Tuan MH Manulang Layak Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

MEDAN | okemedan. Dikenal sebaga Inspirator Pendidikan kebangsaan di negeri ini, Tuan MH Manulang layak diusulkan sebagai Pahlawan Nasional kepada Presiden RI Joko Widodo.

Hal itu dikatakan Tokoh Pendidikan Sumatera Utara Prof Dr Syawal Gultom MPd dalam Seminar Daring yang digelar LPPM sebagai upaya awal dalam Pengusulan Tim dosen Sejarah FIS Unimed telah merancang beberapa langkah dan didukung LPPM agar upaya pengusulan Tuan MH Manulang menjadi pahlawan nasional ini berhasil.

Seminar daring ini juga diikuti narasumber Prof Dr Asvi Warman Adam (Sejarahwan LIPI Jakarta), Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro Jakti (Menteri Koordinator Perekonomian pada Kabinet Gotong Royong, Sejarahwan Ekonomi, Jakarta), Drs Joko Irianto MSi (Direktur Kepahlawanan, Keperintisan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial RI Jakarta), dan Dr Rosmaida Sinaga M.Hum (Sejarahwan Universitas Negeri Medan).

Prof Syawal menambahkan, selain Tuan MH Manullang, Unimed beberapa waktu yang lalu juga berhasil mengusulkan beberapa tokoh perjuangan Indonesia menjadi pahlawan nasional.

Prof Syawal Gultom, diminta panitia untuk memberikan masukan dan pertimbangan secara akademik dalam Seminar Daring tersebut mengatakan, Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang layak menjadi pahlawan nasional, mengingat sekitar 1 abad lalu, pahlawan perintis kemerdekaan yang biasa dikenal Tuan MH Manullang itu telah menjadi Inspirator Pendidikan kebangsaan di negeri ini.

“Tahun 1910 Tuan MH Manullang telah merumuskan dengan baik apa itu Pendidikan, hampir 100 tahun sebelum UU Sisdiknas,” kata Syawal saat tampil sebagai salah satu nara sumber pada seminar yang bertemakan “Tuan MH Manullang: Dari Pahlawan Kemerdekaan menuju Calon Pahlawan Nasional”, dalam kegiatan webinar yang berlangsung di Unimed, Sabtu (13/3/21).

Lanjutnya, meski tidak dapat dikatakan secara eksplisit bahwa tujuan Pendidikan nasional yang dituangkan pada UU Sisdiknas diilhami oleh pemikiran Tuan MH Manullang, tetapi paling tidak dapat menyebut bahwa jauh sebelum UU Sisdiknas dirumuskan (2003), tahun 1910 Tuan MH Manullang telah merumuskan apa itu Pendidikan.

“Isi atau konten Pendidikan, Pemikiran, perjuangan, ketokohan, kepemimpinan, kegigihan dan konsistensi Tuan MH Manullang adalah inspirasi yang energetik bagi Pendidikan kebangsaan Indonesia,” katanya.

Sebenarnya,  para guru guru (tanpa kecuali, apalagi guru sejarah) khususnya di Tanah Batak dapat menjadi mencapai level guru yang tertinggi yaitu guru yang inspiratif bila mampu memberi pemaknaan baru sesuai konteks kekinian terhadap perjuangan Tuan MH Manullang (bila berpikir abstraktif maha guru itu “menginspirasi”, guru yang hebat itu menjadi “teladan”, guru yang baik itu “menjelaskan, mencerahkan”, dan ketiganya telah dicontohkan oleh Tuan MH Manullang.

Tuan MH Manullang, lanjut Syawal,  dapat jadikan sebagai guru bangsa. Dia mencontohkan bagaimana Pendidikan di drive dengan orientasi harmonisasi atau perimbangan sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Dari sudut pandang Pendidikan kebangsaan, lanjutnya lagi, Tuan MH Manullang telah menyumbangkan sekurang-kurangnya 6 dimensi terpenting dalam aras filosofi, value, teori, konsep, paradigma, dan metodologi.

“Saya meminjam cara berpkir “computational thinking” mulai dari abstraksi, algoritma, pola dan dekompoisi untuk memudahkan mengelaborasi 6 dimensi tersebut pada konteks perjuangan yang dilakukan Tuan MH Manullang, yakni tujuan Pendidikan untuk mengembangkan potensi lewat keimanan, ketakwaan, kesehatan jasmani rohani, karakter, keterampilan dan keluasan wawasan guna menjadi orang yang demokratis dalam berbangsa dan bernegara,” tegas Mantan Rektor Universitas Negeri Medan periode 2007-2011 dan periode 2015–2019.

Perjuangan Tuan MH Manullang sejak menjadi siswa yang akhirnya dipecat tahun 1905 akibat melakukan  pemberontakan pertama, memimpin demonstasi, pemogokan siswa untuk melawan inkonsistensi.

Ditambahkan Syawal, Tuan MH Manullang menunjukkan sebuah proses belajar yang mengandalkan “indepent learner”, berbasis multicultural.

Mengingat Tuan MH Manullang menggiring nalar teoritik pada pernyataan seorang tokoh besar dunia Nelson Mandela yang mengatakan education is the most powerful weapon which you can use to change the world.

“Sebagai siswa, Tuan MH Manullang mencontohkan cara-cara berpikir kritis sehingga mampu mendirikan organisasi Hatopan Kristen Batak (HKB). Dalam Pendidikan kebangsaan warisan termahal Pendidikan itu adalah cara berpikir kritis yang dikenal dengan HOTS (Higher Order Thinking Skill),” tukas Syawal.

Seluruh perolehan Tuan MH Manullang dalam pendidikan diartikulasi dengan baik dalam memimpin organisasi sehingga dikenal memiliki kepemimpinan yang sangat mumpuni. Cara ini menyegarkan ingatan kembali apa yang pernah disampaikan tokoh Pendidikan sekaliber John Dewey, yang mengatakan education is life its self, not preparation for life.

“Bagaimana mengimpelementasikan hasil Pendidikan secara kontekstual dicontohkan Tuan MH Manullang dengan baik sehingga mampu melakukan perlawanan terhadap ekspansi agraria di Tanah Batak meski berujung dipenjarakan oleh Belanda,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial mewakili Bupati Tapanuli Utara, Rahman Situmeang mengungkapkan Pemkab Taput siap mendukung penuh proses pengusulan Tuan MH Manullang menjadi Pahlawan Nasional.

OM-zan

Tinggalkan Balasan