Kandang10

Musim Kawin, Musim Jalan Ditutup Suka Suka Hatinya

"Elok Elok Kelen Yo Berumah Tanggo..."

MEDAN | okemedan. Di dunia ada 4 musim, Kak`e. Musim panas, musim dingin, musim semi, musim gugur. Orang kampung menyebutnya summer, winter, spring dan autumn. Awak di Indonesia lebih banyak lagi musim daripada orang Eropa. Selain musim kemarau dan musim hujan, kek sekarang ada musim durian, bentar lagi musim Liga Inggris, musim Pilkada. Itu hari ada musim Begal, sekarang udah bekurang. Hari ini Medan sekitarnya juga dilanda musim gugur. Kog bisa?  Bisalah, buktinya banyak daun beguguran di jalan dilantak hujan . Hmm, coz the day is rain, long taing pulak, awak pun jadi mager: malas gerak.

Cerita soal musim, sekarang juga lagi musim kawin, Kak`e. Basa Inggrisnya wedding season.  Lepas hari raya haji , rame pesta di sana sini. Katanya karena bulan baik.  Ntah kapan pulak ada bulan jahat. Sama macam nomor kursi. Katanya kalok pigih berjalan jan duduk di kursi nomor 13 , nanti sial. Ah,mo kali percaya. Awak yang seringan duduk nomor 13, mo naek bus, mo naek kapal terbang. Aman aman aja. Pernah pun awak nginap di satu hotel, dikasi kamar nomor 1313. Berarti dobel sial kan kalok ngikuti sirik? Tapi faktanya, selow awak di dalam. Acemana gak, posisi kamar di sudut, kamar sultan, bro. Puas awak nengok pemandangan kiri kanan. Tinggi kali gak, rendahpun bukan. Sedang sedang saja. Malam malam awak bukak gordin semua, onde mande tusde fraide…cantiknya lah negeri orang. Sampe halu awak jadi Batman mau terbang, tak taunya Fatman.

Nah cerita undangan, awak yang tinggal di kampung dah budaya di samping  dapat surat undangan juga ada undangan ala punjungan. Opo iku jenange Punjungan? Itu loh undangan special. Dekat dekat pesta, tetiba datang orang ke rumah ngedor ngedor. Pikir tukang catat meteran listrik dan air,  rupanya orang ngantar paket ayam gule setengah ekor lengkap sama sambal toco, sambal goreng, mi hun. Kerupuk dan peyek. Terus ada kertas kecik, ditulis Punjungan sama nama yang kawin dan alamat.

Di Medan dah jarang ada undangan ala punjungan. Adanya model undangan selembar aja atau kalok kejauhan undangan difoto terus dikirim via Wak Sap, disingkat WA. Tapi di pinggir Medan dan di kampung kampung masih berlaku. Macam di Maryland City dan T City (baca Tembung City).

Konon, kalok awak dapat kiriman punjungan, it`s sebuah kehormatan. Berarti awak bukan orang biasa biasa. Maka wajib awak datang pada hari H. Isi amplop pun harus lebih tebal dari yang biasa. Tipis boleh, asal isinya minimal biru selembar atau merah.

Ini dah kena tonjok istilahnya, eee…ngasi amplop isinya warna coklat selembar. Tu namanya  mau menang banyak. Datang bawak rombongan anak cucu pulak lagi. Gitu amplop diintip, ahli baik senyum kecut. Acemana gak kecut, datang sampe lima orang, lima lima makan daging rendang. Berarti kan satu orang ngasi seribu perak. Gak balmod kata mempelai.

Memang ada jugak terkesan kita yang dipunjung jadi terpaksa. Mo gak mau awak musti ngasi lebih dari biasa.Sempat awak tokoh masyarakat, sekali datang empat, cobak, apa gak peniti kepelong?

Tapi di luar soal itu, yang pasti Alhamdulillah juga sekarang banyak orang kawin banyak pulak yang keciprat rezeki.

Macam mak bidan penganten, tukang hantaran, pelukis henna, tukang sewa pelaminan, dekor, teratak, baju adat,  rental kibod dan sound, anak band,  penyanyi, tukang masak, catering, tukang foto, video, cetak undangan,  dan lain-lain sekarang dah mulai bisa tersenyum. Bayangkanlah, dah setengah tahun usaha orang itu telungkup gegara Covid-19.

Yang beruntung yang sengaja milih nikah waktu rame ramenya covid. Pulaknya motif: modal tifis. SIkit keluar biaya. Nikahnya di kantor KUA atau di rumah. Acaranya cuma wirid keluarga kedua mempelai. Undang tuan kadi, ijab kabul, markobar. “Elok elok kelen yo berumah tangga, jangan lupo solat lima waktu. Kalok begadoh mengadulah sama mertuamu.”.  Habis acara nasehat ditutup doa,  makan siang, selesai setengah hari. Selama covid, penganten perempuanlah  menang banyak. Karena ga ada pesta, uang hangusnya bisa ditabung.

Tapi itulah, berhubung balek lagi musim pesta kawin, balek pulak awak tengok jalan pun dah mulai kenak tutup. Sedang soor awak bawak motor, eee…tetau di mukak jalan ditutup ada pesta kawin.

Inilah kalok yang pesta otaknya kurang diaktifkan.  Ga da kasi tanda apa-apa di jalan. Inilah harusnya jadi perhatian Ketua RT RW. Pasang kek palang pengumuman dari jauh yang muidah kita mutar balek.

Tekadang kecik jalannya,  cobak, apa gak hajab awak mutar mutar stir sama ukur sudut. Yang nek kereta masih enak, bisa masuk gang. Itupun kalok yang di gang otaknya dipakek semua.

Tiba model Siti Sirik, pantang nengok orang senang sikit. Gegara palak banyak kali asap dan bising suara kereta, eee…jalan gangnya dipayah payahkan orang lewat, ditarok batu segala macam. Pernah ada yang sampe menutup gangnya. Parah kali kek gitu kan? Entah apa bencinya sama yang pesta.

Tak tau dia, barang siapa yang memudahkan urusan sodaranya di dunia, nanti dimudahkan Allah urusannya di akhirat. Hmm.. wak wak…Udah syukur gak didoakan orang payah matinya.

DIurnanta Qelanaputra

 

 

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button