Sihir Kumpulan Pak Pong Medan

oleh
Penampilan grup Pak Pong Medan di ajang Parade Teater Daerah Ke-7 TMII, 13 Juli 2018

Panggung seluas 99 meter itu, tiba-tiba seperti menyihir, dan membetot, ketika sosok Amir Nasution, sang sutradara, dengan tongkat di tangan, bagai Tok Pawang yang merapal mantera, menyampaikan rangkaian pantun, pembuka lakon “Datuk Syah Bandar”. Ruang pertunjukan senyap sekonyong-konyong. Menyimak pukau kata demi kata, yang berlompatan memenuhi atmosfir imajinasi. Tak membutuhkan waktu lama, permainan pun segera bergulir. Para tokoh, dengan lagaknya masing-masing, tak menyiakan waktu, ber-‘tik-tok’ piawai. Melemparkan metafor, yang seperti tersimpan di rahim bertahun-tahun.

Saya merasa, tiba-tiba seperti di Taman Budaya Sumatera Utara. “Ini Medan, Bung!” seseorang berbisik dikegelapan, di sebelah saya. “Sedaap!”, celetuk penonton di belakang saya, seperti bersendawa, menikmati sajian yang amat langka. Gelak geli penonton, nyaris tak putus. Waktu 24 menit, langsung tamat, usai Datuk kita menyampaikan maklumat. Gendang ronggeng menutup, dan lampu-lampu meredup. Di balkon kehormatan, dua juri yang saya kenal, Yanusa Nugroho dan Jose Rizal Manua, tampak bahagia.

Pentas ini mengulang momen 32 tahun lalu, ketika rombongan seniman ronggeng dari Medan, bersama Juliet Ja’far memainkan Panglima Nayan di panggung yang sama, perhelatan yang sama. Di sudut ruang, saya tercenung. Alangkah jauhnya waktu yang terentang. Saya tak bisa menahan perasaan.

Menyaksikan para sahabat “Kumpulan Pak Pong Medan” dari kejauhan, saya seperti menyaksikan epik. Yang mengalir deras. Cerita boleh sederhana. Tapi saya melihat sesuatu yang tidak sederhana. Melihat Amir dengan tongkatnya, Sahrial Pelani yang Mak Yal, Syaiful Amri, dan kawan-kawan, para seniman yang berpuluh tahun berteater, ‘bergucuh’, berimprovisasi (sesuatu yang hanya dipersyaratkan bagi aktor teater rakyat dengan ratusan jam mentas), di panggung prosenium Taman Mini yang amat mewah pada zamannya itu, pikiran saya malah menjadi ‘beringas’, berdenyut seperti menyimpan bisul yang hendak pecah.

Di panggung itu saya melihat api. Yang seperti tak ingin padam. Durasi pertunjukan yang amat ringkas, justru menyulut ingatan saya pada tahun-tahun riuh-rendah tumbuh kembangnya kelompok teater di Medan, yang memuncak pada akhir tahun 70-an. Melemparkan imajinasi saya tentang teater tradisi seperti menora, makyong, mendu, dan bangsawan, yang pernah hidup di Serdang dan sekitarnya. Yang kepunahannya tinggal menghitung hari saja.

Dan api yang menyala di panggung itu, dengan denyut yang tak teratur, bagi saya merambatkan kejutan artistik, intelektual, moral, sekaligus juga spiritual yang membuat saya merinding dan pucat. Tiba-tiba saya melihat Hang Jebat yang menghunus keris, melintas, berlari-lari masygul, lalu terjerembab karena ditebas asam urat.

Ya, meski ringkas, saya melihat sebuah epik di pertunjukan semalam. Saya merasa terhanyut ditengah drama, di dalam dan di luar panggung. Seperti membaca Odyssey, sepanjang 15.700 baris yang ditulis Homerus, ribuan tahun lalu. Dakhsyat, berani, tipikal, dan menawan! Pertanyaan yang menggerunyam di jidat saya, seperti juga Odyssey, atau Hikayat Hang Tuah, misalnya, apakah teater ini masih akan dibaca, dikaji, ditonton, dan mendapat tanah dan air dan udara? Apakah ia hanya akan menjadi tumpuan rindu dendam tak berbalas, dari khalayak, maupun pemangkunya. Perjuangan untuk apa, jika sekiranya lampu panggung sudah dipadamkan, dekor sudah digudangkan, dan poster maklumat pertunjukan sudah berpindah ke gerobak pemulung?

Barangkali, di tengah panggung teater yang mati suri di Medan, dan malah di semua kota di Sumatera Utara panggung reot itu sudah terkubur lama, kita masih boleh berharap. Saya melihat api yang tak kunjung mau mati itu. Dan kehadiran para pemangku budaya di Taman Budaya Sumut, serta, tentu saja, sosok fenomenal Wan Hidayati, dan Baharuddin Saputra, menjadi oksigen segar yang melegakan, sekaligus membakar.

Sebagai saksi atas momentum sejarah perteateran semalam, patutlah saya menyusun tabik dan menjura dengan rasa hormat yang dalam kepada seluruh awak “Kumpulan Pak Pong Medan”, yang sudah membuhulkan nyali untuk datang ke TMII. Bukan soal bertanding, beradu taring, melawan rombongan yang datang dari Aceh, Riau, Jakarta, Jawa Timur, Jogjakarta, dan lainnya itu. Bukan. Karena, menurut saya, taring mereka, anak-anak Medan itu, sudah lama terasah tajam, runcing, dan berkilau. Tapi, yang utama adalah keberanian menjadi ‘merdeka’, seperti ujar Rizaldi Siagian, pada diskusi kemarin petang di meja kedai Kak Ida, di belakang rumah Siwaluh Jabu Karo, Anjungan.

Tabik khusus kepada Tuan Sutradara, Bang Amir dengan properti tongkatnya, ‘akting’ yang real, mendedahkan haru. Serta Mak Yal, dan sahabat di belakang layar, Retno Kampoeng!

Tabik yang istimewa kepada Bu Wan Hidayati, Bung Deni, dan Bu Sari, Bu Dilinar Adlin, dan para sahabat dari Tim Taman Budaya Sumatera Utara, Iwan Amry, dkk. yang sudah membela Kumpulan Pang Pong Medan selama ini, di antara hujan dan angin, dan malam-malam ronggeng yang hangat, serta bertungkus-lumus memperjuangkan sejumlah ongkos yang mahal untuk para seniman idealis itu.

Kepada Tim Anjungan Sumut TMII, Dede Rasyid Dede, Gunin, dkk, Komunitas Ronggeng Deli, Herman Lunk, Sofy Saca, Iyus Akordeon, Devin, Ryan, Pak Soerachmad Soeryodibroto, serta Tim OB Anjungan merangkap pengelola properti, konsumsi, dan akomodasi di rumah Datuk Labuhan, Anjungan Sumut: Kang Bacil, mas Wisnu, Cepoy, Ahmad, Budi, dkk. Kepada Kak Ida Adinda Dewiany Nasution, yang ikhlas sajiannya yang sedap boleh di-“makdul” alias dimakan dulu. Bu Pri, mBak Endang, dan Mama Aziz, tim logistik kopi asongan yang setia menyajikan teh, kopi, popmie, untuk para seniman yang berkumpul di Anjungan.

Tabik dengan hormat juga kepada para tokoh yang hadir, anak-anak Medan yang peduli pada Pak Pong Medan: Bang Rizaldi Siagian, Kak Adek Wadoed Rizaldi, sang aktor Teuku Rifkana alias Wika si anak Siantar, Ketua Ikatan Keluarga Tanjung Balai sahabat yang gembira dan selalu bergerak bersemangat, Pak Sabaruddin Ucok, Teddy Mihelde Yamin, Bunda Ira Gangga, Kak Nani Tandjung, dan Bang Sutarno dua pasangan dedengkot Teater Kail, Johan Syah, dkk dari Rumah Sepanggung, yang hadir menyaksikan Datuk Syah Bandar, dan meramaikan diskusi hangat petang hari Jumat semalam.

Kepada Manajer Budaya TMII, mBak Ertis Yulia Manikam, yang tak bosan bertanya: “Mana utusan dari Sumatera Utara, Pak?” Kepada Tim Juri, Pak Yanusa Nugroho, dan Bang Jose Rizal Manua yang amat mumpuni dan profesional.

Juga kepada semua sahabat, sejawat, yang tak tersebutkan namanya satu persatu. Tabik dan salam!

TATAN DANIEL

 

 

Berikan Komentar