Kaset Lagu Audio, Dulu Bagian dari Gaya Hidup Lho..

oleh

OkeMedan-Medan

Masih ingat dengan kaset lagu audio? Sampai sekarang sebenarnya masih beredar, hanya saja tidak semarak di era 80-an dan 90-an. Saat itu boleh dibilang masa keemasan kaset audio. Banyak sekali toko-toko kaset di kota-kota besar.”Kaset adalah bagian gaya hidup pada waktu itu,” kata Diurnanta, seorang kolektor kaset di Medan.

Di Medan, salah satu toko kaset yang sangat populer kala itu adalah ET 45. Toko ET 45 ada di sejumlah pusat perbelanjaan seperti di Perisai Plaza, Medan Plaza, Thamrin Plaza, Buana Plaza, dan juga pernah ada di Aceh serta Pekanbaru. Sampai kini ET 45 masih eksis  baik sebagai pengecer maupun distributor di jalan Mangkubumi Medan dengan menambahkan koleksi DVD orisinal, piringan hitam , blue ray yang berkualitas audiophille.

Selain itu dulu ada Eddy  Cassette dan Pan Audio di lantai 1 Medan Plaza yang sudah tinggal kenangan. Di Deli Plaza  Pan Audio. Di Jalan Bandung depan bioskoip Juwita pernah ada Toko kaset Era, dimana konsumen pertama kali self service, memilih sendiri dan mendengar sendiri lewat headphone.

Di Jalan Zainul Arifin, juga ada toko kaset popular seperti Mahayana di jalan Mahayana dan toko Sony di seberang Bioskop Metro. Demikian juga di pusat perbelanjaan tradisional seperti Pasar Petisah, Pasar Ramai, pokoknya dimana-mana pasti ada toko kaset.

Para penggemar dan konsumen kaset datang dari segala usia, karena genrenya juga bermacam-macam. Mulai dari lagu anak-anak sampai lagu klasik.

Kaset audio menggunakan pita magnetic coklat kehitaman, fisiknya segi empat dengan dua roda yang dipisahkan kaca plastik transparan yang memungkinkan kita melihat pita di dalamnya saat dipasang di alat pemutar yang dikenal dengan sebutan tape recorder.

Dibandingkan piringan hitam yang lebih dulu hadir terutama di rumah-rumah orang kaya, kaset audio lebih tahan dan lebih murah.  Sejak akhir 70-an, kaset audio menggeser dominasi piringan hitam dari rumah-rumah dan pada pertengahan 80-an menggeser dominasi piringan hitam di stasiun radio-radio siaran swasta.

Di Indonesia, kaset audio lagu Barat pada mulanya produk bajakan. Semua lagu yang hits di Amerika dan Inggris dibajak dan diproduksi secara massal oleh perusahaan rekaman. Tetapi setelah diributi oleh artis Bob Geldof penggagas gerakan kepedulian pada korban kelaparan di Afrika, `We are the World, maka sekmua kaset lagu Barat bajakan dilarang beredar. Kemudian Indonesia ikut konvensi hak cipta dan tidak lagi dikenal sebagai negara pembajak hak cipta seperti yang dituding. Jadilah pada tahun 1987, semua produk kaset bajakan selama ini ditarik dan digantikan dengan kaset berlisensi dimana hak cipta dihargai.

Di Indonesia , kaset kaset artis nasional banyak diproduksi oleh Remaco sejak awal 70-an, demikian juga Irama Tara dan Atlantic Record. Selain itu juga pada pertengahan 80-an hingga akhir melejit nama Virgo Ramayana Record, Lollypop,  Pan Audio, Saturn, Musica Studio, Purnama Records, Billboard, Hin`s , Alpine, Yess, Perina, Goilden Bridge, Contessa, Kings, Granada, dan lain-lain. Di Kota Medan juga ada studio dan produser rekaman yang terkenal mengorbitkan artis lokal seperti Robinson Record di kawasan Jalan Sutomo Medan.

Penjualan dan peredaran kaset audio pada masa kejayaannya sangat mengesankan. Setiap pekan selalu ada rekaman baru dan banyak artis diuntungkan dari penjualan kaset.

Untuk mempromosikan lagu yang dirilis, perusahaan rekaman dan artis menggelar roadshow mengunjungi stasiun radio di kota kota besar di tanah air. Selain itu, stasiun radio juga selalu dikirimi sample kaset secara gratis agar diputar di radio tersebut.

Pada masa itu pula, kaset audio menjadi produk lifestyle yang prestise. Budaya pinjam meminjam kaset mewarnai masa itu. Siapa yang duluan mengoleksi kaset artis tertentu akan merasa prestise apalagi jika artisnya idola orang banyak. Demikian juga stasiun radio, yang duluan memutar kaset baru biasanya dipandang lebih oleh yang lain dan banyak pendengar akan menyukai radio yang cepat ada lagu baru. Di awal 80-an Sony mengeluarkan walkman , semacam tape recorder mini sebesar tapak tangan tetapi menggunakan headset dan dipakai untuk jalan-jalan, digantungkan di pinggang.

Pada akhir 70-an harga satu kaset Indonesia masih Rp 800 (delapan ratus rupiah). Pada awal 80-an, kaset-kaset di kisaran Rp 1000 sampai 1500. Di era pertengahan 80-an  naik jadi kisaran Rp2000 sampai RP 2500. Ketika kaset berlisensi keluar di akhir 80-an, harga satu kaset dari Rp 3500 sampai Rp 4500.

Kemasan kaset pun berubah-ubah. Mulai dari cover kertas lux di dalam kotak, lalu berubah cover tebal di bagian luar bahkan pernah memakai sarung cover lagi agar lebih awet.

Masa keemasan kaset audio mulai merosot setelah muncul Video Cassette yang lebih dikenal VCD, dan semakin terpuruk setelah muncul dunia internet dimana orang mudah memutar dan merekam dari situs situs gratis hingga kemudian semakin populernya Youtube. Apaboleh buat, bisnis dan minat terhadap kaset audio pun mulai ditinggalkan.

Namun, akhir-akhir ini, ada kerinduan di sebagian masyarakat untuk menikmati kembali kaset audio. Kaset kaset bekas diburu sebagai barang antik dengan harga yang tinggi. Mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp100 ribu. Dan secara kualitas suara, kaset audio lebih berjiwa ketimbang mendengarkan dari MP3.

DN Putra

 

 

 

 

 

Berikan Komentar