Penulis : Syakira Wiranda
MEDAN | okemedan
Aktivitas jual beli di Pasar Petisah, Kota Medan, terpantau mengalami penurunan sejak awal tahun 2026. Kondisi tersebut berdampak terhadap sejumlah pedagang, termasuk pedagang ikan asin yang mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat
sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir.
Salah seorang pedagang ikan asin, Ibrena (17), mengatakan pendapatannya terus menurun sejak Januari 2026 hingga April 2026. Ia mengaku pemasukan yang diperolehnya tidak lagi seperti sebelumnya karena jumlah pembeli yang datang ke pasar semakin berkurang.
“Dulu bisa dapat sekitar Rp1,5 juta, tapi sejak awal tahun ini sampai bulan April paling sekitar Rp700 ribu saja,” ungkap Ibrena saat ditemui di lapaknya, Jumat (24/4).
Ibrena menjelaskan, ia mulai berjualan ikan asin sejak awal tahun 2025. Ia memilih berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap hari, ia membuka lapak dari pagi hingga sore dengan menjual berbagai jenis ikan asin seperti ikan teri, ikan peda, ikan asin kepala batu, ikan gabus asin, dan beberapa jenis lainnya.
Menurut Ibrena, kondisi pasar yang sepi membuat perputaran dagangannya menjadi lambat. Ia menyebutkan bahwa sebelumnya dagangannya bisa habis dalam satu hari, tetapi kini sebagian stok sering tersisa hingga hari berikutnya. Ia menilai, turunnya jumlah pembeli membuat aktivitas jual beli tidak seramai biasanya. Bahkan, beberapa pembeli yang datang hanya membeli dalam jumlah kecil. Hal tersebut membuat hasil penjualan tidak menentu dan sulit diprediksi.
“Sekarang pembeli makin jarang, jadi ikan asin pun lebih lama habisnya,” ungkapnya.
Ibrena juga mengatakan bahwa suasana pasar dalam beberapa bulan terakhir terasa berbeda. Jika biasanya Pasar Petisah dipadati masyarakat terutama pada pagi hari, belakangan ini jumlah pengunjung terlihat lebih sedikit. Ia menyebutkan bahwa sepinya pembeli membuat pedagang harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pembeli.
Menurutnya, penurunan pendapatan tersebut sangat terasa karena ia mengandalkan hasil jualan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku tetap harus berjualan meskipun keuntungan yang diperoleh tidak sebanyak sebelumnya. Ibrena menuturkan, dalam kondisi normal ia bisa menjual banyak jenis ikan asin dalam sehari karena pembeli biasanya datang untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk dijual kembali.
Namun saat ini, pembeli yang datang cenderung hanya membeli seperlunya. Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi ini membuat dirinya harus lebih hemat dalam mengatur pengeluaran. Selain itu, ia harus menyesuaikan jumlah stok dagangan agar tidak terlalu banyak tersisa dan mengalami kerugian.
Meski demikian, Ibrena tetap bertahan berjualan karena tidak memiliki sumber penghasilan lain. Ia mengaku tetap berusaha menjaga kualitas ikan asin yang dijualnya agar pelanggan tetap percaya dan tidak beralih ke pedagang lain. Ia juga berharap aktivitas pasar dapat kembali ramai seperti sebelumnya. Menurutnya, ramainya pembeli sangat berpengaruh terhadap penghasilan pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari hasil dagang harian.
“Harapannya semoga pembeli bisa ramai kembali seperti semula,” ungkap Ibrena.
Ibrena berharap kondisi ekonomi masyarakat membaik sehingga daya beli meningkat dan aktivitas jual beli di Pasar Petisah kembali stabil. Ia menilai, jika situasi pasar kembali normal, pedagang ikan asin seperti dirinya dapat kembali memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, ia berharap perhatian dari pihak pengelola pasar maupun pemerintah dapat membantu pedagang kecil yang terdampak kondisi sepinya pembeli. Ia menyebutkan bahwa keberlangsungan pedagang di pasar tradisional sangat bergantung pada jumlah pengunjung yang datang setiap hari. Hingga saat ini, Ibrena masih tetap membuka lapaknya seperti biasa dan terus berusaha bertahan meskipun pendapatan menurun. Ia berharap situasi pasar kembali membaik dalam waktu dekat agar pendapatan pedagang kembali meningkat seperti sebelumnya.
*Penulis Mahasiswi Ilmu Komunikasi UINSU








