2021, Bank Sumut Menuju Perusahaan Terbuka dengan Menawarkan Saham Hingga 25 %

MEDAN | okemedan. Rencana strategis telah dipersiapkan Bank Sumut menuju tahun 2021 mendatang yang merupakan tahun transformasi untuk dapat lolos dari tantangan pandemi. Langkah tersebut, Bank Sumut akan menuju sebagai Perusahaan Terbuka dengan rencana melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran perdana sebagai saham perusahaan ke publik.

Hal itu diungkapkan Direktur Operasional PT Bank Sumut Rahmad Fadillah Pohan pada Media Gathering Insan Pers& Bank Sumut Akhir Tahun 2020, di Cambridge Medan, Selasa (22/12/2020).

Katanya, untuk menjadi perusahaan terbuka, Bank Sumut harus menerapkan GCG agar mencapai kinerja terbaik meski menjelang tutup buku tahun 2020, mencatat kinerja yang positif sekalipun kondisi perekonomian secara global masih belum stabil akibat pandemi Covid-19.

 



“Kita akan memaksimalkan penerapan GCG dengan cara membuat penyesuaian struktur organisasi berdasarkan kompleksitas usaha bank, menetapkan ketentuan internal, menyiapkan SDM yang berkompeten dan berintegritas tinggi sehingga Bank Sumut dapat menciptakan Good Governance dan Clean Governance,” ujarnya.

Ditambahkan, Bank Sumut berencana melakukan IPO dengan menerbitkan saham sekitar 20-25% dari modal saat ini yang bertujuan untuk memperkuat permodalan Bank Sumut dalam melakukan ekspansi bisnis.

“Rencana lain di tahun 2021, melakukan perbaikan kualitas kredit,pengembangan fitur e-channel digital banking, peluncuran dan pengembangan produk/aktifitas baru dan fokus pada retail banking dimana Bank Sumut berencana meningkatkan pangsa pasar penyaluran KMG kepada ASN sampai 75% yang saat ini masih sebesar 45% serta memberdayakan sektor UMKM,” sebutnya.

Rahmad Fadillah menyebutkan, pada tahun ini kinerja keuangan Bank Sumut di bulan November 2020, pencapaian laba setelah pajak sebesar Rp483,7 Miliar atau 101,37% dari rencana pertumbuhan pada November 2020.

Hal itu didorong atas realisasi kredit pada November 2020 sebesar Rp23,56 Triliun (96,09%). Penyaluran kredit itu ditopang dengan penghimpunan Dana pihak ketiga yang melonjak mencapai Rp31,77 Triliun (118%) dari rencana. “Total asset tumbuh sebesar Rp38,09 Triliun (114,83%) dari rencana,” katanya.

Aspek rasio keuangan, lanjutnya, NPL pada posisi November 2020 mencapai 3,83% dan lebih baik dibandingkan pada November 2019 sebesar 4,54%. Sedangkan CAR atau kewajiban Penyertaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 20,21% dan lebih baik dari tahun sebelumnya 17,31%.

“Kita bergerak cepat dengan sejumlah langkah dan strategi demi pencapaian target bisnis bank di tengah pandemi ini,” ujarnya.

Bank Sumut juga melakukan identifikasi dan komunikasi kepada nasabah/debitur terdampak pandemi dalam memenuhi kewajibannya dengan penawaran restrukturisasi kredit.

Tercatat, pada kuartal-III, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi oleh Bank Sumut lebih kurang mencapai Rp1,8 Triliun.

 



Disamping itu, tambahnya, Bank Sumut ikut serta dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan ekspansi KUR yang tercatat sampai 8 Desember 2020, mencairkan dana PEN senilai Rp832,8 Miliar dari total Rp1 Triliun.

“Bank Sumut melakukan kegiatan Sapa Pedagang Pasar yang menyasar pada pedagang-pedagang. Hasilnya kita mampu menggaet 918 rekening dari 1300 tenan dan sudah 36 tenan menggunakan aplikasi QRIS Bank Sumut. Hal ini merupakan upaya Bank Sumut untuk ‘menjemput bola’ guna mempercepat program digitalisasi pasar tradisional,” katanya.

Sementara itu Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan Bank Sumut bisa menjadi Regional Champion yang telah mampu menyumbang PDB sebesar 5%.

“Kalau kita bicara dari Aceh sampai Sumatera Selatan itu cuma 16%, sepertiga ekonomi Sumatera,” ujarnya.

Menurutnya, pandemi ini berdampak pada ekonomi secaga global. Oleh karenanya, yang perlu diselamatkan atas dampak tersebut adalah bank.

Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin.

“Pemerintah harus memperkuat kondisi likuiditas perbankan dengan penempatan dana di bank. Ini untuk memperkuat agar bank tidak mengalami kekeringan likuiditas yang bisa memicu terjadinya krisis keuangan lanjutan di tanah air yang dimotori oleh melemahnya industri perbankan. Kenapa industri perbankan itu yang diselamatkan terlebih dahulu, kalau enggak diselamatkan ya jangan bicara deh yang namanya pabrik-pabrik industri perkebunan itu pasti mati semuanya. Karena jantungnya ekonomi perputaran uang itu yang mampu bank, tanpa ada uang nggak akan berputar ekonomi, dan langsung krisis ekonomi terjadi,” jelasnya.

Gunawan Benjamin mengharapkan Bank Sumut lebih cenderung membantu UMKM di pasar daripada menyertakan modalnya kepada proyek-proyek infrastruktur.

“Ekonomi kerakyatan jangan dilupakan, UMKM jangan ditinggalkan. Semakin cepat Bank Sumut mendigitalkan pasar, pertumbuhan Bank Sumut semakin pesat  dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.

 



Hadir pada Media Gathering Insan Pers& Bank Sumut Akhir Tahun 2020, Ketua PWI Sumut Hermansjah, Ketua SMSI Sumut Zulfikar Tanjung serta insan pers lainnya.

OM-zan

Tinggalkan Balasan