PSMS Pernah Menjadi The Dream Team Indonesia

Oleh : Indra Efendi Rangkuti

Persatuan Sepakbola Medan Sekitarnya (PSMS) saat ini kembali berlaga di Liga 2. Hal ini sungguh memprihatinkan jika meihat ke belakang sejatinya klub kebanggaaan warga Sumatera Utara ini  adalah tim sepakbola yang kuat dan disegani karena prestasi yang dicapainya. Para pemainnya pernah mendominasi lini tim nasional PSSI.

Di dalam negeri PSMS dulu kerap merumput di Divisi utama -kasta tertinggi perserikatan sepakbola di tanah air. PSMS beberapa kali menjadi juara perserikatan,  menjadi tim besar sejajar Persija, Persib, Persebaya, PSMS dan Persipura.

Di tingkat Asean dan Asia, pemain-pemain PSMS kerap membela merah putih dan mampu mengimbangi permainan tim tim internasional yang datang betandang ke Medan. Bintang-bintang sepakbola nasional banyak berasal dari PSMS Medan.

Menoleh kembali sejarah gemilang perjalanan PSMS, pada tahun 1968 dalam rangka persiapan Kings’ Cup 1968 di Bangkok,Timnas Indonesia melaksanakan Training Centre (TC) di Medan.TC di Medan ini sendiri disebabkan kondisi keuangan PSSI yang sulit pada masa itu dan pada saat itu T.D Pardede bersedia untuk mendanai TC dan keberangkatan Timnas ke King’s Cup 1968 di Bangkok.

Timnas sendiri pada waktu itu dimanajeri oleh tokoh sepakbola Sumut dan Indonesia yang juga sahabat baik T.D Pardede yaitu  Kamaruddin Panggabean.Timnas sendiri pada waktu itu diperkuat oleh Judo Hadianto, Soetjipto Soentoro, Mulyadi, Surya Lesmana, Iswadi Idris, Sinyo Aliandoe, Abdul Kadir, Jacob Sihasale, Waskito, M.Basri, Anwar Ujang, Max Timisela dan bintang – bintang PSMS Medan yang baru menjadi Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1967 Ronny Pasla, Yuswardi, Sunarto, Achmadsyah “Ipong” Silalahi, Tumsila,  Sarman Panggabean dan Zulham Yahya. Dan akhirnya Timnas Indonesia sukses menjadi Juara di King’s Cup 1968 ini setelah di final mengalahkan Myanmar/Burma dengan skor 1-0 lewat gol yang dicetak sang Kapten Soetjipto Soentoro.

Usai King’s Cup 1968 ini para pemain Timnas dikontrak secara profesional oleh T.D Pardede di klub miliknya yaitu Pardedetex. Para pemain yang dikontrak itu antara lain  Soetjipto Soentoro, Sinyo Aliandoe, Iswadi Idris, Judo Hadianto, Muliyadi (Persija), M.Basri (PSM), Abdul Kadir, Jacob Sihasale (Persebaya), Anwar Ujang (Persika), Max Timisela (Persib) ditambah 3 bintang PSMS Medan yaitu Sarman Panggabean, Sunarto dan Aziz Siregar.

Meskipun waktu itu Pardedetex mengontrak pemain secara professional tetapi dalam kompetisi bernaung di Kelas Utama/Divisi Utama PSMS sehingga otomatis untuk skuad Pardedetex tersebut memperkuat PSMS di Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1969.

Dikontraknya pemain – pemain Timnas  di Pardedetex juga adalah bagian dari persiapan Timnas menghadapi turnamen dan laga Internasional sepanjang 1969 -1970 dimana TC dan keberangkatan Timnas sepenuhnya didanai oleh T.D Pardede.Pardedetex sendiri selain berkompetisi di PSMS juga melakukan tur ke luar negeri sebagai bagian dari persiapan Timnas.

Skuad Pardedetex ini memperkuat PSMS ditambah dan didukung oleh anak Medan Non Pardedetex antara lain : Ronny Pasla,Yuswardi, Tumsila,Zulham Yahya, Ipong Silalahi, Syamsuddin dan Nobon. Mereka dilatih oleh Ramli Yatim dan E A Mangindaan. Skuad ini memperkuat PSMS di putaran Final Kejurnas PSSI 1969.

7 Tim yang berlaga di putaran Final Kejurnas PSSI 1969 ini adalah PSMS Medan, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persib Bandung, PSKB Binjai dan Persipura Jayapura. Skuad bintang – bintang terbaik Nasional ini sukses membawa PSMS Medan Juara Kejurnas PSSI 1969 pada 6 Juli 1969 setelah di pertandingan akhir putaran Final sukses menaklukkan Persib Bandung 3-0.

Kapten PSMS Medan Soetjipto Soentoro dan Kapten PSM Makassar Machful Umar di putaran Final Kejurnas PSSI 1969

PSMS pada putaran Final Kejurnas PSSI 1969 tersebut bahkan mencatat rekor fantastis dengan menorehkan rekor gol yang mengerikan dalam putaran Final yang diikuti oleh 7 tim yaitu memasukkan 29 gol dan hanya kemasukan 2 gol serta tak terkalahkan.

Kesuksesan ini membuat PSMS Medan untuk kedua kalinya menjuarai Kejurnas PSSI setelah sebalumnya sukses menjadi Juara Kejurnas PSSI pada 1967.

Pada bulan September 1969 skuad PSMS yang sukses menjadi Juara Kejurnas PSSI membela panji Sumatera Utara (Sumut) di PON VII yang berlangsung di Surabaya. Dalam PON ini skuad Sumut yang diasuh Ramli Yatim dan EA Mangindaan tampil gemilang membawa Sumut meraih medali Emas setelah dalam Final yang diwarnai baku hantam antar pemain mengalahkan DKI Jakarta 2-1 lewat gol yang dicetak oleh Iswadi Idris dan Soetjipto Soentoro.

Ini merupakan Medali Emas ketiga bagi Sumut di cabang sepakbola PON setelah sebelumnya sukses meraih Emas pada PON 1953 dan 1957.

Pada PON 1969 Soetjipto Soentoro menjadi top skor dengan 16 gol dan memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang seniornya bintang PSMS dan Sumut Yusuf Siregar,  pada PON 1953 dengan 15 gol.

Rekor Tjipto masisih bertahan dan belum terpecahkan. Ramli Yatim juga sukses menjadi sosok pertama yang sukses meraih Medali Emas PON sebagai Pemain dan Pelatih. Sebagai pemain Ramli Yatim sukses meraih Emas pada PON 1953 dan 1957.

Keberadaan pemain – pemain Nasional di Medan membuat Timnas waktu itu 90% diisi oleh pemain – pemain PSMS.

Dalam Merdeka Tournament 1969 dan Kings Cup 1969 dari 18 pemain yang dibawa 16 diantaranya adalah pemain PSMS. Hanya Surya Lesmana (Persija) dan Budi Santoso yang bukan dari PSMS. Dalam turnamen dan laga internasional sepanjang 1970 juga demikian dimana 90% pemain Timnas adalah pemain PSMS.

Di Merdeka Tournament 1969 skuad Timnas yang berisi 95 persen pemain PSMS  sukses menjadi juara setelah di final menaklukkan tuan rumah Malaysia 3-2.Namun Timnas gagal mempertahankan gelar juara Kings Cup setelah di Final Kings Cup 1969 takluk 0-1 dari Korea Selatan.

PSMS wakili Indonesia di AFC Champions Cup

Pada 1 – 10 April 1970 di Teheran berlangsung AFC Champions Cup (kini bernama AFC Champions League) dan PSMS tampil sebagai wakil Indonesia di ajang ini. AFC Champions Cup yang pada awalnya bernama Asian Champions Club Tournament pertama kali digelar pada 1967 yang mempertemukan juara – juara liga dari negara – negara Asia. Pada awalnya formatnya adalah Home Tournament dimana peserta dipilih dari negara – negara dengan peringkat AFC terbaik yang dipilih oleh AFC.

Indonesia mendapat undangan pada 1970 dan PSSI waktu itu menunjuk PSMS Medan sebagai Juara Kejurnas PSSI 1969 untuk tampil dalam event tersebut yang berlangsung di Iran pada 1 – 10 April 1970 di Teheran Iran. Jadilah PSMS Medan sebagai wakil Indonesia pertama yang berlaga di AFC Champions League.

PSMS yang waktu itu dipimpin oleh Ketua Umum M.H Sinaga dan didukung penuh oleh Komda PSSI Sumut di bawah pimpinan Kamaruddin Panggabean dan pengelola klub Pardedetex yang waktu itu menjabat Ketua I PSMS T.D Pardede langsung mengadakan persiapan dengan menunjuk Umar Khattab sebagai Manajer Tim dan menunjuk Legenda PSMS Ramli Yatim sebagai Pelatih dibantu oleh E.A Mangindaan sebagai Penasehat Teknis.

Dari hasil seleksi terpilih skuad dari Pardedetex yaitu Soetjpto Soentoro, Judo Hadianto, M. Basri, Anwar Ujang, Mulyadi, Jacob Sihasale, Abdul Kadir, Max Timisela, Sinyo Aliandoe, Sarman Panggabean, Sunarto dan Aziz Siregar. Skuad ini ditambah dengan bintang PSMS non Pardedetex antara lain Ronny Pasla, Yuswardi, Tumsila, Nobon dan Syamsuddin. Inilah skuad yang berangkat ke Iran untuk mewakili PSMS pada ajang tersebut.

Pada turnamen itu PSMS Medan berada di Grup B bersama Hapoel Tel Aviv (Israel), West Bengal (India), dan Royal Thai Police (Thailand). Pada pertandingan pertama PSMS sukses melibas West Bengal 1-0 melalui gol yang dicetak dari titik penalti oleh Abdul Kadir.

PSMS DI AFC CHAMPIONS CUP 1970 TEHERAN
Berdiri Ki-Ka : Sinyo Aliandoe,Anwar Ujang,Yuswardi,Mulyadi,M.Basri,Jacob Sihasale dan Soetjipto Soentoro (cpt).
Jongkok Ki-Ka : Iswadi Idris,Yudo Hadianto,Sunarto dan Abdul Kadir

Lalu pada pertandingan kedua PSMS juga sukses mengalahkan Royal Thai Police dengan skor 4-0 melalui gol yang dicetak oleh Iswadi Idris pada menit ke 51 dan 60, Kapten PSMS Soetjipto Soentoro pada menit ke-68 dan sang striker Jacob Sihasale pada menit ke-87.

Namun pada partai terakhir yang menentukan Juara Grup PSMS mendapat ujian berat karena dua kiper utamanya Ronny Pasla dan Judo Hadianto sakit akibat perubahan cuaca yang ekstrim. Ditambah lagi Sinyo Aliandoe yang awalnya disiapkan mejadi kiper dadakan juga sakit. Akhirnya terpaksa PSMS menjadikan Tumsila sebagai kiper dadakan.

Akhirnya PSMS harus takluk 1-3 dari Hapoel Tel Aviv dan gol untuk PSMS sendiri dicetak oleh sang kapten Soetjipto Soentoro. Hasil ini menempatkan PSMS sebagai Runner Up Grup B dan harus melawan tim tuan rumah Taj Teheran.

Menjelang semifinal PSMS Medan tampil tidak maksimal karena banyak pemainnya yang  tidak fit 100 persen. Judo Hadianto, Ronny Pasla dam Sinyo Aliandoe sudah dapat dimainkan walau belum fit 100 persen.

Dengan kekuatan yang timpang ini PSMS Medan berlaga di Semifinal menghadapi Taj Teheran. Namun semangat membara PSMS membuat PSMS mampu memberi perlawanan hebat walau akhirnya harus kalah 0-2 atas tuan rumah.

Dengan kekuatan yang sudah habis – habisan ini PSMS tampil di perebutan tempat ketiga melawan klub Libanaon Homenetmen. Namun sayang akhirnya PSMS juga harus mengakui keunggulan Homenetmen dengan skor 0-1. Begitupun hasil ini cukup membanggakan mengingat PSMS bisa membuktikan diri layak bersaing di tingkat Asia.

Sebagai penghargaan atas prestasi  PSMS di Kejurnas PSSI 1969 dan AFC Champions Cup 1970 serta PON 1969 seluruh pemain PSMS termasuk bintang – bintang Timnas oleh Walikota Medan Sjoerkani mendapat penghargaaan “Warga Utama Kota Medan” dan bagi pemain yang berasal dari luar Medan ini sangat membanggakan.

Judo Hadianto dalam diskusi dengan saya beberapa waktu lalu pernah menyebut  “Dimana bumi kami pijak disitu langit kami junjung.Dan itulah kenapa kami total membela Pardedetex, PSMS dan Tim Sumut di PON. Bahkan di Final PON kami sempat baku hantam ketika bertanding dengan DKI Jakarta”.

Usai AFC Champions Cup 1970 skuad Nasional  dari Pardedetex dan PSMS kembali ke klub asalnya sebelum mereka gabung ke Medan kecuali Anwar Ujang yang tetap di Medan dan memperkuat PSMS karena pada waktu itu ditugaskan di Medan oleh Pertamina. Anwar Ujang sendiri kemudian bergabung dengan klub anggota PSMS yaitu Bintang Utara.

Inilah skuad terbaik PSMS dalam sejarah sepakbola Indonesia dimanakala itu skuad PSMS dijuluki sebagai “The Dream Team”.- hasil kolaborasi antara 3 tokoh sepakbola Medan dan Sumut waktu itu yaitu T.D Pardede, Kamaruddin Panggabean dan M.H Sinaga (Ketua Umum PSMS) yang didukung penuh oleh Gubsu Marah Halim Harahap dan Walikota Medan Sjoerkani

Semoga ke depan, PSMS kembali bangkit menorehkan prestasi dan sejarah sebagai the Dream Team kembali. Horas dan jayalah PSMS Medan kebanggan kami! **