OSLO | okemedan. Para pengunjung bar gay di Oslo bersembunyi ketakutan di bawah tanah ketika seorang pria bersenjata melakukan penembakan membabi buta yang menewaskan dua orang dan melukai 21 orang. Insiden itu terjadi pada hari ketika kota itu akan merayakan parade Pride tahunan.
Pihak berwenang mengatakan tersangkanya adalah seorang warga negara Norwegia yang berasal dari Iran. Pria 42 tahun itu diyakini teradikalisasi sebagai seorang Islamis dan punya catatan gangguan mental. Sosoknya telah dikenal oleh instansi intelijen sejak 2015.
Serangan itu terjadi pada Sabtu (25/6) dini hari. Para korban ditembak di dalam dan luar London Pub, bar gay terkenal di Oslo, serta di jalan-jalan di dekatnya dan di sebuah bar lain di tengah Ibu Kota Norwegia itu.
Polisi mengatakan kedua korban tewas adalah laki-laki berusia 50an dan 60an.
Bendera-bendera pelangi yang mencerminkan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) ditampilkan di seluruh Oslo pekan ini, tapi parade Pride yang sedianya diadakan pada Sabtu (25/6), dibatalkan atas anjuran polisi.
Sementara parade resmi dibatalkan, beberapa ribu orang mengadakan pawai spontan di pusat Oslo, mengibarkan bendera pelangi , bendera kaum gay.
Tersangka ditahan beberapa menit setelah memulai penembakan. Menurut polisi yang mengatakan mereka yakin dia bertindak sendiri. Dua senjata, termasuk senjata otomatis, diambil dari TKP, tambah mereka.
Saksi lain menggambarkan kekacauan yang meletus di dalam dan di luar London Pub, yang telah dibuka sejak 1979.
“Banyak orang menangis dan menjerit, yang terluka berteriak, orang-orang tertekan dan takut – sangat, sangat takut,” kata Marcus Nybakken, 46, yang telah meninggalkan bar sesaat sebelum penembakan dan kembali lagi untuk membantu.
“Pikiran pertama saya adalah bahwa Pride adalah targetnya, jadi itu menakutkan.”
Wartawan Olav Roenneberg, dari stasiun NRK mengatakan dia berada di daerah itu pada saat itu dan melihat seorang pria datang dengan tas, mengeluarkan pistol dan mulai menembak: “Kemudian saya melihat jendela pecah dan mengerti bahwa saya harus berlindung.”
Tidak jelas persis di mana kedua orang itu tewas di area Pub London.
Otoritas keamanan menaikkan penilaian ancaman terorisme negara itu ke level tertinggi setelah serangan itu. Polisi Norwegia, yang biasanya tidak bersenjata, akan membawa senjata sampai pemberitahuan lebih lanjut sebagai tindakan pencegahan, kata kepala keamanan nasional Benedicte Bjoernland.
Raja Harald dari Norwegia mengatakan dia dan keluarga kerajaan sangat terpukul oleh serangan itu, yang menurut polisi juga menyebabkan 10 orang terluka parah dan 11 lainnya luka ringan.
“Kita harus berdiri bersama dan mempertahankan nilai-nilai kita: kebebasan, keragaman, dan rasa hormat satu sama lain,” tambah raja berusia 85 tahun itu.
Penembakan itu terjadi hanya beberapa bulan setelah Norwegia menandai 50 tahun sejak penghapusan undang-undang yang mengkriminalisasi seks gay.
Negara Nordik berpenduduk 5,4 juta ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih rendah daripada banyak negara Barat, meskipun telah mengalami penembakan bermotivasi kebencian, termasuk ketika ekstremis sayap kanan Anders Behring Breivik membunuh 77 orang pada tahun 2011.
sumber: VOA








