30 Unit Shelter Baru Pengungsi Rohingya di Diresmikan

Lhokseumawe I okemedan, Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya didampingi Kasrem 011/Lilawangsa Letkol Czi M. Ridha Has beserta unsur Muspida resmikan shelter baru pengusi Rohingya, di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, kemarin.

“Shelter dibangun UNHCR itu terdiri dari 3 blok dengan jumlah 30 unit untuk tempat pengungsian Rohingya. Sementara dari PMI Kota Lhokseumawe berjumlah 6 unit dengan total 36 unit”, kata Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya.

Saat ini, tambah Suaidi Yahya, sisa pengungsian Rohingya 108 orang sudah bisa menempati shelter baru, sebelumnya ratusan pengungsi etnis Rohingya menempati Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Lhokseumawe.

Dalam kesempatan itu Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya mengatakan, pengungsi Rohingya membutuhkan kebebasan atau mereka meminta untuk bisa hidup secara mandiri. “Pengungsi Rohingya harus diberikan hak untuk berpartisipasi, mereka juga ingin bebas. Jadi ini yang harus kita perhatikan, agar mereka betah dan tidak lagi kabur dari lokasi penampungan ini,” katanya.

Ia juga menegaskan, semua yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe adalah bentuk kemanusiaan. Pihaknya berharap, peran UNHCR ini harus benar-benar berdampak baik bagi pengungsi Rohingya.

“UNHCR harus komitmen, bila ada kesepakatan ini, maka semua akan berjalan dengan baik. misalnya ada gelombang ketiga datang, maka dengan adanya komitmen ini kita siap menampung mereka,” tegas Suaidi Yahya.

Sementara itu, Dwita Aryani, Assistant Protection Officer The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada Muspida dan Muspika yang sudah sangat berkontribusi dalam membantu penanggulangan pengungsi di Lhokseumawe. Terkhusus untuk masyarakat Desa Meunasah Mee, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, TNi-Polri serta relawan dari lembaga lokal dan internasional.

“Adapun shelter pengungsi yang UNHCR bangun melalui partner YKMI terdiri dari 30 unit shelter, 1 ruang belajar, 28 unit toilet, 5 tempat cuci, serta 1 dapur umum, dan 200 meter drainase. Juga jalan setapak area shelter baru, lapangan bola voli dan takraw, 33 sekat ruangan di bangunan lama dan sumur bor sedalam 100 m lebih,” sebut Dwita Aryani.

Kemudian sambungnya, selain itu juga ada bantuan yang sudah diberikan kepada lingkungan masyarakat. Bantuan tersebut berupa 20 unit toilet serta berbagai perlengkapan kebersihan untuk desa setempat. Seperti gerobak motor sampah, perlengkapan kesehatan kepada Puskesmas dan Posyandu, serta perlengkapan kipas angin untuk masjid sekitar BLK.

“Selain itu, ada 250 paket makanan nutrisi untuk ibu hamil, dan berbagai macam pelatihan untuk masyarakat seperti ternak ikan, tata boga, menjahit, elektronik, dan perbengkelan,” ujarnya.

Dwita Aryani juga menjelaskan, komitmen UNHCR kedepan adalah untuk terus belajar dan meningkatkan kerjasama dengan pemerintah dan lembaga lokal, dalam membantu penanganan pengungsi di Lhokseumawe.

“UNHCR juga ingin meningkatkan kerjasama dan bantuan untuk masyarakat lokal Lhokseumawe, berupa dukungan terhadap fasilitas umum seperti sekolah, Puskesmas, kantor pemerintahan, dan program-program pendidikan untuk masyarakat,” jelasnya.

Pihaknya juga menargetkan, agar di masa yang akan datang, pengungsi akan menjadi lebih mandiri dan memiliki hubungan yang harmonis dengan masyarakat Aceh.

Hadir dalam peresmian tersebut, Kasrem 011/LW Letkol Czi M Ridha Has, Kadinsos Kota Lhokseumawe Ridwan Djalil, Kadiskes Kota Lhokseumawe dr Said Alam Zulfikar, Sekda Kota Lhokseumawe T Adnan, Kepala BPBD Kota Lhokseumawe Hanirwasnyah, Danlanal Lhokseumawe Kolonel Laut (P) Dimmi Oumry, serta tamu undangan yang hadir.

OM  – sugito tassan

Tinggalkan Balasan