Webinar FK UISU: Sumut Red Zone, Waspadai Double Outbreak Pada Anak

oleh -108 kali dibaca
Prof Ismet Danial Nasution, drg Bersama Rektor UISU, Dr H Yanhar Jamaluddin MAP foto Bersama tim Webinar Fakultas Kedotkeran UISU di Kampus Fakultas Kedokeran Jalan STM Medan, kemarin (27/6) usai pelaksanaan webinar tentang Sumut Red Zone, Masalah Tantangan dan Solusi..ist

Medan | okemedan– Pandemi covid19 saat ini dikhawatirkan akan menimbulkan double outbreak pada anak, artinya kejadian luar biasa ganda akibat terhambatnya program imunisasi pada anak kini menjadi persoalan yang baru.

Hal itu dipaparkan dr Ari Kurniasih MKed (Pen) SpA saat menjadi pembicara dalam kegiatan webinar Fakultas Kedokteran UISU, Sabtu (27/6/2020).

Webinar dengan tema Sumut Red Zone, Masalah Tantangan dan Solusi mengundang pakar-pakar kesehatan dari berbagai bidang keilmuan.

Selain dr Ari Kurniasih MKed (Pen) yang juga relawan di beberapa rumah sakit, hadir juga Prof Ismet Danial Nasution drg PhD SpPros (K) FICD yang juga Ketua Umum Yayasan UISU menjadi keynote speaker dengan tema Dental Treatmen During Covid19 Pandemi.

Selain itu turut sebagai pembicara, dr Aris Yudhariansyah MM dengan topik Update terkini covid19 di Sumatera Utara. Kegiatan yang dimoderatori dr Dewi Pengestuti M biomed diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar kota.

dr Ari Kurniasih memaparkan bahwa pandemic covid19 memunculkan kekhawatiran orangtua untuk membawa anak-anaknya ke pusat pelayanan kesehatan untuk imunisasi.

dr Ari Kurniasih MKed (Pen) SpA saat menyampaikan materi webinar dari Kampus Fakultas Kedokeran Jalan STM Medan, Sabtu (27/6/2020).ist

“Sebelum pandemi covid saja, cakupan kunjungan imunisasi masih rendah,” ujarnya. Terlebih dua bulan terakhir, kata dr Ari Kurniasih, cakupun kunjungan imunisasi sangat rendah.

Kondisi itu mengkhawatirkan karena banyak penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Tetapi dengan rendahnya cakupan kunjungan imunisasi karena orangtua khawatir maka penyakit campak, difteri dan penyakit lainnya kembali menjadi ancaman serius buat anak-anak.

Sebelum covid, katanya, penyebab kematian bayi dan balita, karena diare, meningitis, TB , DBD masih cukup banyak. “”DIkhawatirkan akan manjadi penyakit penyerta pada covid 19 anak,” katanya.

dr Ari Kurniasih juga memaparkan bahwa data tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat ke 73 negara dengan kondisi gawat nutrisi (mallnutrisi).

“Tiga dari lima anak Indonesia mengalami mallnutrisi,” ujar dr Ari Kurniasih MKed yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran UISU itu. Dampak pandemi covid yang diprediksi menimbulkan ancaman kelaparan global akan melahirkan kondisi gizi buruk maupun stunting.

Untuk itu, sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Ari Kurniasih berharap agar orangtua tidak ragu dan tetap membawa anaknya untuk imunisasi di pusat pelayanan kesehatan.

Prof Ismet Danial Nasution drg PhD SpPros (K), FICD saat menyampaikan materi webinar dari Kampus Fakultas Kedokeran Jalan STM Medan, Sabtu (27/6/2020).ist

Caranya, beberapa pusat layanan kesehatan sudah beradaptasi dengan situasi pandemi ini dengan menyediakan ruang tunggu berjarak dan ruang tunggu terpisah untuk anak-anak yang sakit dan anak-anak yang akan melakukan imuniasasi.

“Bahkan beberapa rumah sakit sudah menerapkan imunisasi drivethru. Orangtua membawa anaknya dan petugas langsung melakukan imunisasi di dalam mobil,” jelasnya.

Sementara itu, Prof Ismet Danial Nasution dalam paparannya mengajak kepada masyarakat agar pandemi covid19 tidak hanya dilihat dari aspek keilmuan tetap juga keimanan.

Prof. Ismet Danial Nasution juga berharap agar masyarakat tetap mensyukuri nikmat kehidupan dan kesehatan dengan bijaksana berlandaskan keilmuan dan keimanan. Maksudnya, masyarakat tetap harus menjalankan protocol kesehatan seperti yang disampaikan pemerintah dan para ahli tetapi juga tetap harus dilandaskan pada keimanan kepada Allah SWT.

Sebagai salah seorang pakar kesehatan, ia menganjurkan kepada masyarakat untuk menunda ke praktik dokter gigi.

“Kecuali karena kondisi yang mendesak. Misalnya, rasa nyeri tak tertahan, adanya pembengkakan akibat infeksi yang tidak dapat diatasi pasien, adanya pendarahan yang tidak terkontrol atau trauma pada gigi atau tulang akibat kecelakaan,” sebutnya.

(zan/ril)

Berikan Komentar