KLIA Airport Terpilih Sebagai Megahub Terbaik Dunia

KUALA LUMPUR | okemedan

Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) kembali dinobatkan oleh Official Aviation Guide (OAG) sebagai megahub maskapai berbiaya rendah (LCC) paling “terhubung” di dunia untuk tahun kedua berturut-turut bulan lalu.

Menurut OAG, gelar itu diberikan berkat jaringan penerbangan luas yang ditawarkan maskapai utama AirAsia, yang menyumbang 36 persen dari total penerbangan di KLIA.

Dari Terminal 2 KLIA, AirAsia melayani lebih dari 100 destinasi di 25 negara, dengan sekitar 4.500 penerbangan setiap pekan.

OAG mencatat, KLIA memiliki 16.502 koneksi maskapai berbiaya rendah (LCC) ke 151 destinasi.

Bandara ini juga menempati peringkat tinggi dalam kategori konektivitas global secara keseluruhan, berbagi posisi keempat dengan Bandara Internasional Frankfurt di Jerman dalam daftar megahub terbaik dunia.

Menurut OAG, Bandara Heathrow di London menjadi bandara paling terhubung di dunia selama tiga tahun berturut-turut, diikuti Bandara Istanbul di Turki dan Bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda.

Bandara Changi di Singapura menempati peringkat ke-11 secara keseluruhan.

Setelah berada di posisi ke-12 pada 2019, KLIA naik ke peringkat keempat pada 2023, sempat mencapai posisi kedua tahun lalu, sebelum turun kembali ke peringkat keempat tahun ini.

Analis utama OAG, John Grant, mengatakan kepada CNA bahwa penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah parameter, termasuk jumlah destinasi yang dilayani serta frekuensi penerbangan ke masing-masing tujuan.

“Hasil ini sekali lagi menunjukkan bahwa KLIA merupakan titik transit yang sangat sukses bagi penumpang dari seluruh dunia, dengan kombinasi maskapai dan destinasi yang sangat beragam,” ujarnya.

Analisis OAG menggunakan data penerbangan dari hari tersibuk industri penerbangan global antara September 2024 hingga Agustus 2025 — yakni 1 Agustus 2025 — berdasarkan total jumlah kursi terjadwal di 100 bandara terbesar dunia, baik secara keseluruhan maupun internasional.

OAG menjelaskan, total koneksi yang memungkinkan dihitung dari penerbangan kedatangan dan keberangkatan dalam rentang waktu enam jam, mencakup penerbangan di mana salah satu atau kedua rutenya merupakan penerbangan internasional.

Kriteria lain yang digunakan mencakup koneksi tunggal ke atau dari bandara yang dipilih, batas maksimum sirkuit 150, serta jendela koneksi enam jam. Batas sirkuit 150 berarti panjang lintasan aktual penerbangan—terutama untuk penerbangan lanjutan—tidak boleh melebihi 150 persen dari rute paling langsung.

Peringkat megahub maskapai berbiaya rendah (LCC) OAG disusun dengan metodologi yang sama, namun hanya memperhitungkan penerbangan berbiaya rendah.

Meski peringkat ini mencerminkan kontribusi KLIA terhadap posisi Malaysia di panggung global—menurut Malaysia Airports—para analis dan pelaku industri penerbangan menilai capaian tersebut menutupi berbagai kekurangan operasional dan infrastruktur.

Kesenjangan ini harus segera dibenahi jika KLIA ingin bersaing di tingkat global dengan bandara-bandara lain, kata mereka.

“Ada perbedaan besar antara menjadi ‘megahub terbaik’ secara angka dan menjadi bandara yang sangat tidak efisien dari sisi kenyamanan penumpang,” ujar Shukor Yusof dari Endau Analytics.

“Peringkat bandara dan maskapai sebaiknya disikapi dengan sangat hati-hati,” ujar Shukor.

Ia menambahkan, KLIA masih tertinggal dalam hal pemeliharaan fasilitasnya, dengan mencontohkan Bandara Changi di Singapura sebagai tolok ukur yang perlu dicapai KLIA.

Per Juni tahun ini, KLIA tercatat melayani 70 maskapai, melampaui angka pra-pandemi COVID-19 yang berjumlah 69 maskapai.

“Sepanjang tahun ini saja, bandara telah menyambut enam maskapai baru dan membuka 11 rute baru di seluruh jaringannya,” kata Malaysia Airports dalam pernyataan tertanggal 24 September.

“Penerbangan jarak jauh juga bertambah dengan frekuensi lebih tinggi dari maskapai internasional, sementara kehadiran maskapai asal Tiongkok meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding masa sebelum pandemi.”

Tahun lalu, sejumlah maskapai baru yang membuka rute ke KLIA antara lain Air Macau, Iraqi Airways, dan Turkmenistan Airlines, turut memperluas konektivitas global bandara tersebut, ujar Harridon Mohamed Suffian dari Malaysian Institute of Aviation Technology, Universiti Kuala Lumpur.

“Masuknya maskapai-maskapai baru ini secara signifikan meningkatkan konektivitas internasional, sementara kami juga melihat maskapai yang sudah ada menambah frekuensi penerbangan,” kata Harridon, yang juga seorang pakar penerbangan dan ekonomi.

Proses imigrasi dan pemeriksaan keamanan yang kini lebih efisien—berkat penerapan peralatan biometrik dan kios baru—telah berhasil meningkatkan ketepatan waktu (on-time performance/OTP) penerbangan di KLIA serta maskapai-maskapai yang beroperasi di sana, kata Harridon.

OM – nta, cna