MEDAN | okemedan
Ingat kaset, ingat ET-45. Ya, bagi Anda warga Medan dan Sumatera Utara yang hidup di era 80-an tentu tidak asing lagi dengan toko kaset audio ET.45 Music Store. Nama ini, sangat familiar bagi penikmat musik dan kolektor kaset. Dimulai 43 tahun yang lalu dari sebuah toko kecil di Medan Plaza, ET. 45 yang awalnya diberi nama Studio ET-54 terus berkembang membuka cabang di beberapa pusat perbelanjaan modern lain di Kota Medan seperti Perisai Plaza, Buana Plaza, Thamrin Plaza. dan lain-lain.
Tak sampai disitu, pada tahun 90an hingga awal 2000an, ET. 45 melebarkan sayap usahanya ke provinsi lain di Pulau Sumatera seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru dan Jambi. Namun seiring perkembangan zaman dan perubahan regulasi terkait hak cipta artis dan produk rekaman nasional, jumlah itu kemudian menurun.
Tahun 1986 kaset-kaset audio artis asing produksi nasional yang dulu “resmi” beredar dilarang dijual. Setelah itu terjadi perubahan teknologi audio. Kaset pita digantikan oleh Compact Disc (CD), setelah itu berkembang lagi dengan teknologi digital MP3 dan kini memasuki era platform musik a`la YouTube, Spotify dan semacamnya.
Hantaman paling kuat terhadap pengusaha adalah saat munculnya rekaman-rekaman lagu baik single maupun album CD. Manakala outlet menjual CD resmi dengan harga lumayan mahal, alih-alih di pasaran beredar secara massif rekaman rekaman CD bajakan dengan harga murah meski kualitas rendah. Walhasil banyak toko-toko kaset yang sohor gulung tikar, tak sanggup bersaing dengan CD bajakan yang djual secara terbuka.

Namun, tidak semua pengusaha bisnis kaset audio kolaps dan hilang untuk selamanya. ET.45 Music Store adalah satunya. ET. 45 adalah sebuah legenda yang tetap berkibar sampai sekarang. Ibarat pepatah, tak lekang di panas tak lapuk di hujan, ET. 45 “bandal kali” meminjam idiom Medan. Tujuh presiden berganti mulai dari Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi dan kini Prabowo, ET. 45 tak ada matinya. Bahkan, kini tak lagi sekadar menjual produk audio semata, melainkan juga produk-produk kekinian, seperti merchandiser K-Pop, J-Rock, Anime, dan lain sebagainya dan juga produk- produk masa lalu (retro) seperti tape-recorder, piringan hitam lama, turn table manual, radio jadul yang umumnya dicari oleh kolektor.
Owner ET.45 Music Store, Hansen Teo, memiliki naluri yang tajam menghadapi perubahan dalam budaya bisnis seiring perjalanan waktu. Ia ligat melihat cuaca dan kemana arah angin dalam berbisnis.
Menjadi produser rekaman CD Lagu-lagu Pop Batak
Awal 2000an, tatkala CD menjadi tren wahana hiburan di masyarakat, Hansen tergelitik untuk menjadi produser rekaman daur ulang lagu-lagu Pop Batak. Saat itu rekaman lagu-lagu Pop Batak masih banyak diproduksi dalam bentuk kaset kaset audio.
“Mulanya saya coba distribusi kemudian jadi produser memproduksi lagu lagu Batak daur ulang dalam format CD. Diketawain orang tapi bagi saya enggak apa-apa karena saya suka new market. Saya ambil ceruk pasar yang tidak diambil orang. Lebih baik jadi kakap di kolam daripada teri di laut,” kenang Hansen dalam wawancara dengan okemedan.com baru-baru ini.
Bukan hanya rekaman recycle lagu-lagu Batak, lagu pop Melayu pun tak luput dari perhatiannya dan sukses di pasaran. “Seperti album Wak Uteh, saya sebagai distributornya untuk seluruh Indonesia, juga rekaman CD lagu Minang “Pulanglah Uda”, saya distributornya,” ungkap Hansen.

Dihubungi Ayah Musisi Vicky Sanipar
Inovasi dan keberanian Hansen Teo mendobrak pasar berbuah manis. Suatu hari ia menerima telepon dari seseorang yang dikenal sebagai pengusaha nasional yang sukses di bidang kargo pesawat yaitu Monang Sianipar – yang tak lain adalah ayah artis misisi Viky Sianipar. Kepada Hansen, owner MSA Cargo ini datang meminta masukan dari Hansen untuk album solo Viky.
“Saya tidak sangka karena saya kan Penasehat Gabungan Perusahaan Indusri Rekaman Seluruh Indonesia (Gaprindo), sampai sekarang. Jadi tiba-tiba papanya Viky Sianipar telpon saya, wah ini konglomerat datang cari saya minta Hansen sebagai advisor untuk album pertama Viky. Nah saya dengar warna musik Viky Sianipar kan world music, saya minta jangan terlalu world music, harus new-age. Kalau world music saja target musiknya terlalu sedikit,” kenang Hansen. Kala itu Viky akan membuatn album Toba Dream 1.
“Saya bilang ke Viky, kita lebih kentalkan ke gondang sembilannya, terus hasapi. Jadi album Toba Dream I, saya berada di belakangnya. Dan saya bersyukur sebagai the man behind the sound, dan sebagai advisornya. Sebagai kompensasi ET. 45 menjadi distributor kaset dan CD album Toba Dream ke seluruh Indonesia,” ungkap Hansen.
Kegemilangan produk CD tak berlangsung lama. Seiring perkembangan teknologi digital, CD yang pernah mendominasi akhirnya tergusur oleh digitalisasi yang dalam praktiknya lebih simpel. Memanfaatkan platform musik digital seperti YouTube, Spotify, AppleMusic dan sebagainya sebagai ruang promosi dan publikasi kendati tetap ada pilihan bagi produser untuk mengeluarkan produk dalam format kaset audio maupun CD.
Perubahan-perubahan yang terus terjadi dalam industri rekaman ini berpengaruh kerpada bisnis retail seperti ET. 45. Namun sekali lagi, tidak membuat Hansen Teo menyerah, namun menerimanya dengan semangat dan kompromis sebab memahami perubahan adalah bagian dari perputaran waktu. “Setiap zaman ada orangnya, setiap orang ada masanya,” ujar Hansen mengutip sebuah kata bijak.
Shifting, sasar Gen Z dan penggemar Kpop
Ia pun kemudian melakukan inovasi ET. 45 sebagai bisnis yang bukan hanya tak lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan melainkan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Antara lain melirik produk K Pop.
Menurut Hansen, zaman berubah dan permintaan pasar juga berubah. “Makanya saya harus tetap shifting, jangan terlena, jangan idealis, tetap update, tetap out of the box. Kita tidak bisa menciptakan pasar lagi. Lain menciptakan pasar dengan mengikuti pasar. Kalau menciptakan pasar Gen Z ini lebih pintar dari kita. Maka apa yang menjadi selera pasar, apa keinginan pasar kita ikuti aja,” sebutnya.
“Waktu saya shifting itu, saya sudah melihat ini (K pop) ke depannya ada peluang Tingkat kecerdasan musik orang Indonesia ini lebih global, mereka meninggalkan dangdut beralih ke K pop, ” ujar penggemar traveling ke berbagai belahan dunia ini.
Mulailah ET 45 menjual bukan hanya produk rekaman lagu lagu Korea, K pop, melainkan juga pernak pernik lain seperti merchandise, produk produk anime, dan lain-lain yang disenangi oleh Generasi Millenial dan Gen Z.
ET. 45 Menjual Juga Produk Retro
Tak sebatas itu, ET 45 juga bermain di produk-produk retro yang menyasar kolektor mupun Gen Z yang kepo pada tren di masa lalu. Mulai dari kaset-kaset audio lama, piringan hitam lagu jadul dari era tahun 50-an, radio tape recorder, mini dan midi compo, pemutar piringan hitam (turn table) manual yang masih harus diganti jarumnya jika sudah aus, Televisi kuno, dan sebagainya yang benar-benar barang langka di masa sekarang.
Walhasil, di samping kini terus menjual fisik rekaman-rekaman lagu baru, outlet ET 45 Music Store juga bak galeri sukacita bagi antargenerasi. Di satu sisi anak-anak muda Gen-Z, Gen Alpha dan Hallyu Klyu Kpop, mereka dapat menemukan passion dan kebutuhannya pada produk produk kekinian yang sedang hits seperti produk K pop, anime, merchandise K pop, di sisi orang-orang masa lalu, mereka dapat mencari dan menemukan kembali romantisme masa lampau lewat produk produk retro yang meski sudah lawas tetapi baik. “Tapi jangan salah, anak-anak sekarang juga senang mencari barang retro,” sebut ayah satu putri yang kini sukses berbisnis di Jepang.

Sempat punya 20 outlet pribadi ET. 45 dan 70 afiliasi di beberapa kota di Jakarta dan Sumatera, kini hanya 3 outlet di Medan yaitu di Mal Sun Plaza Jalan H. Zainul Arifin Medan , ET 45 Jalan Mangkubumi 10 Medan, dan di K-3 Mart Brastagi Supermarket Medan. Hal ini tidak terlepas dari tren online shop. “Saya tidak perlu buka banyak toko lagi, sebab ada di online shop. Satu orang sudah bisa melayani penjualan ke seluruh Indonesia,” ungkap Hansen.
Hal itu juga berpengaruh pada efisiensi. Jika dulu jumlah karyawan sampai puluhan, kini cukup dihandel 10 orang di ketiga outlet offline di Medan tersebut. Hansen pun tak lagi sesibuk dulu mengelola usahanya.
Dalam kesempatan tertentu, ia juga membaktikan dirinya berbagi ilmu dan pengalaman sebagai Coach dan Mentor di bidang Human Capital Investment maupun Personality Tranformation. Sejumlah institusi, lembaga, asosiasi, organisasi dan perusahaan di Indonesia kerap menanggapnya sampai kini.
OM – diur








