Mengenang Sang Playmaker Handal PSMS Medan dan Timnas, Zulham Effendi Harahap

Oleh : Indra Efendi Rangkuti

Zulham Effendi Harahap adalah salah satu bintang Legendaris PSMS dan Timnas Indonesia era akhir 70-an dan awal 80-an. Dirinya juga dikenal sebagai salah satu playmaker terbaik yang dimiliki Indonesia. Selain menjadi bintang di PSMS, Zulham Effendi Harahap juga adalah bintang ketika membela Persib Bandung dan Pardedetex.

Zulham Effendi Harahap lahir di Medan pada 9 Desember 1954. Ia anak kedua dari 6 bersaudara. Ayahnya, Marzuki Harahap adalah seorang guru. Marzuki Harahap sendiri di masa mudanya sempat menjadi seorang pesepakbola di kampung halamannya di Aek Badak Tapanuli Selatan.

Sejak kecil Zulham sudah hobi bermain sepakbola bersama teman – teman sepermainannya di daerah tempat tinggalnya di Brayan Bengkel Medan.

Bakatnya yang besar kemudian terpantau oleh tokoh sepakbola Medan yang membina klub Medan Utara yaitu Umar Chattab pada saat dirinya duduk di Kelas 2 SMP. Di Medan Utara inilah bakat dan kemampuannnya digembleng. Umar Chattab adalah ayah dari Legenda Persija dan Timnas, Anjas Asmara.

Umar Chattab juga adalah sosok yang berperan besar mengasuh dan mengorbitkan sosok yang kelak menjadi Legenda PSMS dan Timnas,  Nobon. Ketenaran Nobon yang asli anak Brayan Bengkel yang menjadi salah satu motivasi bagi Zulham untuk menjadi pesepakbola top dan terkenal.

Pada tahun 1974 dirinya pun kemudian dipanggil oleh PSMS. Bakatnya dilirik oleh Pelatih Zulkarnaen Nasution yang waktu itu menangani PSMS. Kemampuannya yang piawai dalam mengatur serangan ketika membela Medan Utara di kompetisi PSMS walau usianya masih sangat muda memikat hati Zulkarnaen Nasution.

Meskipun sering menjadi pelapis karena pada masa itu PSMS masih dihuni gelandang – gelandang hebat seperti : Nobon, Parlin Siagian, Sarman Panggabean, Wibisono dll tapi Zulham tidak terlihat canggung ketika dipercaya turun berkostum PSMS waktu itu. Penampilannya yang menjanjikan bersama PSMS Medan membuat dirinya dipanggil ke Timnas untuk memperkuat PSSI Junior tahun 1976

Pada tahun 1975 dirinya diterima bekerja di Pertamina Medan.
Kemudian pada 1977 dirinya disekolahkan Pertamina ke Bandung. Hal ini membuat dirinya untuk sementara waktu mundur dari skuad PSMS Medan. Di Bandung ini pula dirinya diminta untuk memperkuat klub anggota Persib yaitu Setia dan akhirnya memperkuat Persib di putaran Final Divisi I Kejurnas PSSI 1977/1978. Di Persib ini Zulham bermain bersama Risnandar, Nandar Iskandar, Max Timisela, Herry Kiswanto, Encas Tonif dll.

Kemampuannya yang gemilang membuat dirinya diidolakan oleh para Bobotoh Persib. Zulham berperan besar membawa Persib menang 5-0 atas PSM dan menaklukkan Perseban Banjarmasin 2-0 dimana dalam kedua duel itu Zulham mencetak masing – masing 1 gol. Sayang akhirnya Zulham gagal membawa Persib promosi karena dikalahkan oleh Persiraja Banda Aceh 1-2 pada babak play off di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 27 Januari 1978.

Sesudah menyelesaikan pendidikannya di Bandung  Zulham kembali ke Medan.Namun dia tidak kembali ke klub Medan Utara tetapi bergabung dengan klub anggota PSMS lainnya yaitu Tirtanadi. Di klub Tirtanadi ini Zulham berkolaborasi dengan Mariadi, Effendi Marico dan Suwarno.

Kolaborasi keempat bintang tersebut di Tirtanadi sukses membuat Tirtanadi bersaing ketat dengan klub Perisai dan Bintang Utara di kompetisi Divisi Utama PSMS. Di Tirtanadi ini pula kemampuan Zulham kian terasah dengan matang,

Zulham selain dikenal memiliki dribbling bola yang yahud juga piawai dalam mencetak gol jarak jauh dan mencetak gol dari sudut sempit serta mampu melepas umpan matang untuk diselesaikan menjadi gol oleh rekan – rekannya. Ketika dirinya menggocek bola dengan seni yang tinggi para penonton seolah – olah menyaksikan aksi pesepakbola Brazil dan Belanda dalam menggocek bola. Secara kebetulan Zulham Effendi Harahap adalah pengagum Johan Cruyff dan Zico yang dikenal punya gocekan bola memikat dan berseni tinggi.

Pada tahun 1979 ini pula Zulham menjadi bagian dari tim yang membawa PSMS menjadi Juara Piala Tugu Muda di Semarang. PSMS menjadi Juara setelah di Final menaklukkan PSIS 2-1.  Zulham Effendi Harahap juga dipercaya oeh pelatih PSMS Yuswardi untuk tampil di putaran Final Kejurnas PSSI 1979.Dirinyapun tampil gemilang dengan mencetak 5 gol.

Torehan 5 gol yang dicetaknya sama dengan bintang PSM Yusuf Malle membuat mereka berdua menjadi pencetak gol terbanyak kedua dalam putaran Final Kejurnas PSSI 1979 tersebut. Pencetak gol terbanyak pada putaran Final Kejurnas PSSI 1979 itu diraih oleh bintang PSMS yang juga rekan setim Zulham Effendi di klub Tirtanadi yaitu Suwarno yang mencetak 7 gol.

PSMS 1978
Berdiri Ki-Ka : Nobon,Ismail Ruslan,Effendi Maricho,Taufik Lubis,Budi Trapsilo,Zulham Effendi Harahap,Sakirman Saswa
Jongkok Ki-Ka : Mariadi, Suparjo, Suwarno dan Sunardi B

Sayang PSMS Medan gagal menjadi juara setelah pada pertandingan terakhir putaran Final Kejurnas PSSI 1979 kalah secara dramatis dari Persija 0-1 lewat gol yang dicetak Andi Lala. Padahal waktu itu PSMS hanya membutuhkan hasil imbang untuk menjadi Juara. Kekalahan ini membuat PSMS harus puas menjadi Runner Up Kejurnas PSSI 1979.

Penampilan menawannya bersama PSMS di putaran Final Kejurnas PSSI 1979 ini membuat Zulham Effendi Harahap dipercaya untuk memperkuat Timnas. Bersama rekannya di PSMS Suparjo dan Chaerulsan Siregar mereka dipanggil pelatih Timnas Marek Janota dan asistennya Ipong Silalahi untuk memperkuat Timnas di Japan Cup 1979 atau Piala Kirin yang berlangsung di Tokyo. Dan ternyata Zulham tampil cukup baik kala membela Timnas di Jepang tersebut. Sejak itu dirinya selalu dipanggil masuk Timnas.

Lahirnya kompetisi Galatama pada 1979 membuat Zulham tertarik untuk menjajalnya. Bersama rekannya di PSMS Ismail Ruslan, Effendi Marico dan Chaerulsan Siregar, Zulham bergabung dengan klub Pardedetex. Di Pardedetex ini pula Zulham kembali bereuni dengan rekannya di Persib yaitu Herry Kiswanto.

Sayang kiprah Pardedetex di musim perdana Galatama ini tidak begitu meyakinkan. Hal ini membuat Zulham memutuskan kembali ke PSMS Medan dan bergabung dengan klub Indonesia Muda. Kiprahnya di PSMS membuat dirinya dipercaya menjadi Kapten Tim Sumatera Utara (Sumut) yang berlaga di PON X pada 1981. Sayang Sumut gagal meraih Medali Emas setelah di final kalah adu penalti melawan Lampung.

Pada 1981 ini pula di beberapa pertandingan Pra Piala Dunia 1982 Zulham sempat dipercaya menjadi Kapten Timnas ketika kapten utama Ronny Pattinasarani absen. Salah satu bukti dirinya punya leadership yang kuat sebagai Kapten Timnas adalah ketika dirinya dipercaya menjadi kapten Timnas di PPD 1982 ketika menghadapi Taiwan (China Taipei) pada 15 Juni 1981 di Stadion Utama Senayan Jakarta. Zulham sukses memimpin rekan – rekannya menaklukkan Taiwan 1-0 lewat gol Hadi Ismanto. Permainannya yang elegan sebagai playmaker Timnas membuat lini tengah Taiwan tak berkutik.

Pada 1982 Zulham sukses memimpin rekan – rekannya di PSMS menjadi Juara Fatahillah Cup 1982 di Jakarta. Kepercayaan Pelatih Herman Tamaela kepadanya dibayar dengan kesuksesan menjadi Juara setelah di Final menaklukkan PSIS Semarang.

Di 1983  Zulham kembali dipercaya oleh pelatih Herman Tamaela menjadi Kapten PSMS yang berlaga di Piala Tugu Muda 1983. Aksi gemilangnya memimpin rekan – rekannya di lapangan berhasil membawa PSMS lolos ke Semifinal. Langkah mereka terhenti di Semifinal setelah kalah dari Rajpracha Thailand dan dalam perebutan tempat ketiga takluk dari PSIS 1-2. Satu – satunya gol PSMS ketika takluk dari PSIS ini dicetak oleh sang kapten Zulham Effendi Harahap.

Pada Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 Zulham kembali dipercaya oleh Trio Pelatih Wibisono, Zulkarnaen Pasaribu dan Parlin Siagian menjadi Kapten Tim. Setelah tampil gemilang di penyisihan Zulham dkk sukses lolos ke putaran Final yang berlangsung di Jakarta.

Sayang pada partai “hidup mati” melawan Persebaya Zulham mengalami cedera dan harus digantikan oleh bintang muda PSMS Marzuki Nyakmad pada menit ke-25. PSMS akhirnya menang 1-0 lewat gol yang dicetak Suherman pada menit ke-48 dan lolos ke Final menghadapi Persib Bandung.

Cedera ini pula yang memaksa Zulham absen di Final dan kapten tim beralih kepada Sunardi B.Di Final PSMS sukses menaklukkan Persib 3-2 melalui drama adu penalti setelah bermain imbang 0-0 dalam babak normal dan perpanjangan waktu.

Keberhasilan PSMS menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983  membuat PSMS dipercaya mewakili Indonesia di Merlion Cup 1983 yang berlangsung di Singapura dan Zulham kembali dipercaya menjadi Kapten Tim. Sayangnya setelah Merlion Cup 1983 ini Zulham menghilang dari skuad PSMS dan Timnas. Salah satu penyebabnya adalah kondisi fisiknya yang menurun akibat sakit yang dideritanya.

Dan setelah cukup lama menghilang dari skuad PSMS, akhirnya Zulham Effendi dipanggil memperkuat PSMS yang akan berlaga di Piala Marah Halim XIV pada 1985. Panggilan ini disambutnya dengan antusias yang tinggi. Selain menempa diri dengan berlatih bersama skuad PSMS di Stadion Kebun Bunga,  Zulham juga menempa fisiknya di lapangan dekat rumah tinggalnya.Bahkan untuk menambah motivasi tak jarang tiga anaknya juga dibawanya ketika dirinya berlatih bersama PSMS. Begitu besar hasrat dan ambisnya untuk membuktikan bahwa dirinya “belum habis” dan masih bisa berprestasi.

Sayang kondisi fisiknya tidak mendukung. Seusai memperkuat PSMS berujicoba dengan dengan Tim Diklat Medan pada 4 April 1985, Zulham mengeluhkan perutnya sakit dan kepalanya seperti ditusuk – tusuk. Dan akhirnya pada 10 April 1985 dirinya harus dirawat di RS Elizabeth Medan. Diagnosis dokter menyebutkan dirinya menderita lever dan gangguan ginjal.

Dan setelah sepuluh hari dirawat dirinya diizinkan pulang.Tapi tak lama kemudian dirinya kembali harus dirawat di RS Elizabeth Medan karena penyakitnya kembali kambuh. Akhirnya pada Senin 29 April 1985 pukul 08.55 WIB Zulham Effendi Harahap menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Elizabeth Medan.

Dukacita mendalam tidak hanya dirasakan oleh istri dan anak – anak serta keluarganya tapi juga dirasakan oleh rekan – rekannya baik di PSMS maupun Timnas. Demikian juga dengan para pecinta PSMS yang begitu mengagumi aksi – aksi “ajaib” gocekan bolanya di lapangan hijau.

Ratusan orang yang terdiri dari dari para pemain dan pengurus PSMS,pengurus Komda PSSI Sumut,pecinta PSMS dan mantan rekannya di Timnas serta rekan – rekan sejawatnya di Pertamina datang ke rumah duka untuk memberi penghormatan terakhir dan melepas almarhum Zulham Efffendi Harahap ke peristirahatannya yang terakhir.

Zulham Effendi Harahap adalah sosok yang dikenal sebagai senior yang mau membimbing para juniornya. Zulham tidak sungkan membagi ilmu dan pengetahuannya dalam bermain sepakbola kala berlatih bersama para juniornya baik di klub Tirtanadi, Indonesia Muda dan di PSMS. Caranya membimbing layaknya abang kepada adiknya dan tidak terkesan menggurui membuat dirinya dihormati oleh para juniornya.

Zulham Effendi Harahap bersama sahabatnya Herry Kiswanto

Legenda Timnas Herry Kiswanto yang pernah main bareng dengan Zulham Effendi Harahap ketika di Persib, Pardedetex Medan dan Timnas mengenang Zulham sebagai sosok sahabat yang ramah dan enak diajak bergaul. Kang Herkis sapaan akrabnya pernah berbagi cerita tentang kedekatan keduanya kepada saya.

Ketika di Pardedetex mereka sering sekamar dan ketika libur latihan Kang Herkis kerap menghabiskan waktunya bersama Zulham di tempat tinggal Zulham di Brayan ataupun jalan bareng. Ketika Zulham meninggalkan Pardedetex kebersamaan itu terus berlanjut. Ketika Zulham Effendi Harahap wafat Herry Kiswanto turut hadir ke Medan menghantarkan sahabatnya itu menuju peristirahatannya yang terakhir.

Sebuah kenangan indah tentang sosok Zulham Effendi Harahap sang “Playmaker Elegan” PSMS dan Timnas yang wafat di usia muda.***