MEDAN | okemedan
Bagi Drg. Hj. Hayati Hasibuan, Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca, melainkan pedoman hidup yang kian terasa kedahsyatannya justru ketika semakin didalami maknanya.
Di usia 83 tahun, akademisi kesehatan gigi itu tetap menunjukkan semangat membumikan nilai-nilai Al-Qur’an melalui peluncuran buku keempatnya, sebuah karya yang lahir dari perjalanan spiritual mendalam dalam mentadabburi firman Allah.
“Semakin Al-Qur’an ditadabburi, semakin terasa betapa seluruh isinya relevan dengan hidup dan kehidupan manusia,” ujar Hayati dalam peluncuran bukunya di Gedung Serba Guna Masjid Al Ma’ruf Medan, Sabtu (11/4/26).
Menurutnya, Al-Qur’an harus ditadabburi—yakni direnungi, dipahami, dan didalami maknanya—karena kitab suci itu tidak cukup hanya dibaca secara lafaz. Ketika pesan-pesannya dihayati, Al-Qur’an menghadirkan ketenangan hati, menjadi penuntun dalam mengambil keputusan, sekaligus menjawab berbagai persoalan hidup manusia.
Perjalanan spiritual itu, tutur Hayati, bermula ketika ia memasuki usia 78 tahun. Meski sejak kecil telah mampu membaca Al-Qur’an, selama puluhan tahun ia mengakui hubungannya dengan kitab suci itu masih sebatas membaca.
Perubahan besar terjadi setelah sang suami wafat. Di tengah berakhirnya kesibukan mendampingi pasangan hidup serta setelah pensiun sebagai dosen PNS Kopertis yang ditempatkan di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist, seorang sahabat mengajaknya mengikuti majelis pengajian. Dari sanalah ia mulai memahami kedalaman makna Al-Qur’an.
“Di situ saya sadar, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca. Ia harus ditadabburi. Dan ketika itu dilakukan, kita akan melihat mukjizatnya dalam kehidupan nyata,” katanya.
Hayati menuturkan, semakin ia mentadabburi ayat demi ayat, semakin tampak bagaimana ajaran Al-Qur’an selaras dengan realitas kehidupan modern. Baginya, Al-Qur’an merangkum seluruh prinsip dasar kehidupan manusia: ketenangan jiwa, etika sosial, hubungan keluarga, hingga panduan menghadapi ujian hidup.
Putranya, Ahmad Fauzi Nasution, menyatakan kebanggaannya terhadap sang ibu yang di usia lanjut tetap produktif berkarya dan konsisten berdakwah melalui tulisan.

“Kami bangga, di usia 83 tahun ibu masih memiliki semangat luar biasa untuk membumikan Al-Qur’an. Ini buku keempat beliau, dan itu menunjukkan komitmen yang tidak pernah padam,” ujarnya.
Hayati diketahui merupakan ibu dari empat anak dan nenek dari sebelas cucu. Selain akademisi, ia juga aktif menulis sebagai kolumnis di sejumlah media cetak.
Rektor Univa Medan Prof Saiful Akhyar Lubis, M.A maupun Editor buku tersebut, Ustadz Ivan Manginaong, M.Pd, mengungkapkan bahwa karya Hayati sangat bermanfaat
Esitor pengakui buku ini murni berasal dari gagasan dan tulisan penulis sendiri.
“Bahasanya indah, sesuai kaidah, sehingga tidak banyak memerlukan editing. Buku ini menggugah, mudah dipahami, dan mengajak pembaca untuk kembali menghargai Al-Qur’an sesuai prinsip dasar diturunkannya wahyu pertama: Iqra—bacalah,” kata Ivan.
Bagi Hayati, menulis buku bukan sekadar menuangkan pemikiran, tetapi bagian dari ikhtiar mengajak masyarakat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi hidup.
“Kalau kita sungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an, kita akan merasakan bahwa tidak ada persoalan hidup yang tidak disentuh oleh petunjuknya,” ujarnya.
Di usia senja, Hayati membuktikan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an tidak mengenal batas waktu. Justru ketika manusia mau berhenti sejenak, merenung, dan mentadabburinya, firman Tuhan hadir bukan hanya sebagai bacaan, melainkan cahaya penuntun kehidupan.
OM – diurnawan








