Merdeka Walk Tinggal Kenangan

Setidaknya sampai revitalisasi Lapangan Merdeka selesai, Merdeka Walk tinggal kenangan. Banyak pertanyaan dari masyarakat, terutama pelanggan MW -begitu disingkat- apakah akan kembali lagi dalam konsep baru atau tinggal cerita.

Keberadaan Merdeka Walk sejak awal memang menuai kontroversi. Betapa tidak, pemandangan Lapangan Merdeka sebagai ikon sejarah di Kota Medan tertutup dari sisi Barat akibat konsep bangunan permanen bahkan bertingkat beberapa tenant di MW. Makin lengkap “penderitaan” Lapmer -begitu anak milenial menyebut- ketika di sisi Timur pemerintah kota pada masa itu membangun bangunan untuk penjual buku bekas dan tempat parkir di bawah bangunannya. Sementara di sisi Utara, berkantor sejumlah instansi.

Aneh memang, bagaimana mungkin sebuah alun-alun terbuka yang memiliki makna historis tinggi dalam kemerdekaan Indonesia bisa dikelilingi oleh bangunan-bangunan permanen. Entah di negeri mana kebijakan  seperti ini ada, mungkin hanya di Medan dimana sebuah alun-alun tertutup dari pandangan. Padahal setiap 17 Agustus disana diperingati HUT Kemerdekaan RI. Padahal alun-alun dimanapun merupakan ruang terbuka yang bebas dari bangunan di sekitarnya.

Sejumlah pihak termasuk para pejuang kemerdekaan Angkatan 45 pernah menyuarakan desakan agar Lapangan Merdeka bebas dari bangunan di sekeliling termasuk Merdeka Walk saat baru dibangun. Termasuk bangunan bertingkat yang ada yang nyata menutupi Lapangan Merdeka, hingga mengadu ke senator di dewan kota. Tapi apa daya, semua tak berdaya karena terbentur hak pengelolaan yang diberikan Pemko kala itu.

Kini, akhirnya harapan para pejuang kemerdekaan, Angkatan 45 dan Angkatan 66 serta elemen masyarakat yang menginginkan kawasan Lapangan Merdeka kembali kepada bentuknya semula diamini oleh Walikota Medan Bobby Nasution. Revitalisasi dimulai, bangunan Merdeka Walk dan lainnya “digeser”. Kelak di bawah lapangan Merdeka pun akan dibuat tempat parkir.

Banyak pihak yang pro Merdeka Walk mencurahkan kekecewaan dan galau atas revitalisasi MW. Hanya lantaran romantika pribadi. Msalnya seperti dibaca dari komen-komen sosial media, di sanalah tempat bertemu pacar, dapat jodoh, diputus cinta, ngumpul dengan teman, hal-hal remeh temeh yang tak ada nilainya dibandingkan nilai nilai sejarah yang dimiliki Lapangan Merdeka. Bahkan ada yang menyatakan Merdeka Walk sebagai ikon Kota Medan.

Memang MW sudah terlanjur menjadi salah satu destinasi kuliner dan tempat hang out di Medan. Lokasinya sangat strategis, di titik nol. Terutama bagi generasi milenial. Walaupun sesungguhnya menu yang ditawarkan tidak istimewa, paling tidak bagi wisatawan asing. Ceritanya akan jadi berbeda, jika keseluruhan menu yang ditampilkan adalah menu Nusantara, menu khas Sumatera Utara. Karena itu, yang menikmati kuliner MW  selama ini adalah warga lokal dan wisatawan nusantara, hanya sedikit turis bule.

Kita tak tahu apakah sebagian tenant eks Merdeka Walk akan kembali lagi setelah revitalisasi selesai atau meminjam judul lagu Pance, Kucari jalan terbaik. Yang pasti, pada peringatan HUT Proklamasi RI pada 17 Agustus nanti kita warga Medan dan sekitarnya kembali akan bisa menyaksikan pemandangan dari seputaran Lapangan Merdeka prosesi upacara hari kemerdekaan seperti sebelum ada Merdeka Walk.

narasi: Diurnanta

foto-foto: Ariandi

 

Tinggalkan Balasan