Kolom

MER(D)EKA BELAJAR

Oleh. Rezha Destiadi, S.Sn, M.Ds

Salah satu terobosan yang dipacu oleh Mas Menteri Nadiem adalah program Merdeka Belajar. Berbagai kebijakan strategis ditempatkan sesuai dengan tingkatan kebutuhan. Di level sekolah, UN ditiadakan.

Di level kampus, pembukaan prodi dimudahkan. Namun, belum genap tiga ratus enam puluh lima hari, programnya sudah diberikan ujian dengan pandemi, beberapa bulan ini.

Hal ini semakin menambah panjang deretan tantangan yang harus diselesaikan.

Salah satunya adalah program MERDEKA BELAJAR. Sebenarnya, siapa yang dituju oleh program merdeka belajar ini? Ya. intinya adalah agar MEREKA (peserta didik), MERDEKA!

Menengok teori pemasaran yang berkata bahwa agar produk merdeka, pahamilah siapa khalayaknya. Di dunia pemerintahan, juga sama.

Sebagai pelayan publik, orientasinya harus memuaskan siapa pelanggan atau pengguna jasanya. Sederhananya, manajemen yang harus diterapkan adalah sikap orientasi berbasis pada konsumen. Sinonim dengan dua contoh di atas, di dalam dunia pendidikan juga demikian.

Bagaimana agar mereka (peserta didik) dapat belajar dengan baik. Mulai dari tingkat bawah hingga atas. Mulai dari pra sekolah hingga universitas.

Mengajar di tengah bonus demografi dan juga pandemi, memang tak mudah.
Tahun 2020 dimulainya bonus demografi sekaligus terjadinya pandemi. Jumlah populasi pemuda mencapai 30% di Indonesia.

Sedang, pandemi telah ‘melumpuhkan’ pembelajaran tatap muka. Solusinya adalah kelas daring melalui duni maya. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan teknologi menjadi viral karenanya.

Berbulan-bulan pembelajaran jarak jauh ini berlangsung juga telah menghasilkan pro-kontra.

Belum mandi, sudah bisa isi presensi. Lalu tidur lagi. Atau bisa online, tanpa mesti pakai sepatu dan kaus kaki. Ada juga yang dianggap mengajarnya tidak sepenuh hati.

Sekadar memberikan tugas setiap hari.
Semua sepakat, bahwa kondisi berjam-jam di depan layar berbeda bila dibandingkan dengan di depan kelas. Tantangannya adalah perihal antusias, kelelahan, dan kebosanan.

Peserta selalu punya celah untuk ‘keluar’ dari ruang virtual. Indikatornya: wajah tak tampak, berbagai intrik manipulasi jaringan, dan sebagainya.

Tantangan berikutnya adalah usia pendidik yang terus bertambah, sedangkan archetype/ pola generasi peserta didik yang justru selalu berubah. Penetrasi digital dan internet semakin kencang di generasi mereka. Tetapi tidak dengan pengajar.

Sebagai turunannya dalam mencapai MERDEKA BELAJAR, Perubahan generasi yang terjadi harus segera dipahami dengan baik dan juga bijak. Gagasan yang harus dipahami oleh dosen adalah karakteristik media dan content yang biasa dilihat, digunakan dan digandrungi mahasiswa.

Berbagai sumber mengatakan, bahwa karakter generasi digital native sekarang ini hanya mempunyai ketertarikan yang sangat singkat. waktu interest tidak lebih dari 2 menit. Bahkan dalam hitungan beberapa detik.

Bahkan di salah satu portal berita, ada satu akun yang video grafisnya hanya 20 detik. Alih-alih karena mereka lebih sering bosan, mereka juga senang dan menyukai sesuatu yang baru, dan berbeda.

Makanya kemudian mereka dengan cepat mengganti saluran. Dengan catatan ini, dosen harus mampu menciptakan ruang kelas menjadi menarik. Salah satu fokusnya melalui materi pembelajaran yang tepat guna.

Ia bisa menggunakan ragam media (platform) dengan karakter format, durasi, tipe visual  dan juga karakteristik dari masing-masing media tersebut.Untuk format, setiap channel/ platform tentu berbeda ukuran.

Dosen harus menyesuaikannya. Apakah ukurannya nanti horizontal, atau vertikal, ataupun square. Berikan salah satu materi  dengan format rasio layar smartphone (portrait). Seperti yang biasa dilihat di IG Stories ataupun IGTV.

Penyamaan format ini, bisa dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pemirsa (peserta didik) dalam melihat materi yang dibuat.

Kemudian berkaitan dengan durasi, seperti halnya konten-konten viral di tik-tok yang videonya sangat pendek.

Platform ini pun perlu dicermati, bagaimana upayanya agar materi perkuliahan itu bisa dipecah ke dalam berbagai segmen dengan durasi yang singkat-singkat. Sebagai contoh @dapurfajar yang kontennya viral memberikan tips, tutorial menjadi chef dadakan dalam durasi yang sangat singkat.

Memang, perlu disadari juga selain kemampuan aplikasi teknologi, juga dibutuhkan kemampuan narasi komunikasi yang unik dan berbeda.
Kemudian, ada Line yang karakternya unik.

Banyak stiker, dan penggunannya bisa membaca komik digital. Melalui gagasan ini, kita bisa merancang komik agar selanjutnya bisa dibaca oleh peserta didik/ mahasiswa pada aplikasi Line.

Tipe visual pun menjadi sangat penting bagi generasi Phi. Generasi Phi, sebutan yang dikatakan oleh Dr Muhammad Faisal (2017) dalam bukunya Generasi Phi, sebagai generasi pengubah Indonesia.

Mereka senang melihat visual. Materi yang dibungkus dengan seni dan kreatifitas seperti halnya foto, video, infografis, videografis, animasi, komik, dan yang lainnya.

Tantangan yang juga menjadi perhatian adalah kemampuan para dosen yang tidak semuanya mampu beradaptasi terhadap kebutuhan para peserta didiknya. Khususnya bagi mereka, dosen yang sudah berumur.

Mereka tidak mungkin lagi untuk mempelajari setiap karakteristik media yang kemudian akan digunakan dalam perkuliahan dan menampilkan hal pembeda. Upaya maksimal yang bisa mereka sajikan, paling hanyalah materi dalam bentuk Slide. Itupun, banyak yang hanya salin-tempel teks saja.

Bagaimana mahasiswa mau merdeka, kalau yang disajikkannya saja tidak ada yang berbeda.

Kalaulah terpaksa hanya menggunakan Slide, dosen tetap harus membuat tampilannya tidak monoton dan konvensional. Materi bisa dikemas dengan polesan dan sentuhan elemen warna yang cerah, slide yang tidak penuh dengan teks, dan sebagainya.

Menjawab tantangan besar dalam MERDEKA BELAJAR, kampus sebagai sebuah lembaga, mempunyai peran besar. Kampus bisa membangun production house, multimedia house, ataupun serupa dengan itu untuk mengimplementasikan kebutuhan visual materi para dosen, dan juga menjawab karakteristik generasi peserta didik.

Unit tersebut dapat mempekerjakan alumni, melakukan pendampingan, perancangan dan juga pengaplikasian kepada dosen-dosen yang ingin memodifikasi materi perkuliahan sehingga cocok dengan karakter peserta didiknya.

Pada akhirnya, diperlukan kepekaan dalam menyikapi tantangan ini. Jangan sampai ada satu peran pun yang dinafikkannya.

Rezha Destiadi, S.Sn., M.Ds
Lecturer & Visual Storyteller
rezhadestiadi.com

Berikan Komentar

Baca Juga

Back to top button