adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan secara cepat dan luas.

Kegitan ini mendapat apresiasi dari Dewan Pers. “Dewan Pers menyambut baik inisiatif Google untuk meningkatkan kompetensi para wartawan, khususnya terkait dengan bagaimana membuat news on YouTube. Di saat-saat seperti ini, peningkatan kompetensi adalah satu yang penting,” ungkap Hendry Ch Bangun, Wakil Ketua Dewan Pers dalam sambutannya.

“Kemampuan untuk membuat berita yang dapat di upload ke YouTube juga dapat memberi keuntungan ekonomi. Karena kita tahu bahwa orang-orang yang memanfaatkan berita ke YouTube itu akan mendapatkan keuntungan material tertentu jika ia mendapat kunjungan yang baik yang besar. Nah dalam hal ini, wartawan dapat memperoleh manfaat semaksimal mungkin,” tambahnya.

Dalam pada itu, menurut tim KompasTV, yang perlu dilakukan adalah beradaptasi. Bimo Cahyo, News Network Manager of Regional Bureaus, mengatakan: “Salah satu adaptasi yang kita peroleh dari project ini adalah mengenai bagaimana cara kita bekerja. Selain cara kita bekerja adalah cara bagaimana kita menghasilkan tayangan di layar secara cepat. Itu yang mengubah bagaimana ketika setiap ada acara besar atau peristiwa breaking news yang di lokasi, maka tahapan pertama yang kita lakukan adalah bagaimana mengirimkan visual berupa video justru dari smartphone. Haris Mahardiansyah, Digital Manager, menambahkan: “Jangan ragu lagi kalau mau melakukan peliputan, dokumentasi, atau bahkan live report dengan menggunakan handphone. Menurut kami di KompasTV yang sudah melakukannya, memang sudah saatnya kita tidak meragukan si alat handphone yang sudah setiap hari kita pakai itu.”

“Program ini juga melengkapi kami dari sisi demografis. Sekarang kami dapat menunjukkan kepada pemangku kepentingan bahwa dengan digital, khususnya di YouTube, kami dapat menjangkau audiens yang lebih muda, berusia 15 hingga 35 tahun, dengan berbagai konten. Kami sangat senang dengan hasilnya. Inilah yang kami butuhkan di organisasi kami sebagai langkah awal untuk memulainya,”  ujar Jimmy Sameylanda, Chief Operating Officer, PT VIVA Media Baru.

Yunita Mandolang, GM, News Research and Development, iNews, menceritakan, “Mobile Journalist Competition ini memaksa kami mengubah pola pikir tim redaksi yang sudah terbiasa dengan hal-hal besar, dengan tim yang besar, dalam membantu kami menjalankan tugas memproduksi berita dan konten televisi. Sekarang berubah menjadi kecil, menggunakan ponsel, dan mungkin nanti menambahkan ekstensi mikrofon. Kelihatannya sederhana tetapi tidak mudah. Jadi belakangan ini kami sering mencari tahu kami mau seperti apa, harus berbuat apa, di mana value kami, apakah kami harus mencari value baru atau tidak.. Di masa-masa yang penuh pertanyaan seperti ini, GNI ini ternyata bisa hadir seperti sahabat, sebagai partnership.”

Dari diskusi webinar kedua tersebut, diperoleh kesimpulan antara lain agar informasi yang disajikan di kanal YouTube dapat diterima dengan baik oleh audiens yang tepat, diperlukan strategi dalam pengelolaan kanal YouTube.

Salah satu prinsip dasar yang perlu dilakukan dalam menyusun strategi konten di YouTube adalah bagaimana perusahaan media bisa membedakan strategi konten mereka. Menawarkan konten yang berbeda bisa membantu perusahaan media untuk mencapai tiga sasaran berbeda, yaitu menjangkau penonton baru, meningkatkan dan mempertahankan jumlah subscriber, dan menjalin interaksi dengan komunitas.

OM-nta

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button