Es di Tengah Sepinya Pajak Petisah Medan: Cerita Ibu Ira Menjaga Rasa

Penulis : Alwi Auvinen Juha

MEDAN | okemedan

Di tengah hiruk pikuk Pajak Petisah yang kini tak lagi seramai dulu, seorang pedagang es bernama Ibu Ira tetap setia melayani para pembeli dari lapak sederhananya. Sejak tahun 2019, ia menjajakan berbagai minuman segar seperti es koteng, es doger, es campur, dan es teler yang menjadi pelepas dahaga pengunjung pasar. Dengan harga Rp15 ribu per porsi, dagangannya masih menjadi pilihan bagi masyarakat yang datang berbelanja ke pasar tradisional tersebut.

Lapak milik Ibu Ira terlihat cukup nyaman dan tertata rapi. Di samping tempat jualan esnya, terdapat aneka ragam manisan buah yang juga ia jual untuk menambah penghasilan. Berbagai warna manisan yang tersusun di dalam wadah bening membuat lapaknya tampak menarik perhatian pengunjung yang melintas. Meski sederhana, suasana lapak itu terasa hangat karena keramahan Ibu Ira saat melayani setiap pembeli yang datang.

Bagi Ibu Ira, berjualan bukan sekadar mencari keuntungan semata. Hasil dari berdagang es menjadi sumber utama untuk menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Dari jualan inilah saya mencari nafkah untuk keluarga. Walaupun kadang hasilnya tidak menentu, saya tetap bersyukur karena masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Ibu Ira saat ditemui di lapaknya.

Saat pandemi Covid-19 melanda, kondisi usahanya sempat berada di titik yang sangat sulit. Dalam sehari, dagangannya terkadang hanya mampu terjual sekitar lima hingga sepuluh porsi saja. Sepinya pasar membuat penghasilan menurun drastis, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.

“Waktu Covid kemarin memang susah sekali. Kadang sehari cuma laku lima sampai sepuluh porsi, tapi saya tetap buka karena ini satu-satunya penghasilan keluarga,” katanya.

Menurut Ibu Ira, perubahan kebiasaan masyarakat setelah pandemi juga menjadi salah satu penyebab pasar tradisional tidak seramai dulu. Banyak warga kini lebih memilih berbelanja melalui online shop dibanding datang langsung ke pasar. Meski demikian, dalam dua tahun terakhir keadaan mulai perlahan membaik. Pembeli mulai kembali berdatangan sehingga dagangannya kini bisa terjual sekitar 15 hingga 25 porsi setiap harinya.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai ramai lagi. Dalam sehari bisa habis sekitar 15 sampai 25 porsi. Mudah-mudahan ke depannya semakin ramai,” ucapnya penuh harap.

Di balik dinginnya sajian es yang dijual, tersimpan cerita tentang hangatnya perjuangan seorang ibu dalam mempertahankan usaha kecilnya. Ibu Ira berharap pemerintah kota, khususnya Wali Kota Medan, dapat memberi perhatian lebih kepada pelaku UMKM kecil di pasar tradisional.

“Harapan saya semoga pasar tradisional bisa kembali ramai dan pemerintah lebih memperhatikan pedagang kecil seperti kami,” tutup Ibu Ira.

*Penulis Mahasiswa Ilmu Komunikasi UINSU