MTQ Sumut 40 : Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah

Penulis : 

Prof. Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag

MEDAN | okemedan

Dalam salah satu program dialog TVRI Sumatera Utara yang bertajuk Obrolan Warung Kopi (OWK), saya ditanya oleh salah seorang peserta mengenai makna tema MTQ Sumatera Utara ke-40, yaitu “Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah.” Menurut beliau dan beberapa orang lainnya, frasa satu irama tilawah dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an dianggap kurang tepat. Alasannya, jika dimaknai secara harfiah sebagai hanya satu irama, maka baik peserta golongan anak-anak, remaja, maupun dewasa tidak akan pernah dapat mencapai juara.

Dalam perlombaan MTQ, seorang qari atau qariah dituntut membawakan beberapa lagu atau maqamat. Minimal terdapat lima hingga tujuh lagu yang biasanya harus dilantunkan. Jika seorang qari hanya membawakan lagu Soba dari awal hingga akhir, atau Nahawand dari awal hingga akhir, atau Bayati saja sepanjang penampilan, maka hampir dipastikan ia tidak akan memperoleh nilai terbaik. Karena itulah muncul pertanyaan, bagaimana sesungguhnya makna tema tersebut?

Ketika pertanyaan itu disampaikan kepada saya, saya mencoba merenung dan menangkap semangat yang ingin dibangun oleh Gubernur Sumatera Utara melalui tema tersebut. Jika kita mencermatinya dengan lebih tenang dan lebih mendalam, maka akan ditemukan bahwa tema ini mengandung makna yang tidak hanya filosofis, tetapi juga strategis.

Makna pertama dari satu irama tilawah adalah kesatuan, bukan satu dalam arti angka yang berdiri sendiri lalu diikuti dua, tiga, atau lima. Kesatuan yang dimaksud adalah ketika seorang qari melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan berbagai irama, mulai dari Bayati, Nahawand, Soba, Hijaz, Rast, dan lainnya, seluruh irama tersebut menyatu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Justru keindahan tilawah Al-Qur’an lahir dari harmonisasi membentuk suara yang sangat indah.

Ketika seorang qari membacakannya dengan baik maka pendengar tidak lagi fokus pada perpindahan lagu demi lagu, melainkan menikmati satu alunan kalam Allah swt yang indah dan menyentuh. Kalaupun ada yang memisahkan dan menghitung jumlah lagu yang dibawakan, hal itu lebih merupakan kebutuhan para dewan hakim dalam melakukan penilaian terhadap kemampuan peserta. Namun hakikat keindahan tilawah terletak pada keterpaduan seluruh lagu yang dibawakan secara harmonis, sesuai kaidah dan ketentuan musabaqah. Inilah merupakan makna yang perlu kita tangkap.

Kaitannya dengan Sumatera Utara, tema Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah berangkat dari keindahan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memilki keindangan. Sebab kemukjizatan Al-Qur’an bukan hanya terletak pada kandungan makna dan isyarat ilmiahnya, tetapi juga pada keindahan bahasanya.

Seorang qari melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, sesungguhnya ia sedang menampilkan salah satu aspek kemukjizatan Al-Qur’an, yaitu kemukjizatan bahasa. Ketika para peserta Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) menampilkan hasil penelitiannya, kita menyaksikan kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi ilmu pengetahuan dan isyarat ilmiah yang terkandung di dalamnya. Semakin dalam Al-Qur’an dikaji, semakin banyak pula pesan-pesan luar biasa yang dapat ditemukan sebagai petunjuk dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

“Satu Irama Tilawah” tidak dimaksudkan sebagai penyederhanaan maqamat dalam seni membaca Al-Qur’an, melainkan sebagai simbol kesatuan visi, harmoni, dan keselarasan gerak umat dalam membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah kehidupan masyarakat. Irama dalam konteks ini bukan sekadar nada, tetapi metafora tentang kebersamaan langkah dan kesamaan arah perjuangan.

Walaupun qari melantunkan ragam lagu yang berbeda, seluruhnya tetap bermuara pada satu tujuan. Menghadirkan keindahan bacaan Al-Qur’an yang menyentuh hati. Begitu pula masyarakat Sumatera Utara, meskipun terdiri dari beragam suku, budaya, organisasi, dan latar sosial, semuanya diharapkan bergerak dalam satu tekad membangun daerah yang religious dan harmonis.

Makna kedua dari satu irama tilawah adalah bahwa segala sesuatu bermula dari satu. Satu yang dimaksud adalah Al-Ahad, Allah Yang Maha Esa. Oleh karena itu, satu irama tilawah tidak boleh dipahami hanya dari sisi lahiriahnya. Tema ini ingin menegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai kalam Allah bersumber dari Allah Yang Maha Esa, yang menjadi tujuan dan orientasi hidup manusia. Dari satu irama itulah lahir berbagai irama lainnya, tetapi semuanya tetap terhubung dengan sumber yang sama.

Dalam tradisi tilawah, Bayati sering dipandang sebagai maqam dasar yang menjadi titik awal sekaligus tempat kembali. Analogi ini mengingatkan bahwa keberagaman pada akhirnya tetap berpangkal dan bermuara pada satu sumber yang sama.

Para filosof menggambarkan cahaya matahari yang menyebar ke seluruh penjuru alam, tetapi tetap berasal dari satu sumber, demikian pula kehidupan manusia yang beragam pada hakikatnya kembali kepada Yang Maha Esa. Inilah esensi tauhid yang ingin ditegaskan melalui tema tersebut.

“Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah.” ini menegaskan bahwa keberkahan Sumatera Utara tidak mungkin diwujudkan melalui kerja sendiri-sendiri, melainkan melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, ulama, akademisi, tokoh adat, generasi muda, hingga komunitas sosial memiliki peran yang saling menguatkan. Kolaborasi menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban yang tidak hanya maju secara pembangunan fisik, tetapi juga kokoh secara spiritual dan sosial. MTQ momentum kolektif untuk mempererat ukhuwah, memperkuat identitas keislaman, serta membangun optimisme bersama menuju Sumatera Utara yang berkah, maju, dan berkeadaban.

Pluralitas agama, suku, budaya, tradisi, dan bangsa merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun seluruh keberagaman itu tetap berpijak pada kesadaran akan pentingnya persatuan dan nilai-nilai ketuhanan. Karena itulah sila pertama Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, yang diterima oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.

Adapun dari sisi strategis, tema Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah mengandung pesan bahwa Sumatera Utara merupakan daerah yang multietnis, multikultural, multitradisi, dan multiagama. Keberagaman tersebut tidak boleh menjadi sumber perpecahan, tetapi harus menjadi kekuatan yang disatukan dalam semangat kolaborasi untuk mewujudkan Sumatera Utara yang berkah, maju, harmonis, dan sejahtera.

Dengan demikian, tema MTQ Sumatera Utara ke-40 sesungguhnya mengandung pesan yang sangat dalam. Satu irama bukan berarti menyeragamkan kemampuan atau menghapus keberagaman, tetapi menyatukan semangat dalam harmoni. Sedangkan kolaborasi Sumut Berkah merupakan ajakan moral agar seluruh elemen masyarakat berjalan bersama dalam nilai-nilai Al-Qur’an untuk menghadirkan kedamaian, persatuan, dan kesejahteraan bagi Sumatera Utara.