JAKARTA | Okemedan. Penyelidik di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia mengatakan, pesawat Sriwijaya Air yang jatuh ke Laut Jawa dengan 62 orang di dalamnya pada akhir pekan kemungkinan pecah ketika menabrak perairan berdasarkan puing-puing yang ditemukan sejauh ini.
“Kami tidak tahu pasti, tapi jika kami melihat puing-puingnya, mereka tersebar di daerah yang tidak terlalu luas,” kata Nurcahyo Utomo kepada Reuters, Senin (11/1). “Kemungkinan pecah ketika menghantam perairan karena jika meledak di udara, puing-puing akan tersebar lebih luas,” tambahnya.
Pesawat Siriwijaya Boeing 737-500 sedang dalam penerbangan domestik ke Pontianak di Kalimantan Barat pada hari Sabtu sebelum menghilang dari layar radar empat menit setelah lepas landas. Belum ada petunjuk apa yang menyebabkan kecelakaan itu.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono pada Minggu mengatakan lokasi dua kotak hitam Penerbangan SJ182 telah diidentifikasi.
“Mudah-mudahan bisa segera kami ambil,” kata Panglima TNI Hadi Tjahjanto, tanpa memberikan perkiraan jangka waktu yang ditentukan.
Potongan-potongan reruntuhan dibawa ke pelabuhan Jakarta oleh tim penyelamat, termasuk radar altimeter pesawat, saluran darurat dan bagian yang diduga terlepas dari bagian bawah ekor pesawat, kata pejabat KNKT Nurcahyo Utomo.
Pihak berwenang mengatakan mereka turun menyelam hingga kedalaman 23m di dekat sekelompok pulau di lepas pantai Jakarta.
Pesawat itu memiliki 12 awak dan 50 penumpang, semuanya warga negara Indonesia dan termasuk 10 anak-anak.
Tidak ada petunjuk langsung tentang apa yang menyebabkan penurunan mendadak itu. Sebagian besar kecelakaan udara disebabkan oleh berbagai faktor yang perlu waktu berbulan-bulan untuk ditetapkan, kata para pakar keselamatan.
Kapolres Kepulauan Seribu, AKBP Eko Wahyu, kepada wartawan, Senin (11/1). menjelaskan, jaat kejadian sejumlah nelayan mendengar dentuman keras saat Sriwijaya Air menghantam permukaan laut. Disebutkan juga, air laut sempat naik sampai 15 meter saat kejadian.
“Kemarin itu ada tiga nelayan memberikan informasi awal pada saat jatuhnya pesawat ini karena mereka tidak melihat langsung pesawat jatuh itu, tidak. pada saat itu hujan lebat di hari H itu sore sore sekitar jam tiga lewat atau sekitar jam 15.30 WIB-15.50 WIB itu nelayan rajungan … disebutnya ya itu mendengar suara dentuman keras sekali terus air naik ke atas 10 sampai 15 meter dikira apa ini, bencana, tsunami dan sebagainya. Ternyata setelah air itu naik ada serpihan-serpihan itu diduga ada jatuh kapal, mereka melaporkan Kapospol, kemudian lapor ke Kapolsek akhirnya kan kita tindaklanjuti laporan ke atas,” kata Eko.
Seorang juru bicara kementerian transportasi mengatakan petugas kontrol lalu lintas udara telah bertanya kepada pilot mengapa pesawat itu alih alih menuju barat laut daripada jalur penerbangan yang semenstinya beberapa detik sebelum menghilang.
Pesawat Sriwijaya Air adalah jenis Boeing 737-500 yang berusia hampir 27 tahun, jauh lebih tua dari model Boeing 737 MAX yang bermasalah. Model 737 yang lebih lama banyak diterbangkan dan tidak memiliki sistem pencegahan dalam krisis keamanan.
“Kami menghubungi pelanggan maskapai kami dan siap mendukung mereka selama masa sulit ini,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan. “Pikiran kami tertuju pada kru, penumpang, dan keluarga mereka.”
Didirikan pada tahun 2003, grup Sriwijaya Air yang berbasis di Jakarta terbang sebagian besar di dalam kepulauan Indonesia yang luas.
Maskapai hemat ini memiliki catatan keselamatan yang solid, dengan tidak ada korban dalam empat insiden yang tercatat di database Jaringan Keselamatan Penerbangan.
Pada tahun 2007, Uni Eropa melarang semua maskapai penerbangan Indonesia menyusul serangkaian kecelakaan dan laporan tentang penurunan pengawasan dan pemeliharaan sejak deregulasi pada akhir 1990-an. Pembatasan tersebut sepenuhnya dicabut pada tahun 2018.
OM – CNA. detik.com







