Pemkab Labuhanbatu Butuh Pembangunan Tugu Ikon Daerah

oleh
Tugu ikan Sura Boyo, dan Tugu Pahlawan Surabaya menjadi titik destinasi wisata okemedan/H5
Pengunjung yang datang dominan merupakan warga luar daerah. Sebagai wisatawan domestik. Mengabadikan poto diri (selfi) di sejumlah patung yang ada di sejumlah kawasan inti kota Surabaya, Propinsi Jawa Timur.
Momen ini menjadi “ladang” bagi potografer amatir lokal di sana. Peluang untuk memperoleh uang. Jasa potografi itu menjadi sumber penghasilan ekonomi sejumlah warga. Misalnya, di patung Suro (Hiu) dan Buoyo (Buaya) di bilangan jalan Raya Diponegoro kota Surabaya. Tepatnya di depan pintu masuk ke komplek Kebun Binatang, Surabaya. Dan patung sebagai Tugu Pahlawan di Surabaya di kawasan jalan Bubutan, Alun-alun Contong, Bubutan, Kota Surabaya.
Keberadaan patung-patung yang tegak di kawasan kota Surabaya menjadi ikon daerah itu. Terlebih lagi, penanda bahwa daerah itu memiliki cerita unik dan heroik dalam keberadaannya.
Kisah tarung Ikan Suro dan Buoyo menjadi cerita asal berdirinya kota Surabaya. Dan, terinspirasi legenda itu, pihak Pemerintah Kota Surabaya Propinsi Jawa Timur, mengabadikan dengan mendirikan tugu pertarungan Hiu dan Buaya.
Patung Hiu putih dan Buaya abu-abu di sana kerap disambangi warga luar Surabaya. Kedatangan pendatang di sana, seakan memberi kesan, belum lengkap hadir di Surabaya tanpa berkunjung ke patung Suro Buoyo. Dan, pembuktiannya dengan berpoto ria berlatar patung tersebut.
Momen ini menjadi kesempatan baik untuk warga lokal. Membantu dan menawarkan jasa potografi. Aktivitas itu melahirkan profesi baru. Puluhan warga menjajakan jasa potografi. Dan, belasan juga warga menjadi pedagang kaki lima di trotoar setempat.
“Sedikitnya 6 juragan poto ada di sini,” kata Temon, Seorang potografer lokal, kemarin.
Mereka menyebut juragan ke pihak yang memberi fasilitas bisnis potografi tersebut. Setiap juragan memiliki “pasukan”. Sedikitnya, 6 orang.
Tarif pemotoan dan cetaknya, dipatok Rp10 ribu – Rp20 ribu perlembar. Dan, para potografer itu mendapat fee/upah sebesar 50% perlembar poto yang tercetak. Tentu, ini menjadi penyumbang dan penopang ekonomi warga di sana. Dari sebuah patung dapat membantu prekonomian warga. Agar tetap tertata rapi, Pemkot Surabaya juga melakukan perawatan secara rutin terhadap fisik patung tersebut.
Di lokasi berbeda. Masih di inti Kota Surabaya, juga terdapat Tugu Pahlawan. Merupakan monumen bersejarah kebanggaan warga di sana. Tugu Pahlawan menjadi bukti sejarah perjuangan heroik arek-arek Surabaya melawan sekutu dan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia pada 10 November 1945 lalu.
Tugu Pahlawan terletak di samping Kantor Gubernur Jawa Timur. Tentu sangat mudah untuk dijangkau. Ibu kota Jawa Timur ini memang sudah erat kaitannya dengan sejarah perjuangan bangsa. Baik itu sebelum masa kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan.
Tentu saja, keberadaan sejumlah tugu, patung dan museum bersejarah di sana sedikit banyak penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Khususnya, terkait pajak perparkiran. Pemkot Surabaya punya potensi pajak yang besar dari sejumlah sektor. Termasuk di sektor pajak perparkiran itu.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Ratih Retnowati mengatakannya tatkala Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Labuhanbatu melakukan kunjungan kerja (kunker) ke DPRD Kota Surabaya di jalan Yos Sudarso, Genteng, Surabaya, Jawa Timur, Senin (27/8) lalu.
Dia mengatakan potensi PAD di Pemkot Surabaya diantaranya pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, reklame, Pajak Penerangan Jalan (PPJ). Kemudian, pajak parkir, pajak air dan tanah, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
“Pajak  Hotel dan Restoran serta PBB menjadi penyumbang PAD di Pemkot Surabaya,” kata dia.
Tambah Ratih, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya melalui hasil pajak daerah 2018 naik menjadi Rp 4,712 Triliun. Upaya mengenjot perolehan PAD, pihak DPRD Pemkot Surabaya, selalu mendorong dan mengevaluasi kinerja pihak Pemkot setiap 4 bulan sekali. “Sehingga Tupoksi OPD dapat optimal,” jelasnya.
Dalam kunker tersebut, pihak Komisi A DPRD Labuhanbatu dipimpin H Ilham dengan kordinator Gunawan Hutabarat, wakil Ketua Komisi, Dipa Topan, Anggota Marisi Ulises, Elya Rosa Siregar, Osman Naibaho, Herlina Hasibuan, Saurina R Pangaribuan, Sarmina Manik, Siti Rohaiyah, Saptono, Kamaluddin Rambe dan didampingi sejumlah staf.
Apa korelasi tugu Surabaya dengan Kabupaten Labuhanbatu? Terinspirasi dengan eksistensi sejumlah patung di sana, Pemkab Labuhanbatu juga dinilai laik untuk melakukan hal serupa. Yakni membangun sejumlah tugu ikon Labuhanbatu. Misalnya, tugu Nenas Pane. Dan Ikan Terubuk bersanding Udang Galah.
Sejumlah material tersebut dapatlah mewakili diri daerah Labuhanbatu. Benda-benda itu, ikon daerah yang beribukota Rantauprapat ini.
Pembangunan Tugu itu mendapat dukungan dari salahseorang anggota DPRD Labuhanbatu, Dipa Topan.
“Pantas juga dibangun patung sebagai ikon Pabuhanbatu,” ujar politisi Partai Gerindra Labuhanbatu itu, Selasa (11/9) di Rantauprapat.
Sejumlah titik strategis dapat dijadikan lokasi pembangunan fisik patungnya. Ambil contoh, kata dia di kawasan lapangan Ika Bina Rantauprapat. Dan, areal pembangunan Kolam Renang yang tak kunjung terealisasi.
Diyakini, warga pendatang yang sekedar melintas akan menyempatkan waktu singgah rehat diri sembari mengabadikan poto kenangan di sana.
Namun dalam pembangunannya, percayakanlah kepada pihak kontraktor profesional melalui proses lelang kerja. Tujuannya, agar terbentuk fisik patung terbaik. Bukan justru benda yang tak bernilai seni.
“Pekerjaan pembangunannya agar mengutamakan kualitas. Agar nantinya tercipta patung terbaik. Bukan malah terbentuk patung yang justru memunculkan image jelek,” tandasnya.
#OM H5
Berikan Komentar