MEDAN | okemedan. Sebagai pengarang monolog “Binikku,” wajarlah Ronald Tarakindo Rajagukguk sangat mengerti isi cerita lakon teater berpemeran tunggal itu. Hanya saja kesangatmengertiannya pada isi cerita justru menyeretnya terlalu dikuasai cerita ketika dianya langsung menjadi pemeran dalam pergelaran monolog tersebut.
Hal itu tampak ketika Ronald tampil memerani monolog “Binikku,” mengisi program kegiatan Bengkel Monolog yang difasilitasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Sumatra Utara (TBSU), di salah satu gedung di areal Pekan Raya Sumatra Utara (PRSU), Jalan Gatot Subroto Medan, Jumat (26/2/2021) malam.
Sejatinya penampilan Ronald memerani monolog karyanya itu memukau penonton yang jumlahnya berkisar hanya 50 orang, dikarenakan kegiatan tersebut memenuhi protokol kesehatan menghadapi Covid-19.
Namun pukauan tersebut kadang terganggu oleh kesadaran Ronald yang terlalu dikuasai cerita, sehingga tampak mengganggu saat dia harus mengalihkan pemeranannya dari satu tokoh ke tokoh lainnya secara luwes.
Terlepas dari kesemua itu, penampilan Ronald bermonolog “Binikku” tetaplah pantas diberi apresiasi. Ronald sekaligus Bengkel Monolog yang dikomandoi Porman Wilson Manalu telah membuktikan, di tengah keterbatasan waktu, ruang dan bahkan finansial sehubungan Covid-19 yang masih berlanjut persebarannya, seniman tak henti berkarya.
Beralasanlah, di kesempatan pidato sambutannya, Kepala TBSU Rachmat Hadi Saputra Harahap, SE berpendapat pergelaran monolog “Binikku” yang dilaksanakan Bengkel Monolog merupakan salah satu bukti para seniman di Sumut, khususnya bidang teater, tetap mampu melahirkan karya-karya berkualitas di tengah keterbatasan fasilitas yang saat ini sama-sama dialami.
OM-ys rat








