Ahli: PPKM Mikro Tidak Bisa Redam Penularan Virus Corona

WASHINGTON DC | okemedan. Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyayangkan sikap pemerintah yang tidak berani mengambil keputusan untuk memberlakukan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di tengah kasus COVID-19 yang sedang naik siginikan.

“Dan terbukti, PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat)  Mikro ini tidak signifikan dalam menurunkan angka reproduksi dan Universitas Indonesia (UI) punya datanya. Dibandingkan dengan PSBB, lebih signifikan PSBB, dan secara sederhana saja, apa yang terjadi saat ini di tengah PPKM Mikro makin diperluas, masih terjadi lonjakan,” ujar Dicky kepada VOA.

Dicky menambahkan klaim pemerintah bahwa kebijakan PPKM Mikro telah berhasil menurunkan kasus COVID-19 di berbagai daerah seperti Kudus tidak didukung oleh data yang valid. Hal ini ditunjukkan dengan test positivity rate yang masih cukup tinggi. Ini artinya, kata Dicky, mengindikasikan bahwa cakupan testing dan tracing masih belum memadai. Apalagi saat ini, pelacakan varian baru virus corona melalui tes whole genome sequencing (WGS) juga dinilai masih rendah.

“Saya ingatkan kita berhadapan dengan varian delta yang jangankan PPKM Mikro, lockdown itu sendiri tidak bisa meredam varian delta itu. Dia harus dikombinasikan tiga, ya lockdown, testing, tracing yang massif, lalu isolasi, karantina dan vaksinasi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan memperkuat implementasi kebijakan PPKM Mikro di lapangan. Menurutnya, berdasarkan pengalaman, kebijakan tersebut masih diyakini dapat menekan kasus aktif COVID-19.

“Bahwa yang kita lakukan adalah penguatan PPKM Mikro, yang mengatur berbagai kegiatan, di mana kegiatan itu dilakukan dalam zonasi yang sudah ditentukan. Jadi, itu mengatur kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan kedisiplinan masyarakat di sejumlah sektor. Terkait dengan PPKM Mikro, kita ketahui bahwa di level mikro di RT/RW, Desa tadi disampaikan dan berbasis kepada pengalaman yang sudah dilakukan baik itu di Kudus, maupun di Bangkalan yang berbasis kepada kecamatan-kecamatan dan terbukti di Bangkalan, di Kudus, di Kepulauan Riau maupun di Riau itu berhasil menurunkan tingkat kasus aktif,” ujar Airlangga, dalam telekonferensi pers usai Rapat Terbatas, di Jakarta, Senin (21/6).

VOA

 

Tinggalkan Balasan