OkeBiz

Larangan Ekspor Minyak Sawit RI Untungkan Malaysia

Pangkas pajak ekspor, Malaysia dominasi pasar India

MEDAN | okemedan.Kebijakan ekspor minyak sawit Indonesia “yang tidak dapat diprediksi” mungkin membantu Malaysia bangkit sebagai pemasok dominan untuk India, pembeli terbesar minyak sawit dunia, kata para sumber di industri terkait.

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia, tetapi kebijakan ekspornya yang tidak menentu, termasuk larangan terbaru yang diumumkan pada 22 April lalu, telah mendorong konsumen India meningkatkan ketergantungan mereka pada Malaysia, produsen terbesar kedua dunia yang produknya kurang dari separuh produk pesaingnya. Indonesia.

Malaysia memosisikan diri untuk memanfaatkan larangan Indonesia itu dengan memangkas pajak ekspor minyak sawit hingga setengahnya, kata Menteri Komoditas Malaysia Zuraida Kamaruddin pada Selasa (9/5).

Seorang petani mengumpulkan buah kelapa sawit di kawasan transmigrasi Arso di Provinsi Papua, 19 April 2007. (Foto: Reuters)
Seorang petani mengumpulkan buah kelapa sawit di kawasan transmigrasi Arso di Provinsi Papua, 19 April 2007. (Foto: Reuters via VOA)

Kombinasi pajak ekspor yang lebih rendah dan larangan ekspor Indonesia itu dapat berarti pangsa ekspor minyak sawit Indonesia ke India akan berkurang menjadi 35% pada tahun pemasaran yang berakhir pada 31 Oktober ini, dari 75% lebih satu dekade silam, menurut perkiraan Solvent Extractors’ Association of India (SEA), sebuah organisasi perdagangan minyak nabati.

“Malaysia adalah penerima keuntungan terbesar dari kebijakan tidak menentu Indonesia,” kata B.V. Mehta, direktur eksekutif SEA yang berbasis di Mumbai. “Sementara Indonesia tidak masuk pasar, Malaysia menjual lebih banyak lagi, dan hampir mendekati harga yang mencapai rekor tingginya.”

Dalam lima bulan pertama tahun pemasaran 2021-2022, India telah membeli 1,47 juta ton minyak sawit Malaysia, dibandingkan dengan 982.123 ton dari Indonesia, menurut data yang dikumpulkan SEA.

Perkiraan pedagang untuk Mei menunjukkan India mengimpor sekitar 570 ribu ton minyak sawit, dengan 290 ribu dari Malaysia dan 240 ribu dari Indonesia.

Jika larangan ekspor Indonesia masih berlaku hingga dua pekan lagi, maka impor minyak sawit India untuk bulan Juni akan berkurang menjadi 350 ribu ton, sebagian besar berasal dari Malaysia.

Pergeseran impor minyak sawit India ini akan menjungkirbalikkan pola dominasi Indonesia yang sudah mapan di Asia Selatan.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung mengatakan sejak pemerintah memberlakukan larangan ekspor bahan baku minyak goreng pada 28 April, harga buah tandan segar (TBS) yang biasa diterima petani sawit anjlok.

Ia menjelaskan, tidak ada satu pun pabrik kelapa sawit (PKS) yang mematuhi harga TBS sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 01 tahun 2018. Berdasarkan peraturan itu harga TBS seharusnya sekitar Rp3.900 per kg. Pabrik kelapa sawit biasanya mengolah TBS menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

sumber: VOA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button