Wasekjen PKB: Filosofi Jawa Mampu Rekatkan Indonesia

oleh
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga Caleg DPR RI Sumut 1 Dita Indah Sari disambut sebelum acara Gelar Budaya Suro Sanggar yang diadakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam, Muharram 1440 H, Minggu (30/9/2018) sore. OkeMedan/ist

OkeMedan – Lubuk Pakam. Masyarakat Jawa dimanapun berada sangat menghargai budayanya. Masyarakat Jawa, juga memiliki filosofi yang mampu merekatkan Indonesia.

Hal itu dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dita Indah Sari dihadapan ratusan warga masyarakat Jawa yang berasal dari perwakilan-perwakilan sanggar budaya se Kabupaten Deliserdang, FKPPAI, PANDAWA Deliserdang, Gemilang dan Gatot Kaca serta masyarakat setempat, pada acara Gelar Budaya Suro Sanggar yang diadakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam, Muharram 1440 H, Minggu (30/9/2018) sore, di Sanggar Seni Tari Langgeng Budoyo, Desa Pasar 5 Kebun Kelapa, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang.

Dita Indah Sari yang juga caleg DPR RI dapil Sumut 1 dari PKB ini menjelaskan, filosofi Jawa yang mampu merekatkan Indonesia seperti pribahasa ‘Sugih tanpa bondho’ (kaya itu tak mesti karena banyak uang.

Artinya seseorang itu disebut kaya tak mesti ia karena memiliki uang banyak, tapi bisa juga karena banyak teman, sahabat dan banyak amalnya sehingga ia merasa kaya.

Kemudian pribahasa ‘Digdaya tanpa aji’ (hebat tanpa menguasai). Orang hebat itu tidak mesti karena dia berkuasa, fisiknya kuat dan lainnya, tapi bisa juga karena cerdas, berwibawa dan dipercaya.

“Ada lagi pribahasa ‘Ngluruk tanpa bolo’ (menyerang tanpa pasukan). Falsafah ini mengajarkan kita harus mampu mempertahankan diri dalam menghadapi semua ancaman bahaya. Tapi dalam mempertahankan diri tanpa harus keroyokan dan ribut-ribut,” katanya.

Dan falsafah yang terakhir, kata Dita adalah ‘menang tanompa ngasorakke’ (menang tanpa mengecilkan yang kalah. Artinya masyarakat Jawa itu sangatlah toleran dan menghormati orang lain, meski musuhnya sekalipun.

“Itulah kenapa, masyarakat Jawa itu dikenal akan kelemah lembutannya, selalu belas asih dan asuh. Memnag saya bukanlah orang Jawa. Sebab ayah saya Padang, ibu saya Ambon, dan saya lahir dan besar di Medan. Tapi setelah menikah saya mendapatkan suami Jawa, sehingga sedikit banyak saya juga mengenal adat istiadat suku Jawa,” ujar Dita.

Karenanya, ia mengaku senang warga Jawa yang telah lama tinggal di Sumatera, tapi masih setia dengan tradisi suroan. Tradisi ini memang hampir rata diperingati oleh masyarakat Jawa. Dan di setiap banyak tata cara yang dilakukan untuk memperingatinya.

Di Klaten misalnya, merayakan suroan dengan puasa. Di Lumajang dikenal larung kendem, kepala kerbau, di Banyuwangi tradisi nya sapi sapian.

Sedang di Temanggung tradisinya kacar kucur dan grebek suro di Ponorogo, serta gunungan di Yogyakarta.

“Intinya, peringatan Muharram atau Suroan dalam masyarakat Jawa ini adalah untuk minta berkah dan menyampaikan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa,” tutur Dita, sembari menyatakan dia merasa bersyukur diundang dalam acara ini dan memohon dukungan dari masyarakat Deliserdang karena ia maju sebagai caleg.

Ketua Sanggar Seni Tari Langgeng Buduyo yang juga Ketua Panitia gelar budaya Suroan, Agus Widodo menyatakan, kegiatan ini digelar selain sebagai kegiatan rutin tahunan yang mereka gelar memperingati Tahun Baru Islam, juga sebagai bentuk dukungan kelompok masyarakat dan sanggar budaya se-Kabupaten Deliserdang kepada Dita Indah Sari sebagai caleg DPR RI dapil Sumut 1 dari PKB.

“Kami mendoakan dan mendukung Ibu Dita Indah Sari sebagai anggota DPR RI. Kami juga mendoakan ibu sehat-sehat selalu dan mampu menjalankan tugas-tugas keseharian ibu. Kami hanya berpesan, bila nantinya berhasil agar tetap selalu memperhatikan kami dan mendukung kelestarian budaya Jawa sebagai budaya Indonesia,” ujarnya.

Usai acara, perwakilan warga yang berasal dari kelompok organisasi Gatot Kaca, kemudian memberikan sumbangan berupa dana kepada Dita Indah Sari, dengan mengatas namakan dari seluruh kelompok sanggar budaya se Kabupaten Deliserdang. Meski Dita berusaha menolak, namun warga memaksa dan menyatakan sumbangan dana itu adalah sebagai bentuk kontrak masyarakat budaya Jawa kepada Dita untuk memperjuangkan kelestarian budaya di Indonesia. OM ZA 

Berikan Komentar