MEDAN | okemedan
Seruan untuk mengambil tindakan terhadap kacamata pintar semakin menguat di Eropa setelah video yang direkam secara diam-diam yang menampilkan para gadis muncul di internet, menimbulkan kekhawatiran tentang privasi dan potensi penyalahgunaan teknologi AI.
Kacamata pintar yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai kemajuan baru dalam teknologi yang dapat dikenakan. Produk-produk ini memungkinkan pengguna untuk melakukan berbagai tugas seperti mengambil foto, merekam video , dan berinteraksi dengan asisten AI tanpa harus mengeluarkan ponsel mereka.
Namun, justru kemampuan untuk merekam secara diam-diam itulah yang menyebabkan kacamata pintar menghadapi peningkatan penentangan di Eropa.
Menurut laporan, beberapa orang telah menggunakan kacamata pintar untuk diam-diam merekam wanita, dan video-video ini kemudian dibagikan secara online. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran bahwa orang-orang yang muncul dalam video tersebut mungkin sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang direkam.
Di Inggris dan Irlandia, sebuah kampanye bernama “Hentikan Penjualan Kacamata Pintar” telah diluncurkan, disertai dengan petisi dan seruan kepada masyarakat untuk menghubungi toko-toko guna memprotes penjualan produk tersebut. Petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 9.100 tanda tangan. Jika mencapai 10.000 tanda tangan, pemerintah Inggris harus memberikan tanggapan.
Sementara itu, pekan ini, Oslo, ibu kota Norwegia, melarang penggunaan kacamata pintar di sekolah-sekolah. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan larangan fitur pengenalan wajah di tempat umum.
Di Swedia, desainer Mateusz Pozar meluncurkan situs web “Ban Ray” awal tahun ini, mendesain rambu larangan kacamata pintar dan menjual stiker ini ke tempat-tempat yang ingin menerapkan larangan tersebut.
Di tingkat Uni Eropa, beberapa anggota parlemen Eropa menyerukan klarifikasi apakah perangkat-perangkat ini mematuhi peraturan perlindungan data dan AI yang ada.
Komisi Eropa menyatakan bahwa otoritas perlindungan data di setiap negara anggota bertanggung jawab untuk memantau dan menegakkan peraturan privasi.
Sementara itu, Dewan Perlindungan Data Eropa telah meminta sebuah laporan, yang diperkirakan akan diterbitkan pada musim gugur, yang berfokus pada “penerimaan sosial” kacamata pintar.
Debat di Eropa menunjukkan bahwa perkembangan AI dan perangkat wearable pintar tidak hanya membuka kemungkinan baru tetapi juga memaksa masyarakat untuk menetapkan batasan yang jelas guna mencegah teknologi tersebut digunakan untuk melanggar privasi.
OM – nta








